KATA PENGANTAR
Alhamdullah, pengabdian masyrakat ini dapt diselesaikan, walaupun dihambat oleh kendala ketersediaan dana dan jarak yang jauh antara Bangko ke Sungai Tenang, Jangkat namun akhirnya kegiatan dapat beerjalan sesuai dengan rencana. Keterlambatan pelaporan hanyalah karena tidak tersedianya prasarana yang memadai didaerah pengabdian dilakukan, selain kendala Jarak yang cukup Jauh dari Bangko yakni sekitar 118 Kilometer dengan kondisi jalan yang kurang baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh fihak yang telah membantu dalam pelaksanaan pengabdian ini, antara lain,
- Kopertis Wilyah X Padang yang telah memberikan pelatihan dan pendanaan sebelum pengabdian ini dilakukan.
- Ketua STKIP YPM Bnagko yang telah memberikan izin selama pengabdian ini dilaksanakan hingga pelaporan.
- Ibunda Elva Dra. Eriyani Mpd, yang terus memberi tegur sapa demi kemajuan penul;is dalam mengasah kreatifitas intelektual selama berada di Bangko.
- Kanda Uning yang telah memberi support Semangat dan teguran berkaitan dengan proses pegabdian ini sehingga menjadi “cambuk” bagi penulis menyelesaikan pengabdian ini.
- Ibu Dr. Yurniwati SE, MS. sebagai pembimbing dengan nafas keibuan yang setia membimbing penulis walaupun dari jarak jauh.
- Semua fihak yang tak dapat disebutkan satu persatu namun memiliki andil dalam pelaksanaan pengabdian ini.
Pada ujung paparan ini penulis minta maaf kepada semua fihak yang terkorbankan karena keterlambatan laporan ini. Ini bukan kesalahan yang disengaja melainkan, ada hal-hal tekhnis berkaitan dengan jarak dan keadaan alam di lokasi yang menyebabkan penulis kesulitan menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Demikianlah, semoga pengabdian ini bermanfaat bagi kita semua terutama dalam duni pendidikan dan sastera daerah.
Bangko, 28 Agustus 2009
DAFTAR ISI
| Bab I Pendahuluan Bab II.Tinjauan Pustaka Bab.III.Materi Dan Metode Pelaksanaan Bab.IV.Hasil Dan Pem-bahasan Bab.V.Kesimpulan dan Saran · Lampiran: · · Foto Kegiatan · Absen Kegiatan · Draf Karya Ilmiah Materi Kegiatan | 1.1 Analisis Situasi 1.2 Tujuan dan Manfaat 3.2. Efektifitas Kegiatan 3.3 Khalayak Sasaran 3.4 Metode yang Digunakan 4.1. Analisis Umum 4.2 Faktor pendorong 4.3 Faktor Penghambat 4.3 Faktor Penghambat 4.4. Jalannya Kegiatan 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran | 11 11 33 24 7 77 77 77 88 110 1 112 114 114 116 120 120 |
BAB
PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Lokasi pengabdian ini berada didaerah yang jauh dari akses kota bangko.jarak antara Bangko-Sungai Tenang sekitar 120 Km. bila melalui TNKS dan 105 KM bila melalui Tanjung Dalam dengan cara berbelok di ke kanan di Lembah masurai.Sulitnya akses menuju tempat tersebut sudah banyak diketahui. Beberapa Media baik daerah maupun pusat telah menulis tentang situasi tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh beberapa sumber yang penulis himpun dari berbagai media sebelum perjalanan menuju lokasi dilakuan. Memang daerah Jangkat berada diwilayah TNKS yang selalu dijadikan alas an mengapa akses jalan ketempat tersebut selalu tekendala pembangunannya. Namun kenyataan yang sebenarnya daerah ini memang berada di kaki gunung Masurai yang alamnya berbukit-bukit dan sulit untuk dibuka.
Sebelum 1982, praktis tidak ada jalan, kecuali jalan setapak, yang menghubungkan desa ini dengan ‘dunia luar’.Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunialuar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikanhubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci.
