Oleh : Wiko Antoni.
(Dosen STKIP Bangko Pengamat dan Peneliti Komunitas Tater, Penulis, Kritikus, Aktor dan Sutradara)
Bahan Pelatihan hari Pertama
1. Cerita Kakek jadi Drama
1. Pendahuluan
Disekitar kita sering terdengar dongeng, legenda bahkan sejarah sebuah tempat yang diyakini kebenarannya oleh orang-orang tua. Banyak diantara kita yang percaya banyak pula yang menganggap cerita-cerita tersebut tidak masuk akal. Namun pernahkah kita berfikir bahwa cerita-cerita itu adalah asset budaya dan kekayaan sastera yang mesti dilestarikan.
Sebagai seorang guru mungkin kita sering dihadapkan pada kesulitan bahan untuk mengajarkan drama, yang sangat memungkinkan adalah sedikitnya drama yang berkaitan dengan kebutuhan kita, kebutuhan itu adalah (1) Drama yang kita ajarkan harus sesuai dengan tingkat kemampuan daya fakir peserta didik, (2) Harus membumi agar anak-anak tidak kesulitan melakukan interpretasi, (3) memiliki kekuatan dan kualitas cerita yang baik serta memiliki dramatic yang bagus agar mudah diolah menjadi pertunjukan yang bagus.
Sebenarnya tidak perlu bingung untuk semua ini. Dengan cerita rakyat yang ada disekitar kita maka dengan mudah drama yang memenuhi criteria tersebut kita lahirkan. Dengan sedikit perenungan dan kreatifitas bahan baku drama yang dibutuhkan dapat dibuat, hasilnya tentu akan sangat sesuai dengan kebutuhan bahkan selera kita, selain itu akan menjadi kebanggaan karena bahan ajar yang kita gunakan hasil produksi sendiri, sebagai cerminan kita adalah guru yang kreatif.
2. Mencipta Drama Dari Cerita Rakyat
a. Bahan Baku
Bahan baku adalah kebutuhan dasar dari setiap kreatifitas, dalam menngarang drama juga ada kebutuhan bahan baku, dalam konteks ini bahan baku yang dibutuhkan adalah cerita rakyat yang berkembang turun temurun dalam sebuah masyarakat tempat kita bekerja atau mengajar.
Ada dua cara untuk mendapatkan bahan baku, pertama dengan mencari dari buku yang sudah ditulis orang lain, kedua dengan mewawancara orang tua-tua yang banyak mengetahui cerita-cerita rakyat. Bila kita memilih mencari dari buku tentunya perpustakaan adalah tempat yang tepat, namun bagi sebagian orang terutama yang jauh dari kota tentu sulit karena akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit maka pilihan yang baik adalah dengan menemui orang tua-tua untuk diminta bercerita pada kita.
b. Membuat Kerangka Karangan
Membuat kerangka karangan adalah proses penyusunan kerangka cerita. Pada dasarnya cerita yang akan kita olah menjadi drama sudah memiliki kerangka. Dalam penyiapan kerangka karya drama ada ilmu yang harus dimiliki yaitu, ilmu alur drama nah dalam hal ini alur yang popular digunakan adalah alur aristotelean, karena sederhana dan mudah difahami, Alur aristoteles terdiri dari:
Introduksi-ressing aksi-klimaks-resolusi.
Introduksi adalah pengenalan tokoh dan posisinya dalam cerita drama.
Ressing aksi adalah penajaman konflik antara tokoh-tokloh dalam drama
Klimaks disebut juga komplikasi yakni ketegangan terjadi diantara tokoh dalam drama.
Resolusi adalah akhir kisah dimana tokoh-tokoh telah sampai pada nasibnya masing-masing.
Dalam menulis drama yang bersumber dari cerita rakyat boleh digunakan alur yang sudah ada dalam cerita bias juga menciptakan alur baru sesuai selera asal alasannya jelas.
c. Mulai Menulis Drama
Menulis drama berbeda dengan menulis prosa, disini akan dijelaskan pola penulisan drama untuk panggung.
1. Teknik penyampaian situasi.
Dalam prosa penyampaian situasi digambarkan dengan jelas pola deskripsinya menjelaskan dengan detail sesuatu yang akan dilukiskan dalam drama hanya garis besarnya saja, contoh
a. Pola prosa.
Dalam ruangan itu terdapat sebuah lemari kayu usang, disampingnya ada sebuah kursi goyang tua, meja tamu dari rotan terletak ditengah ruangan dengan empat buah kursi rotan yang mengelilinginya dari empat penjuru. Dinding rumah terbuat dari bamboo dengan dan sudah lapuk oleh zaman. Lantai tanah agak basah, sebelah kiri ruangaan ada pintu kekamar ditutupi gorden biru yang sudah usang, Rini terlihat duduk disalah satu kursi, air matanya berlinang…
b. Pola drama
RUANG TAMU, RINI DUDUK DIKURSI ROTAN, AIR MATANYA BERLINANGAN…DST
2. Teknik penulisan dialog.
a. Pola prosa,
Rini melangkah ke pintu depan, menyibak tirai kemudian berkata,
“untuk apa lagi kamu kesini.”
Ridwan tidak peduli dengan ucapan Rini ia segera merangsek masuk kemudian duduk terpekur dikursi rotan yang reot matanya basah,
“maafkan aku Rini, aku mengaku bersalah.”
Rini menatap tajam, hatinya terbakar,
“aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku.”…
b. Pola Drama
Rini : (Menuju pintu) Untuk apa lagi kau kemari!
Ridwan : (Masuk dan duduk dikursi, sedih, menyesal) Maafkan aku Rini aku mengaku bersalah.
Rini : (menatap tajam, marah) Aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku…
3. Karakteristik Drama Panggung
Berbeda dengan prosa, baik cerpen maupun roman, drama memiliki cirri khas sendiri. Bila cerpen, novel maupun roman memungkinkan penulis untuk menjelaskan seluruh situasi yang diinginkan Drama hanya bias menggambarkan garis besar saja. Drama terhukum kebutuhan pentas yang tidak mungkin memvisualkan beberapa hal, yaitu 1. emosi tokoh (ini tanggungjawab actor) 2. Tempat (ini tanggungjawab piñata setting, 3. waktu (tanggungjawab piñata cahaya). Namun drama akan sangat kuat bila ia sampai pada proses pentas, saat seorang sutradara melakukan interpretasi maka dengan latihan rutin dan kerjasama pemeran, sutradara dan kru artistic ia akan muncul sebuah peristiwa cerita yang menarik untuk dinikmati.