Bahkan, salah satu kepala desa (kades) dari kecamatan yang relative ‘bertetangga’, yaitu kecamatan Sungai Manau, menyatakan bahwa ia belum pernah ke Jangkat. Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunia luar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikan hubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak
diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci. (Fahmi, 2009)
Kondisi lain yang cukup menarik adalah keyakinan kepada dunia supranatural, satu dari 2 marga di kecamatan ini, yaitu marga Serampas, dikenal sebagai tempat berguru. Konon, salah seorang penasehat spiritual Presiden Soekarno, berasal dari marga Serampas ini. Desa studi kasus ini tidak termasuk marga Serampas, melainkan marga Sungai Tenang. Konon, dalam tradisi lisan masyarakat setempat, kedua marga ini masih ‘bersaudara’, dengan marga Serampas sebagai ‘saudara muda’ (Marsden, William. 1999.) dalam buku Sejarah Sumatera. Penerjemah A.S Nasution dan Mahyuddin Mendim dari History of Sumatra (1811dalam Fahmi: 1999).
Sumber lain Infojambi.com merilis sebagai berikut, Nasib masyarakat di Desa Renah Kemumu Kecamatan Jangkat hingga saat ini masih memperihatinkan. Karena ruas jalan menuju ke desanya masih terkendala oleh Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Oleh karena itu, mereka sangat berharap kepada pemerintah untuk dapat membangun jalan menuju ke sejumlah desa di eks Marga Serampas, Kecamatan Jangkat. Jangan ada lagi alasan terkendala TNKS……Sementara TNKS terus juga habis dijarah dan dirusak oleh pendatang dari Pagal Alam, Sumsel dan dari daerah lainnya. Sementara masyarakat asli di Jangkat dan Lembah Masurai malah dilarang untuk membuka lahan untuk membangun kebun kopi dan pertanian lainnya. Sumber : Senin, 16 Februari 2009 08:16 (infojambi.com/NDI)
Saat ini kondisi terisolirnya daerah-daerah tersebut diakibatkan buruknya infrastruktur jalan yang pernah dibangun pada tahun 1980, khusus untuk daerah Sungai Tenang saat ini harus ditempuh dalam waktu 9 Jam dengan kendaraan Bermotor dengan menembus jalan Tanah dari lembah Masurai. Dan 14 Jam bila memutar melewati TNKS.Daerah Sungai Tenang adalah sebuah wilayah kecamatan yang berada di kabupaten Merangin yang dulunya tergabung dengan Kecamatan jangkat yang berada di Muara
Didaerah ini banyak berkembanga cerita-cerita rakyat misalnya, mitologi Putri Bungsu, Kisah Depati Empat dan Legenda Danau pauh. Cerita- cerita rakyat adalah potensi kesusastraan nasional yang harus tetap dijaga. Karena demikian gencarnya perkembangan tekhnologi informasi saat ini cerita rakyat bias saja akan tenggelam dan tidak dibicarakan lagi.Berkaitan dengan kepentingan pelestarian sastra daerah, juga dikaitkan dengan tuntutan peningkatan kualitas menulis bagi guru-guru di sekolah dasar dan menengah maka dipandang perlu memberikan pelatihan menulis karya drama dengan menggunakan sastra daerah sebagai bahan baku.
Dengan mempertimbangkan kepentingan pelestarian sastra daerah dan materi pengajaran sastra berbasis budaya serta kepentingan pengenalan sastra daerah sejak didni kepada para siswa sekolah dasar dan menengah maka dengan pelatihan ini diharapkan para guru memiliki kemampuan uantuk mengajarkan drama daerah yang ditulisnya sendiri sebagai bahan pengayaan disekolah-sekolah ataupun sebagai pelengkap materi muatan sastera local.

1.2 Tujuan dan Manfaat
A. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk :
1. memberikan keterampilan menulis drama kepada guru-guru Bahasa Indonesa didaerah Sungai Tenang.
2. Melestarikan cerita rakyat yang berkembang dilingkungan setempat.
B. Pengabdian kepada masyarakat ini bermanfaat untuk :
1.Meningkatkan pengetahuan para guru tentang tekhnik mengembangkan gagasan dengan bahan
2.Pelestarian budaya berupa sastra rakyat melalui pengajaran di sekolah-sekolah sebagai bahan pengayaan pada bidang tudi Bahasa dan sastra atau muatan local.