Penutup
Demikianlah sekilas mengenai pola penulisan cerita rakyat menjadi drama untuk lebih jelasnya kerjakanlah tugas berikut:
1. Carilah sebuah cerita rakyat tentukan alurnya.
2. Rubahlah menjadi drama panggung untuk siswa SD, SMP atau SMA.
Selamat berlatih
Bahan Pelatihan Hari Kedua
2. Metode Pelatihan Pemeranan di Sekolah
Pola pelatihan calon aktor/aktris di Peserta pelatihan adalah penggabungan pelatihan tekhnis dan psikologis. Literatur yang menjadi acuan adalah literatur umum tentang pola-pola latihan yang sudah ada digabungkan dengan ekplorasi teori-teori psikoanalisis atau ilmu ketidaksadaran. Dalam kehidupan arkhetipe dan simptomp-simptomp yang tersimpan di area amigdala adalah kumpulan dari simbol yang tidak akan berdusta. Kemampuan mengelola arkhetipe ini akan menjadi modal seorang aktor dalam menampilkan akting yang estetik di atas panggung.
Secara garis besar pelatihan itu sebagai berikut:
A. Pelatihan Tekhnis
Pelatihan Tekhnis yang dilakukan meliputi pelatihan keterampilan fisik dan psikologis. Hal ini dikarenakan teater menyangkut keterampilan tubuh dan keterampilan kejiwaan. Keterampilan tubuh untuk visual sedangkan pelatuhan psikologis untuk melatih kepekaan.
1. Pelatihan Tubuh.
Persiapan tubuh bagi seorang aktor/pemeran melalui latihan olah tubuh yang memerdekakan diri untuk mengabdi kepada akting. Hal yang harus diperhatikan yaitu; membuat/ menciptakan tubuh berada dalam keadaan pasif. Ini dilakukan pada tubuh atau sebelum tubuh memasuki tahap aktivitas. Tekanan diberikan pada gerak yang sifatnya menurun. Selanjutnya pada gerak menurun dan menaik. Berat atau ringan tergantung pada beberapa banyak satuan berat jatuh pada titik pusat ini. Titik-titik puncak menaik dan menurunkan tubuh, luar biasa banyaknya. Segalanya harus menyatu dalam bentuk yang utuh dalam tubuh.
Gerak dan suara juga harus diperhitungkan. Gerak-gerak reflek dengan aksi-aksi dan suara-suara sering terjadi bersamaan. Perubahan terjadi pada kondisi badannya, sikap tubuh dapat menumbuhkan suara yang berlainan. Ritme pernafasan, detak jantung, gerak-gerak kecil selalu berhubungan di dalam tubuh. Kekuatan membebaskan tubuh kemudian menintegrasikan setiap bagian yang telah terbebaskan dan meleburkan diri ke dalam suatu fasilitas dengan mengalami berbagai eksrinuitas yang membantu menyadari kondisi keseimbangan.
Analogi tubuh adalah setumpuk tanah keras di olah menjadi keramik. Tanah itu harus di siram air, kemudian diinjak-injak, dikepal, dipipihkan, dilonjongkan sehingga menjadi lentur dan rata. Barulah kemudian dapat di olah sesuai keperluan. Mengolah tubuh seorang aktor harus mau berpayah-payah berlatih, seperti melatih kekuatan fisik dengan olah raga, minimal berlari setiap pagi atau olah raga lain secara kontinyu untuk melatih stamina, tentunya dengan menjaga keseimbangan gizi. Sulaiman Juned bersama Kuflet merangkum teknis pelatihannya.
Dilanjutkan dengan pelatihan media ekspresi, mengkaji tubuh sebagai media komunikasi penting dalam hidup. Pertama melatih ekspresi kening dengan teknik mengernyitkan dari hitungan 10 sampai 15 kali. Kedua, mengernyitkan alis persis sama dengan cara pelatihan kening. Ketiga pelatihan mata, melirik kekanan-kiri sehabisnya, melihat keatas-bawah, memutar bola mata se arah jam jam lalu sebaliknya. Menatap jauh, menatap dekat, memperhatikan dan memejam-mejamkam mata. Kemudian itu otot hidung, menggerakan otot hidung sehingga menjadi kerutan-kerutan. Elemen selanjutnya mulu dengan membuka lebar-lebar lalu mengeluarkan lidah dan menjulurkannya sekuat mungkin. Lidah dimasukkan kembali ke dalam mulut lalu ujung lidah di gigit, selanjutnya menolak pipi kiri-kanan dengan ujung lidah. Diteruskan dengan memutar lidah didalam mulut tertutup searah jarum jam-sebaliknya. Latihan ini dapat dilakukan setiap hari, semampu kita untuk mengasah kemampuan ekspresi wajah dan melatih kualitas artikulasi. Latihan mulut cemberut dan tersenyum dalam keadaan mulut tertutup.
Setelah latihan wajah maka media ekspresi yang vital adalah tangan. Tangan dilatih untuk berbicara dengan suara yang tidak dikeluarkan, tangan dikepalkan diberi kekuatan pada pergelangan tangan lewat pernafasan. Ini melibatkan dua orang atau lebih peserta latihan. Gunanya adalah agar calon aktor ketika berakting tidak kebingungan menggunakan tangannya, tangan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Berikutnya Bahu, latihannya adalah mengangkat bahu, menggerak-gerakkan bahu. Selanjutnya melatih otot dada-perut-pinggang dengan menggerak-gerakkan secara stakato. Kemudian Lutut membebaskan tubuh, dilanjutkan kedua kaki bergerak untuk mengungkapkan kata-kata menggunakan kaki diantara sesama anggota latihan.
1. pelatihan Sukma
Pelatihan Sukma dikomunitas seni “Kuflet ajaran Sulaiman Juned, tahapannya berikut:
Pelatihan sukma diawali dengan Kosentrasi yang merupakan suatu kesanggupan memungkinkan untuk mengerahkan kekuatan rohani dan pikiran ke arah suatu sasaran yang jelas. Dasar dari ajaran kosentrasi adalah penguasaan diri sendiri melalui proses mencari-mencari, menciptakan sebuah peran dalam latihan harian. Proses menciptakan konstruktif serta menciptakan sebuah peran pada saat tampil dalam pertunjukan di panggung.