4. Terealisasinya Program Tri Dharma Perguruan Tinggi
5. Terjalinnya komunikasi ilmiah antara STKIP dan masyarakat.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Erwin Fahmi Juli 2002 menjelaskan tentang pola budaya dan sejarah Jangkat dalam dalam Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi yang diberi judul, “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” ia merilis sebagai berikut,…Persengketaan tanah ladang antara pihak ‘jantan’ dari Kalbu Rajo Nan Pute dengan pihak ‘betino’ dari kalbu Pado Garang, di dusun Tinggi, tahun 1998. Lahan sengketa adalahlahan garapan si ‘jantan’ keturunan dari Pado Garang yang kemudian kawin dengan ‘betino’dari keturunan Rajo Nan Pute. Karena perkawinan ini dan sesuai adat desa tersebut, “jantan’menjadi anggota keluarga Rajo Nan Pute, dan selama hidupnya ia tetap menggarap lahan pemberian orang tuanya tersebut. Sengketa muncul setelah si ‘jantan’ meninggal dunia. Si ‘betino’ dari Kalbu Pado Garang (saudaranya si ‘jantan’) menggugat lahan tersebut sebagai lahan milik kalbunya. Karena tidak dapat diselesaikan oleh kedua keluarga, kasus ini kemudian dibawa ke musyawarah Gedang Bertigo2 untuk diselesaikan. Gedang Betigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan Kalbu Rajo Nan Pute. Hasil musyawarah:• Keluarga Pado Garang melepaskan lahan warisan orang tua si ‘jantan’ tersebut kepada keluarga Rajo nan Pute • Sebagai ucapan terima kasih keluarga Rajo nan Pute memberikan satu kapling tanah rumahkepada keluarga Pado Garang, dalam hal ini saudara perempuan si ‘jantan’. (Fahmi: 2002)
Pengambilan keputusan dalam musyawarah ini adalah Gedang Betigo dan ditandatangani olehkedua belah pihak yang bersengketa dan 2 orang saksi, serta diketahui oleh Gedang Bertigo danKepala Desa. Landasan proses penyelesaian ini adalah adanya kepercayaan terhadap kearifan Gedang Bertigo untuk menyelesaiakan persoalan. Penanganan persoalan melalui mekanisme adat, baik persoalan 'ke dalam'maupun 'ke luar', biasanya dilakukan berdasarkan pengaduan salah satupihak. Atas dasar pengaduan itu, perangkat pemangku atau kepemimpinanadat kemudian menjalankan tugasnya, baik menegur pelanggar melalui tuotengganainya,untuk kasus sederhana, maupun memanggil dan/ataumenyidangkannya (oleh suatu dewan tetua adat dan tuo tengganai pihak-pihakyang bertikai), untuk persoalan yang kompleks. Persoalan yang melibatkandesa lain, karena tidak sepenuhnya berada dalam yurisdiksi satu masyarakatadat, maka ditanggulangi melalui musyawarah antarpemangku adat. Dalam kasus banjir yang mengakibatkan bergelimpangannya balok-balok kayu di desa Koto Depati yang, menurut pengadu (desa Koto Depati), diakibatkan oleh penebangan hutan di hulu sungai oleh warga desa Simpang Kayu, maka penyelesaiannya dilakukan dengan melibatkan 'lembaga adat' tingkat kecamatan, yang dalam hal ini adalah lembaga kecamatan3 itu sendiri. Seperti disinggung di depan, memang tidak di semua desa kajian system pengaturan dan pengurusan menurut adat masih kuat. Secara umum dapat dikatakan makin mendekati dataran rendah (sebagai pusat institusi Negara dan modal), kekuatan sistem pengaturan dan pengurusan adat ini semakin lemah. Atau, dapat pula dikatakan, semakin terbuka jalur transportasi, meluasnya pergaulan sosial atau bahkan asal usul warga dan beragamnya 2 Gedang Bertigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan KalbuRajo Nan Pute…dalam sumber yang sama Fahmi di bagian lain: Koto Depati. Sebagai kepala pemerintahan, diangkatlah kepala desa (kades)pelaksanaan uji coba, yang bekerja dari 1980 – 1982, sebelum dipilihkepala desa definitif.