Sasaran kosentrasi seorang aktor adalah sukma. Baik itu terhadap sukmanya sendiri, orang sekitarnya, atau sukma manusia secara menyeluruh (masyarakat penonton). Hal ini secara tidak langsung memerlukan kosentrasi terhadap emosi-emosi. Melatih kosentrasi terhadap emosi-emosi, panca indera terhadap sesuatu yang fiktif dan semu. Melatih keadaan emosi dalam sukma melalui kemauan-semangat-pikiran-fantasi. Materi hidup manusia adalah raga dan sukma, maka kegiatan hidup seorang aktor merupakan kegiatan bernafas, bergerak, beremosi, berfikir, berkehendak serta berprestasi dan siap menghadapi segala kondisi. Emosi merupakan perangkat seorang aktor untuk mengungkapkan hal-hal yang berada di luar dirinya. Cara pengungkapan tersebut dengan imajinasi, pengandaian dikembangkan menjadi pengalaman atau ingatan diri sendiri.
Memahami diri sendiri, pelatihan ini dilakukan melalui pengenalan hakekat hidup dan arahan menuju keazalian, referensi kuflet adalah filoshopi Al-Ghazali tentang hati, jiwa dan raga. Kemudian memberikan arahan kekuatan akal pikiran manusia, pemahaman esensi kekuatan bawah sadar seperti yang diajarkan Jung, Freud, Cole dan John Kehoe. Sebuah simpulan sederhana tentang dunia adalah kosmologi besar dari kekuatan kosmologi kecil (manusia) dan manusia adalah bagian dari hologram jagad raya yang dapat merubah sistem itu dengan aktivitasnya. Latihan ini banyak menggunakan metode diskusi dan mengajak berfikir serta mengasah logika.
Selanjutnya mengikuti kata hati, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh hati asal tidak menjadi perusak dan membahayakan orang lain. Latihan ini sangat berguna bagi orang teater untuk melatih kepercayaan diri. Tanpa pelatihan ini, manusia teater tak mampu merealitaskan pertunjukan dari teks-tekstual-kontesktual.
2. Pelatihan Vokal
Suara andalan aktor untuk mengantarkan dialog sampai ke telinga penonton, konsep ini yang di anut/diajarkan Sulaiman Juned berasama Kuflet kepada seluruh anggotanya. Suara merupakan perangkat ekspresi manusia. Sementara bagi aktor perangkat ekspresi suara bertambah fungsi dan takarannya yakni menjadi alat yangdibentuk dan dimainkan untuk mewujudkan sosok peran. Latihan pengucapan dan membaca naskah haruslah mendapat tempat (porsi) yang khusus.
Pembebasan suara, membebaskan manusia melalui tubuh dan pikiran yang dimiliki manusia. Sumber suara (vokal) menerima rangsangan sensitif dari otak yang bekerja menurut proses pisik otot tubuh menciptakan pengucapan. Suara akan terhambat dan rusak oleh ketegangan tubuh, gangguan emosional dan intelektual, gangguan peralatan suara serta spritual yang membatasi keterbatasan bakat, imajinasi dan pengalaman. Suara (vokal) andalan utama bagi seorang aktor dalam pencapaian makna untuk melahirkan pengucapan yang sempurna.
Pembebasan olah suara (vokal) mengacu kepada kemampuan berbicara dengan emosi yang mendalam, sederhana, dan terpancar dari hati. Pembebasan suara/vokal terangkum dalam empat tahapan proses pembelajaran Pertama, proses pembebasan Kedua, proses pengembangan (tangga resonasi) melatih saluran resonator, ditambah latihan melepas suara dari tubuh. Melatih resonator hidung, melatih jangkauan dan resonator tengkorak. Ketiga, kepekaan dan tenaga, menggali kekuatan pernafasan, artikulasi dalam berdialog melahirkan vokal. Keempat, menjalin naskah dan akting serta menelaah kata-kata atau dialog yang berhubungan antara suara dan akting.
Pelatihan vokal dalam kegiatan teater meliputi, vokal untuk berbicara di atas pentas dan vokal menyatukan nada dasar dalam dialog sesama aktor. Kepentingan berbicara di atas pentas maka olah vokal yang digunakan adalah pengolahan keterampilan membuka laring, proses latihannya berdiri tegak lurus, pandangan lurus ke depan. Lalu menunduk sembilan puluh derajat, bukakan rahang atas perlahan-lahan sampai terbuka lebar, rahang bawah tetap tidak bergerak. Ketika mulut sudah terbuka lebar, keluarkan suara auman menirukan suara harimau. Ulangi sampai beberapa kali semampu kita. Latihan ini berguna merangsang resonator tengkorak dan artikulasi.
Pelatihan berikutnya adalah pernafasan. Pertama, latihan pernafasan dada melatih untuk mengeluarkan suara tua atau bengek. Caranya udara dihirup pelan-pelan melalui hidung kemudan diisikan kedalam rongga dada, dada terasa terisi udara sehingga dada berkembang. Calon aktor diinstruksikan melepaskan udara tersebut dengan mulut lewat ujung lidah menempel di gigi depan atas, nafas dikeluarkan berawal tanpa suara, desisisan, dan gumaman panjang. Kedua, pernafasan perut tehknik ini berguna untuk memunculkan power suara standart, membuat laring tenggorokan tidak terpaksa sehingga dalam pertunjukan tidak pernah kehabisan suara. Caranya adalah menarik nafas dengan hidung pelan-pelan diisikan ke perut, udara tersebut terisi seperti air mengalir, perut mengembung seperti balon dan keras. Kemudian lepaskan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas, berawal tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Ketiga, pernafasan diagfragma, mampu mengahasilkan kekuatan suara seperti letupan bom semakin tinggi semakin bulat suaranya. Caranya dengan menghirup udara lewat hidung diturunkan ke rongga tulang belakang, selanjutnya berjalan ke perut, lalu berada menggumpal diantara rongga dada dan perut, nafas di tahan. Kemudian dilepaskan melalui mulut dengan lidah menyentuh gigi depan atas, nafas keluar tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Keempat, pernafasan pinggang, latihan ini menarik nafas lewat hidung lalu membawanya ke buah pinggang kiri dan kanan, buah pinggang mengembung seperti balon, nafas ditahan sejenak-lalu dikeluarkan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas. Nafas keluar berawal tanpa suara, dengan desisan, dan gumaman panjang. Kelima, pernafasan total. Pernafasan ini dilakukan sambil tidur terlentang, pejamkan mata lalu kos3entrasi ke pernafasan. Hirup udara dengan hidung, selanjut tahan ditengkorak kepala, perlahan-lahan dibawa turun nafas tersebut ke kening, ke mata, hidung, mulut, dagu, leher, dada, perut, pinggang, paha, lutut, betis, pergelangan kaki, jari kaki, kuku kaki-lalu keluar nafasnya. Buka perlahan-lahan matanya dan rasakan kedamaian yang luar biasa. Pernafasan ini juga sangat berguna untuk melancarkan aliran darah di seluruh tubuh melalui pemompaannya terhadap syaraf. Juga sangat berguna buat membersihkan memori otak.
Kemudian kepekaan musik, seorang aktor dituntut peka terhadap musik, bukan hanya harus menangkap mood/rythem yang diinginkan sutradara saat pertunjukan. Juga sebagai kemampuan penunjang, bagaimana bila ia harus berperan sebagai orang yang mampu bernyanyi dengan iringan musik. Disinilah perlu pembinaan terhadap kepekaan untuk musik. Metode latihannya ada empat tahap, Pertama, melatih memainkan tangga nada kemudian menekan nada la, atau (7) maka calon aktor diperintahkan membunyikannya dengan vokal secara pas. Kemudian tangga nada diulangi pelatih membunyikan nada lain calon aktor diperintahkan membunyikan nada itu misalnya yang dibunyikan :1 2 3 5 6 7 i, kemudian dibunyikan 4 maka calon aktor harus menyuarakan dengan vokalnya fa dengan intonasi yang pas. Latihan ini dilakukan terus hingga tembakan nada yang dilakukan calon aktor benar-benar baik. Latihan berikutnya menembak akoor, maka pelatih memainkan acord misalnya C-F-G-C maka kemudian mengulangi C-F, C-G lalu memerintahkan calon aktor menyuarakan vokal aaaa, melalui intonasi yang pas dengan akord. Ini dilakukan sampai kepekaan akordnya baik. Dilanjutkan dengan latihan terhadap kepekaan ritme, kepekaan ritme dilakukan dengan mengetuk-ketuk meja atau alat lain. Ketukan yang tepat misal ketukan empat perempat, dua pertiga atau dua perempat, calon aktor diperintahkan berdendang/berhikayat dengan gumaman mengikuti ketukan tersebut. Latihan terakhir, menyanyikan lagu dengan iringan musik dari si pelatih. Demikianlah latihan vokal untuk teaterawan pemula demi mempersiapkan seorang yang mahir dalam bidang teater berguna untuk perkembangan teater masa mendatang.
1. Pelatihan Psikologis
Pelatihan Psikologis yang dilakukan bagi peserta pelatihan adalah proses menggali kemampuan bermain drama yang terpendam pada setiap orang. Tidak ada manusia yang tidak berbohong dalam hidupnya, bila ada manusia yang tak pernah berhohong hanya Rasulullah Muhammad SAW, itupun dikarenakan ia diciptakan Allah sebagai rahmat bagi manusia lainnya. Sedangkan manusia lain se-aulia apapun pasti, sesekali pernah menikmati ‘racun’ dusta dalam perjalanan hidupnya. “Bohong” yang ‘dimanfaatkan’ untuk ekspresi ‘jujur’. Bila direnungi, teater merupakan usaha manusia mengungkapkan kenyataan dengan kepura-puraan. ‘Mengeksploitasi’ kebohongan maka kejujuran harus dikemukakan maka secara mutlak manusia teater mampu memelihara kejujuran dalam setiap ekspesi kesenimanannya.
2. Melatih Konsentrasi
Kosentrasi sangat penting dalam bermain teater. Hal ini berguna mengasah titik fokus sehingga tidak ‘liar’ saat bermain sebagai aktor. Pelatihan kosentrasi dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut; Pertama, memposisikan calon aktor dalam keadaan berdiri berhadap-hadapan, kemudian saling tatap tanpa reaksi selama lima belas menit. Bila masih ada yang tertawa atau tidak fokus, latihan di ulang sehingga seluruh peserta latihan benar-benar mampu menguasai emosi. Kedua, memerintahkan satu kelompok mengganggu kelompok dihadapan mereka dengan kata-kata atau tindakan (laku). Sedangkan yang berada dihadapannya dilarang melakukan reaksi apapun selama tiga puluh menit, sementara kelompok yang di ganggu kosentrasinya tetap tidak bereaksi apa-apa. Bila latihan sukses, maka giliran kelompok yang diam ‘menggoda’ kelompok yang mengganggunya dan kelompok pertama tadi tidak boleh bereaksi pula selama tiga puluh menit. Ketiga, kelompok pertama berbaris lurus dan melangkah pelan tanpa ekspresi sejauh dua puluh meter kelompok kedua mengganggu mereka dengan dialog atau perbuatan untuk mengusik kosentrasi. Kelompok yang sedang berjalan dilarang memberikan reaksi hingga sampai ke tujuan. Selanjutnya, kelompok pertama yang sudah sampai ke tujuan maka kini kelompok kedua juga melakukan hal serupa sedang kelompok pertama mengganggu kosentrasi. Latihan berikutnya, seluruh kelompok berbaris lurus dengan merentangkan kedua tangan ke depan, menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut. Pernafasan dapat memakai teknik pernafasan dada, perut dan diafragma. Ketika kaki bergerak dengan sangat pelan (lambat), sejalan dengan nafas keluar perlahan, ketika tumit kaki yang digerakkan menyentuh ibu jari kaki yang stasis maka nafasnya keluar habis. Latihan ini, dilakukan menuju titik yang telah ditentukan dengan durasi waktu 30 menit.
Selanjutnya latihan dengan merentangkan kedua tangan, lalu berputar searah jarum jam. Berputar lima sampai dua puluh kali putaran, berputar dengan kecepatan tinggi tanpa menutup mata, lalu berhenti dan mata menatap ke arah satu titik. Keadaan ini baru boleh bergerak kembali ketika kondisi tubuh sudah sangat normal. Berat memang, latihan ini disamping sangat berguna untuk kosentrasi juga berguna untuk keseimbangan dan ketahanan tubuh.
3. Mengikuti kata hati
Mengikuti kata hati merupakan latihan kepekaan terhadap rasa, agar para aktor terlatih untuk jujur pada diri sendiri, dan tidak canggung melakukan akting saat memerankan lakon di atas pentas. Latihan ini dilakukan dengan berkosentrasi terhadap kondisi yang sedang ia rasakan. Kemudian bebas melakukan ekspresi segala perasaan dengan tindakan, dialog dalam wilayah yang sudah disepakati batasannya, agar mudah diawasi oleh instruktur/pelatih.