Pada saat itu, yang menjalankan tugas kades uji cobaadalah Pak S, kades sekarang setelah terpilih kembali pada 1993.Dampak penting pemberlakuan UU yang disebut terakhir terjadi setelah1982. Pada 1982 itu, terpilihlah sebagai kades Pak Arif. Berlainan denganpada masa uji coba, pemberlakuan UU 5/1979 pada masa ini telahdidorong lebih jauh, yaitu dengan menempatkan kades sebagai kepala pemerintahan, dengan tanggung jawab meliputi: bidang pemerintahan,pembangunan, kemasyarakatan dan urusan pemerintahan umum,termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban (Penjelasan Umum butir6). Dengan kata lain, sebagaimana berlaku di tempat-tempat lain, kadesmerupakan penguasa tunggal di desa (Jatiman 1995: 239). Demikianlah,maka konsekuensi dorongan tadi adalah ‘diturunkannya’ jabatan DepatiGento dari tingkat desa (dulu dusun) menjadi tingkat dusun…Pola pemerintahan yang rapi sudah pernah ada di Jangkat sejak dulu sebagai mana Djakfar dalam Fahmi (1992: 19) meenulis bahwa sampai awal abad ke-20, masyarakatMarga Sungai Tenang telah hidup dalam suatu konfederasi dengan marga tetangganya, yaitu “…satu kesatuan hukum adat di bawah pemerintahan yang berdaulat penuh, yang dikenal dengan nama Negara Depati Empat Alam Kerinci (NDEAK)”. Pemerintahan NDEAK terdiri atas 7 tanah depati, yaitu masing-masing 4 di Kerinci Tinggi dan 3 di Kerinci Rendah. Marga Sungai Tenang dan marga Serampas mendiami tanah Depati Rencong Telang, bersama warga kecamatan Gunung Raya, sebagian kecamatan Gunung Kerinci. (William. 1999.)
BAB III.
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN
3.1 Kerangka Pemecahan Masalah
Berbagai potensi tersebut di atas akan terealisasi dengan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana metode yang akan ditempuh agar para guru mampu menulis drama dengan basis sastera daerah.
2. Bagaimana guru dapat menjadikan karya drama yang dibuatnya itu sebagai materi pengajaran sastera atau Mulok.
3.2 Realisasi Pemecahan Masalah
Dalam pemecahan masalah ini dilakukan metode sebagai berikut:
- melakukan pengarahan tentang metode pengembangan ide yang bersumber dari cerita rakyat menjadi kerangka cerita berbentuk prosa.
- Mengajak peserta menentukan tokoh cerita dan posisinya dalam lakon.
- mendeskripsikan konflik antar tokoh.
- menyusun drama.
3.2. Efektifitas Kegiatan
Sebelum perlakuan Bimbingan
Peserta kesulitan menyusun dialog dan komlikasi antar tokoh dalam cerita
Setelah perlakuan Bimbingan
Peserta telah mampu menyusun cerita rakyat menjadi karya drama.
Pemeriksaan Hasil Kegiatan
Evaluasi Awal
Penugasan peserta menyusun karya drama dengan sumber cerita rakyat.
Evaluasi Proses
Melihat efektifitas penerapan keterampilan yang diperoleh peserta apakah memang mampu memberi kontribusi sebagai materi pengayaan pelajaran sastera dan muatan local di sekolah-sekolah. (dalam proses pelaksanaan).
Evaluasi Akhir
Pemeriksaan peserta berkaitan cerita rakyat dengan menyebar angket (dalam proses pengerjaan)
3.3 Khalayak Sasaran
Sasaran pengabdian masyarakat ini adalah guru-guru yang aktif mengajar sastera dan seni di lingkungan kecamatan Sungai Tenang. Baik itu SD SLTP atau SLTA. Dengan demikian maka pada masa pasca uji efektifitas yang ingin dicapai dihadapkan kepada kemampuan mengetahui dan memahami cerita rakyat sesuai dengan apa yang dikembangkan gurunya melalui karya drama yang mereka buat.