4. Menjadi diri sendiri
Menjadi diri sendiri adalah pelatihan mengikuti kata hati, latihan ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor memperlihatkan segala kecenderungan tersembunyi dalam dirinya, tanpa harus ‘berdusta’ pada dirinya sendiri. Pembebasan terhadap sikap-laku-ingatan-emosi; dibolehkan untuk tertawa, menangis, melamun, bermain, menjadi apa saja asal tidak merusak,merugikan orang lain.
Bersambung…
Bahan Pelatihan hari ketiga.
Pelatihan teater untuk sekolah (lanjutan)
5. Menceritakan Pengalaman Unik.
Selanjutnya membuat posisi melingkar, peserta latihan diajak untuk menceritakan pengalaman paling berkesan; termasuk pengalaman meyedihkan, menyenangkan, pahit, manis, duka, bahagia, sepi, gembira secara bergantian. Kemampuan bercerita secara terstruktur merupakan sasaran utama dalam pelatihan ini. Bila mampu bercerita secara terstruktur, maka dalam pertunjukan teater sang aktor akan mampu membangun relasi antar tokoh, dan seandainya sang tokoh (lawan mainnya) lupa terhadap dialog dalam naskah, pemain lain mampu melakukan eksplorasi yang sesuai dengan teks lakon, sebelum kembali ke pokok permasalahan.
6. Mengelola Agarophobia.
Mengelola agarophobia adalah pembelajaran mendidik aktor berpikir positif dalam konteks mengelola diri untuk kepentingan peran. Kemampuan menangkap teks masa lalu baik itu pahit ataupun manis. Kemudian berbicara dengan suasana emosi; marah, senang, sedih, bahagia, sakit, benci, gembira, lara dengan jujur. Ini berguna untuk melakukan penguatan emosi dalam pemeranan saat menjadi seorang aktor/aktris.
7. Menganalisa lingkungan.
Menganalisa lingkungan, untuk mengasah kepekaan estetik calon aktor terhadap apa yang ada disekelilingnya. Para aktor secara bersama menikmati sekitar tempat latihan dan memanfaatkan apa saja untuk latihan akting. Jika ada pohon, bunga, gedung lapangan bola, maka ia berbicara dengan benda tersebut. Ini berguna untuk mengasah kempuan aktor dalam memanfaatkan set properti saat berperan di atas pentas.
8. Memerankan Lakon hidup.
Memerankan lakon hidup dengan meniru gaya orang yang paling sering di lihat. Aktor memperhatikan tokoh manusia, atau binatang kemudian melakukan aksi dengan teliti dari objek yang dipilihnya. Hal ini agar aktor dapat melakukan pendekatan akting seandainya sang aktor bermain dalam pertunjukan teater bergaya realisme.
9. Konsentrasi Grupping.
Latihan ini berguna untuk meningkatkan empati kerjasama, dilakukan dengan cara aktor memejamkan mata, instruktur melakukan tepukan tangan, dan para aktor harus menuju sumber bunyi itu dalam keadaan mata terpejam. Ini dilakukan selama tiga puluh menit dan di ulang beberapa kali dalam proses pelatihan.
Selain itu, juga melakukan latihan dengan gerakan bersama, salah seorang dari peserta latihan melakukan inisiatif untuk berlari ke satu titik dengan membangun suasana sedih misalnya. Selanjutnya peserta lain melakukan pergerakan bersama dengan suasana yang telah dibangun tersebut. Selanjutnya peserta lainnya harus mengambil inisiatif untuk melakukan grupping dengan suasana baru yang diciptakan, dan yang lain mengikutinya. Begitu terus menerus secara bergantian.
10. Talenta Pentas.
Latihan talenta pentas dilakukan dengan tiga tigkatan; Pertama, aktor berdiri dalam posisi melingkar kemudian mengucapkan huruf vokal A-I-U-E-O secara serentak. Kedua, setelah kompak secara bergantian mengucapkan satu huruf secara berurutan searah jarum jam. Hal ini dimulai dari huruf vokal A, maka yang disampingnya menyambung dengan huruf I, U, E, O begitu seterusnya secara berkesinambungan. Ketiga, menangkap tinggi rendah intonasi. Pelatih mengucapkan A, I, U, E, atau O, dengan intonasi naik turun. Apabila pelatih mengucapkan tinggi vokalnya, peserta harus lebih tinggi, seandainya pelatih mengucapkan vokalnya rendah, peserta harus lebih rendah. Pelatih mengucapkan vokal keras peserta harus lebih keras, bila pelatih pelan maka peserta harus menyahut lebih pelan lagi. Latihan ini membutuhkan waktu sekitar satu jam.
11. Latihan Interaktif.
L atihan interaktif bertujuan mengasah keberanian akting, menghilangkan rasa risih serta membangun kekuatan mental sebagai aktor. Ada lima tingkatan dalam latihan ini; Pertama, salah satu peserta latihan melakukan pembicaraan, sedangkan teman-temannya menjawab serentak dengan cemoohan. Hal ini dilakukan untuk semua peserta secara begiliran pula dieejek oleh yang lainnya. Kedua, pelatihan mengajak orang yang sedang lewat berbicara dengan ekspresi seolah-olah serius, usahakan orang tersebut percaya dengan pembicaraan kita. Kemudian tinggalkan orang itu dalam keadaan percaya apa yang kita katakan. Ketiga, meminta sesuatu kepada orang telah dikenal namun orang itu tidak tahu bahwa yang bersangkutan sedang latihan. Keempat, peserta dibagi kelompok, masing masing lima sampai sepuluh orang satu kelompok. Kelompok tersebut berjalan ke pasar, kampus, sekolah atau ke tempat keramaian lainnya. Salah seorang berpura-pura sakit ditengah keramaian tersebut, sementara yang lain berpura-pura sibuk menolong sehingga orang yang lewat terpancing memperhatikan sekaligus menolong mereka. Kelima, berpura-pura jadi pengemis di trotoar atau pasar dengan make up dan ekspresi yang mantap. Meyakinkan orang seolah-olah benar pengemis, sehingga tak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya pengemis ini adalah para calon aktor yang sedang mengeksplorasi dirinya.
12. Refleksi Aksi dan Menyusun Ide.
Refleksi Aksi, latihan memunculkan sebuah ide garapan, para aktor di beri satu tema lalu dibiarkan sesama mereka mengatur posisi berseberangan dalam membicarakan tema itu. Masing-masing mereka bertahan pada argumen yang diciptakan, andaikan latihan dengan cara ini sering dilakukan, sesungguhnya para aktor sedang mementaskan pertunjukan sederhana disaksikan pelatih. Pertunjukan yang tak terbayangkan sebelumnya pasti dapat terjadi, bahkan mungkin menjadi ide dasar dalam sebuah garapan besar yang akan dipentaskan.
Setelah latihan Refleksi Aksi, langsung diarahkan menyusun kerangka dari yang ditampilkan mereka menjadi sebuah lakon secara teratur dengan posisi-posisi yang mereka atur sendiri. Menyusun ide dalam bentuk kerangka penulisan naskah lakon. Dilanjutkan kerangka penulisan tersebut dimainkan dalam bentuk pertunjukan inprovisasi secara bersama-sama.
13. Anatomi Drama.
Fase ini latihan dipindahkan ke dalam lokal/ruangan belajar. Para aktor muda diberi pembekalan analisis drama, berupa analisis struktur dan pola aplikasi struktur lakon. Mereka diberi tahu pengertian tema, plot/alur, penokohan, foint of viuew dan setting drama. Diajarkan teori analisa struktur drama sederhana misalnya Strukturalisme atau semiotik. Lalu pembedahan tekstur lakon dengan megkaji dialog, mood/rythem, dan spektakel (elemen pemanggungan/bahasa panggung).
13. Interpretasi.
Berbekal ilmu anatomi drama itu, mereka melakukan apresiasi terhadap naskah lakon kemudian menginterpretasi naskah sekaligus lakon drama yang mereka pilih untuk dipentaskan. Calon teaterawan tersebut diberikan satu naskah lakon ringan, lalu di analisis secara struktur dan tekstur. Selanjutnya mereka diwajibkan melakukan presentasi terhadap konsepsi yang telah mereka tulis dan pahami. Dilanjutkan dengan diskusi panjang bahkan sampai berminggu-minggu untuk menguji kecerdasan intelektualitasnya.
14. Proyeksi peran dan Identifikasi.
Proyeksi peran, pelatihan membayangkan tokoh yang akan dimainkan, bila para peserta latihan sudah mempu menginterpretasi drama dan peran maka mereka masing-masing diminta membayangkan prototipe lakon yang akan dimainkan dan mulai melakukan indentifikasi.
Indentifikasi, pelatihan mengidentikkan tipe perwatakan, gimik dan emosional lakon yang dimainkan kepada diri aktor muda yang baru mendapatkan ‘anak kunci’ dunia seni peran. Latihan ini dilakukan setelah ia hafal naskah dan saat itu pula ditanyakan bagaimana ia membayangkan tokoh yang ia perankan. Pelatih terus mengawasi apakah ia berhasil menvisualkan lakon yang diinginkannya.
15. visual peran.
Apabila masing-masing sudah siap dengan visi lakon mereka, maka dilakukan arahan untuk bekerja sama sesama mereka untuk sebuah pertunjukan. Maka kita mulai menyaksikan ‘benih yang disemai mulai berbunga’. Instruktur yang bersusah payah ‘mengkader para aktor muda’ telah berhasil ‘menciptakan’ seniman pemeranan baru yang berkualitas dihadapannya. Cobalah jika tidak percaya, metode inilah yang dikembangkan Sulaiman Juned ketika masih di Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, namun tekhnis pelatihannya menjadi lebih berkembang di Peserta pelatihan Padangpanjang, semenjak Sulaiman Juned kembali dari pengembaraan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta-Jawa Tengah. Ia mulai bersentuhan dengan teaterawan nasional Nano Riantiarno, Putu Wijaya, Saini KM. Juga bersama kritikus seni Prof. Dr. Soediro Satoto. Dan Komposer dunia Prof. Dr. Rahayu Supanggah. Persentuhan ini yang menghasilkan proses/metode latihan bagi peserta pelatihan seperti yang tertulis dalam buku ini.
Pembekalan yang terpenting terhadap para aktor muda adalah, moralitas agar mereka memegang teguh seni keimanan dan budi pekerti, anjuran terus belajar dan menimba ilmu, jangan berprilaku sombong, karena merasa mampu menjadi pemeran yang baik. Sesungguhnya orang teater harus rendah hati dan berbudi pekerti luhur. Demikianlah seharusnya. Salam kreatif.
Selamat Berlatih
Kepustakaan
Al-Ghazali, Dr. Muhammad, Perbaharui Hidupmu, Gema Madinnah Makkah Pustaka, 2007
Djelantik, A.A. M, Estetika Sebuah Pengantar, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.
Duracman, Yoyo C, Sembung, F. Willy, Pengetahuan Teater, Sub Proyek ASTI Bandung 1985/1986.
Freud, Sigmaound, Psikologianalisis, Perpustakaan Nasional RI, Katalog dalam Terbitan, Ikon Teralitera: Kemetiran Kidul.
Imran, T. Abdullah, Monolog dan Dialog Dalam Drama, Jurnal Seni Ilmu Pengetahuan dan Penciptaan Seni 1/02 Juli 1991
Jung, Carl Gustav, Memperkenalkan Psikologi Analisis (Pendekatan kepada Ketidaksadaran) Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 1989
Juned, Sulaiman, Aktor: Tubuh Spektakel Hidup Di Atas Pentas. Jurnal Ekspresi Seni.
STSI Padangpanjang, Padangpanjang: 2001
Rendra, Bermain Drama, Pustaka Jaya, Jakarta 1984.
Sartre, Jeand Paul, Psikologi Imajinasi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Thalabi, Thajuddin, M.Ag, Hasan, Syamsi, Muh. Imam Al-Ghazali, Keajaiban Hati. Penerbit Amalia Surabaya 2007.
Yusriwal, Estetika Seni Post-Moderen di Indonesia,Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni, Komindok STSI Padangpanjnag, Vol 1 No 1, September 2001.
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:42 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
LAPORAN PENGABDIAN JANGKAT
ABSTRAK
Pengabdian dengan objek sastera tradisional merupakan usaha penggalian sekaligus pelestarian nilai-nilai moral tradisional yang berkembang di tengah masyrakat. Dengan mengambil objek sastera tradisional diharapkan nilai-nilai yang dikandung sastera tradisonal dapat digali dibahas dan dilestarikan.