3.4 Metode yang Digunakan
Metode kegiatan yang akan dilakukan untuk tercapainya tujuan
Pengabdian Kepada masyarakat ini adalah metode ceramah, diskusi dan
konsultasi. Pada masa pasca uji ini dilihat sejauh amana kegiatan yang diloakukan mampu memberi efek positif bagi perkembangan sastera setempat di sekolah-sekolah.
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Umum4.2 Faktor pendorong4.3 Faktor Penghambat4.3 Faktor Penghambat4.4. Jalannya Kegiatan
Pada tahap awal peserta diberikan penjelasan tentang arah, tujuan dan manfaat kegiatan. Penjelasan tahap awal ini berkaitan dengan pentingnya pelestarian sastera daerah untuk bahan pengayaan dalam pengajaran sastera dan seni. Tahap berikutnya adalah penjelasan contoh-contoh sastera daerah setempat, misalnya cerita Putri Bungsu, dengan motologio Bukit Tungkat, kemudian Deoati Empat, atau Legenda Danau Pauh. Pada bagian berikutnya penjelasan anatomio drama, dilanjutkan dengan konsep ide gagasan, menyusun alur, elemen dramatic kemudian tekhnik penulisan drama. Pada bagian akhir dilakukan evaluasi dengan penugasan.
Pada tahap pasca kegiatan dilakukan observasi tentang efektifitas kegiatan, apakah telah berhasil mencapai sasaran yang diinginkan atau belum dapat tercapai.
4.2 Faktor pendorong
Yang menjadi faktor pendorong dalam kegiatan pengabdian ini adalah :
a. kondisi daerah yang belum banyak terkontaminasi pola fakir konsumtif, dan masih banyaknya cerita rakyat yang berkembang dimasyarakat..
b. Cukup mudah untuk mendapatkan bahan
c. Keingintahuan dari para peserta yang cukup besar terhadap materi pengabdian yang diberikan.
d. Antusiasme dan partisipasi aktif dari para guru untuk mengikuti kegiatan.
4.3 Faktor Penghambat
a. jarak antara guru yang berjauhan, jarak sekolah-sekloah yang berjauhan.
b. sulitnya perjalanan menuju lokasi yang jauh dari Bangko dengan kondisi jalan yang buruk.
4.4. Jalannya Kegiatan
Berdasarkan kondisi saat kegiatan dari tiga puluh undangan yang disebar maka guru yang hadir saat kegiatan hanyalah delapanbelas orang. Dari
1. SD No 184/VI Talang Tembago
2. SD No 46/VI Talang Tembago
3. SD No 234/VI Tanjung Mudo
4. SD 184/VI Talang Tembago
5. SD No 46/VI Kt Teguh
6. SMA N 16 Rantau Suli
7.SD 48/VI Tanjung Alam
8. SD 236/VI Tanjung Alam
9. SD No 60/VI Koto Teguh
10. SMP N 1 Rantau Suli
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan5.2 Saran
Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. peserta memiliki kemampuan menjadikan cerita rakyat sebagai sumber ide membuat karya drama.
2. peserta mampu mengajarkan drama tersebut kepada peserta didik.
5.2 Saran
1.Perlu adanya peningkatan prasarana perhubungan ke lokasi pengabdian untuk memepercepat kemajuan daerah tersebut.
2.Adanya tindak lanjut pelestarian sastera rakyat m,elalui drama oleh guru-guru peserta kegiatan sehigga kegiatan yang telah terlaksana benar-benar memiliki manfaat dalam jangka waktu yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
A.Mukty Nasruddun ” Jambi Dalam Sejarah Nusantara, 1989
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jambi Provinsi Jambi, 1986
Erwin Fahmi Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” Juli 2002
Junaidi T.Noor, Khasanah Budaya Kelautan Provinsi Jambi, belum diterbitkan
Lembaga Adat Provinsi Jambi, pokok-poko Adat Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Jilid II Hukum Adat Jambi, 2001
Oemar Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari. Undang-undang Piagam Pencacahhan dan Kisah Negeri Jambi, 1937
Wiko Antoni S.Sn, Bundel Tugas Mahasiswa Telaah Drama, Aneka Cerita Rakyat Jambi ,Dokumen Perpustakaan STKIP YPM Bangko, 2008.
infojambi.com/NDI Senin, 16 Februari 2009 08:16

Tidak ada komentar:
Posting Komentar