Pengabdian masyrakat ini berlangsung di Rantausuli-Sungai Tenang (Jangkat) Merangin. Menitik beratka pada penggalian kembali nilai heroic “Depati Empat” namun yang menjadi focus adalah proses mengolah cerita daerah menjadi karya drama yang kelak dapat dijadikan bahan ajatr oleh para guru pesertanya.
Dari sekian Undangan yang disebar kegiatan inti yang berlangsung tiga hari hanya dihadiri delapan belas orang pada hari pertama dan terus menyusut pada hari berikutnya. Alam menjadi kendala utama karena pada hari kedua dan ketiga hujan turun sehingga transportasi jadi terhambat.
Kata Kunci: Pengabdian masyarakat, tantangan dan peluang, Sastera Daerah jangkat, Mitologi Depati Empat.
KATA PENGANTAR
Alhamdullah, pengabdian masyrakat ini dapt diselesaikan, walaupun dihambat oleh kendala ketersediaan dana dan jarak yang jauh antara Bangko ke Sungai Tenang, Jangkat namun akhirnya kegiatan dapat beerjalan sesuai dengan rencana. Keterlambatan pelaporan hanyalah karena tidak tersedianya prasarana yang memadai didaerah pengabdian dilakukan, selain kendala Jarak yang cukup Jauh dari Bangko yakni sekitar 118 Kilometer dengan kondisi jalan yang kurang baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh fihak yang telah membantu dalam pelaksanaan pengabdian ini, antara lain,
1. Kopertis Wilyah X Padang yang telah memberikan pelatihan dan pendanaan sebelum pengabdian ini dilakukan.
2. Ketua STKIP YPM Bnagko yang telah memberikan izin selama pengabdian ini dilaksanakan hingga pelaporan.
3. Ibunda Elva Dra. Eriyani Mpd, yang terus memberi tegur sapa demi kemajuan penul;is dalam mengasah kreatifitas intelektual selama berada di Bangko.
4. Kanda Uning yang telah memberi support Semangat dan teguran berkaitan dengan proses pegabdian ini sehingga menjadi “cambuk” bagi penulis menyelesaikan pengabdian ini.
5. Ibu Dr. Yurniwati SE, MS. sebagai pembimbing dengan nafas keibuan yang setia membimbing penulis walaupun dari jarak jauh.
6. Semua fihak yang tak dapat disebutkan satu persatu namun memiliki andil dalam pelaksanaan pengabdian ini.
Pada ujung paparan ini penulis minta maaf kepada semua fihak yang terkorbankan karena keterlambatan laporan ini. Ini bukan kesalahan yang disengaja melainkan, ada hal-hal tekhnis berkaitan dengan jarak dan keadaan alam di lokasi yang menyebabkan penulis kesulitan menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Demikianlah, semoga pengabdian ini bermanfaat bagi kita semua terutama dalam duni pendidikan dan sastera daerah.
Bangko, 28 Agustus 2009
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan
Bab II.Tinjauan Pustaka
Bab.III.Materi Dan Metode Pelaksanaan
Bab.IV.Hasil Dan Pem-bahasan
Bab.V.Kesimpulan dan Saran
• Lampiran:
• Surat Tugas Ketua STKIP
• Foto Kegiatan
• Absen Kegiatan
• Draf Karya Ilmiah Materi Kegiatan
1.1 Analisis Situasi
1.2 Tujuan dan Manfaat
3.2. Efektifitas Kegiatan
3.3 Khalayak Sasaran
3.4 Metode yang Digunakan
4.1. Analisis Umum
4.2 Faktor pendorong
4.3 Faktor Penghambat
4.3 Faktor Penghambat
4.4. Jalannya Kegiatan
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
11
11
33
24
7
77
77
77
88
110
1
112
114
114
116
120
120
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Lokasi pengabdian ini berada didaerah yang jauh dari akses kota bangko.jarak antara Bangko-Sungai Tenang sekitar 120 Km. bila melalui TNKS dan 105 KM bila melalui Tanjung Dalam dengan cara berbelok di ke kanan di Lembah masurai.Sulitnya akses menuju tempat tersebut sudah banyak diketahui. Beberapa Media baik daerah maupun pusat telah menulis tentang situasi tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh beberapa sumber yang penulis himpun dari berbagai media sebelum perjalanan menuju lokasi dilakuan. Memang daerah Jangkat berada diwilayah TNKS yang selalu dijadikan alas an mengapa akses jalan ketempat tersebut selalu tekendala pembangunannya. Namun kenyataan yang sebenarnya daerah ini memang berada di kaki gunung Masurai yang alamnya berbukit-bukit dan sulit untuk dibuka.
Sebelum 1982, praktis tidak ada jalan, kecuali jalan setapak, yang menghubungkan desa ini dengan ‘dunia luar’.Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunialuar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikanhubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci.
Bahkan, salah satu kepala desa (kades) dari kecamatan yang relative ‘bertetangga’, yaitu kecamatan Sungai Manau, menyatakan bahwa ia belum pernah ke Jangkat. Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunia luar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikan hubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak
diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci. (Fahmi, 2009)
Kondisi lain yang cukup menarik adalah keyakinan kepada dunia supranatural, satu dari 2 marga di kecamatan ini, yaitu marga Serampas, dikenal sebagai tempat berguru. Konon, salah seorang penasehat spiritual Presiden Soekarno, berasal dari marga Serampas ini. Desa studi kasus ini tidak termasuk marga Serampas, melainkan marga Sungai Tenang. Konon, dalam tradisi lisan masyarakat setempat, kedua marga ini masih ‘bersaudara’, dengan marga Serampas sebagai ‘saudara muda’ (Marsden, William. 1999.) dalam buku Sejarah Sumatera. Penerjemah A.S Nasution dan Mahyuddin Mendim dari History of Sumatra (1811dalam Fahmi: 1999).
Sumber lain Infojambi.com merilis sebagai berikut, Nasib masyarakat di Desa Renah Kemumu Kecamatan Jangkat hingga saat ini masih memperihatinkan. Karena ruas jalan menuju ke desanya masih terkendala oleh Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Oleh karena itu, mereka sangat berharap kepada pemerintah untuk dapat membangun jalan menuju ke sejumlah desa di eks Marga Serampas, Kecamatan Jangkat. Jangan ada lagi alasan terkendala TNKS……Sementara TNKS terus juga habis dijarah dan dirusak oleh pendatang dari Pagal Alam, Sumsel dan dari daerah lainnya. Sementara masyarakat asli di Jangkat dan Lembah Masurai malah dilarang untuk membuka lahan untuk membangun kebun kopi dan pertanian lainnya. Sumber : Senin, 16 Februari 2009 08:16 (infojambi.com/NDI)
Saat ini kondisi terisolirnya daerah-daerah tersebut diakibatkan buruknya infrastruktur jalan yang pernah dibangun pada tahun 1980, khusus untuk daerah Sungai Tenang saat ini harus ditempuh dalam waktu 9 Jam dengan kendaraan Bermotor dengan menembus jalan Tanah dari lembah Masurai. Dan 14 Jam bila memutar melewati TNKS.Daerah Sungai Tenang adalah sebuah wilayah kecamatan yang berada di kabupaten Merangin yang dulunya tergabung dengan Kecamatan jangkat yang berada di Muara Madras. Daerah ini memiliki desa-desa yakni desa Rantau Suli, Pematang Pauh, Tanjung Alam, Desa Baru dan Renah Pela an dan dusun Jangkat. daerah ini secara umum masih disebut orang Bangko sebagai Jangkat.
Didaerah ini banyak berkembanga cerita-cerita rakyat misalnya, mitologi Putri Bungsu, Kisah Depati Empat dan Legenda Danau pauh. Cerita- cerita rakyat adalah potensi kesusastraan nasional yang harus tetap dijaga. Karena demikian gencarnya perkembangan tekhnologi informasi saat ini cerita rakyat bias saja akan tenggelam dan tidak dibicarakan lagi.Berkaitan dengan kepentingan pelestarian sastra daerah, juga dikaitkan dengan tuntutan peningkatan kualitas menulis bagi guru-guru di sekolah dasar dan menengah maka dipandang perlu memberikan pelatihan menulis karya drama dengan menggunakan sastra daerah sebagai bahan baku.
Dengan mempertimbangkan kepentingan pelestarian sastra daerah dan materi pengajaran sastra berbasis budaya serta kepentingan pengenalan sastra daerah sejak didni kepada para siswa sekolah dasar dan menengah maka dengan pelatihan ini diharapkan para guru memiliki kemampuan uantuk mengajarkan drama daerah yang ditulisnya sendiri sebagai bahan pengayaan disekolah-sekolah ataupun sebagai pelengkap materi muatan sastera local.
1.2 Tujuan dan Manfaat
A. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk :
1. memberikan keterampilan menulis drama kepada guru-guru Bahasa Indonesa didaerah Sungai Tenang.
2. Melestarikan cerita rakyat yang berkembang dilingkungan setempat.
B. Pengabdian kepada masyarakat ini bermanfaat untuk :
1.Meningkatkan pengetahuan para guru tentang tekhnik mengembangkan gagasan dengan bahan baku cerita rakyat.
2.Pelestarian budaya berupa sastra rakyat melalui pengajaran di sekolah-sekolah sebagai bahan pengayaan pada bidang tudi Bahasa dan sastra atau muatan local.
4. Terealisasinya Program Tri Dharma Perguruan Tinggi
5. Terjalinnya komunikasi ilmiah antara STKIP dan masyarakat.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Erwin Fahmi Juli 2002 menjelaskan tentang pola budaya dan sejarah Jangkat dalam dalam Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi yang diberi judul, “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” ia merilis sebagai berikut,…Persengketaan tanah ladang antara pihak ‘jantan’ dari Kalbu Rajo Nan Pute dengan pihak ‘betino’ dari kalbu Pado Garang, di dusun Tinggi, tahun 1998. Lahan sengketa adalahlahan garapan si ‘jantan’ keturunan dari Pado Garang yang kemudian kawin dengan ‘betino’dari keturunan Rajo Nan Pute. Karena perkawinan ini dan sesuai adat desa tersebut, “jantan’menjadi anggota keluarga Rajo Nan Pute, dan selama hidupnya ia tetap menggarap lahan pemberian orang tuanya tersebut. Sengketa muncul setelah si ‘jantan’ meninggal dunia. Si ‘betino’ dari Kalbu Pado Garang (saudaranya si ‘jantan’) menggugat lahan tersebut sebagai lahan milik kalbunya. Karena tidak dapat diselesaikan oleh kedua keluarga, kasus ini kemudian dibawa ke musyawarah Gedang Bertigo2 untuk diselesaikan. Gedang Betigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan Kalbu Rajo Nan Pute. Hasil musyawarah:• Keluarga Pado Garang melepaskan lahan warisan orang tua si ‘jantan’ tersebut kepada keluarga Rajo nan Pute • Sebagai ucapan terima kasih keluarga Rajo nan Pute memberikan satu kapling tanah rumahkepada keluarga Pado Garang, dalam hal ini saudara perempuan si ‘jantan’. (Fahmi: 2002)
Pengambilan keputusan dalam musyawarah ini adalah Gedang Betigo dan ditandatangani olehkedua belah pihak yang bersengketa dan 2 orang saksi, serta diketahui oleh Gedang Bertigo danKepala Desa. Landasan proses penyelesaian ini adalah adanya kepercayaan terhadap kearifan Gedang Bertigo untuk menyelesaiakan persoalan. Penanganan persoalan melalui mekanisme adat, baik persoalan 'ke dalam'maupun 'ke luar', biasanya dilakukan berdasarkan pengaduan salah satupihak. Atas dasar pengaduan itu, perangkat pemangku atau kepemimpinanadat kemudian menjalankan tugasnya, baik menegur pelanggar melalui tuotengganainya,untuk kasus sederhana, maupun memanggil dan/ataumenyidangkannya (oleh suatu dewan tetua adat dan tuo tengganai pihak-pihakyang bertikai), untuk persoalan yang kompleks. Persoalan yang melibatkandesa lain, karena tidak sepenuhnya berada dalam yurisdiksi satu masyarakatadat, maka ditanggulangi melalui musyawarah antarpemangku adat. Dalam kasus banjir yang mengakibatkan bergelimpangannya balok-balok kayu di desa Koto Depati yang, menurut pengadu (desa Koto Depati), diakibatkan oleh penebangan hutan di hulu sungai oleh warga desa Simpang Kayu, maka penyelesaiannya dilakukan dengan melibatkan 'lembaga adat' tingkat kecamatan, yang dalam hal ini adalah lembaga kecamatan3 itu sendiri. Seperti disinggung di depan, memang tidak di semua desa kajian system pengaturan dan pengurusan menurut adat masih kuat. Secara umum dapat dikatakan makin mendekati dataran rendah (sebagai pusat institusi Negara dan modal), kekuatan sistem pengaturan dan pengurusan adat ini semakin lemah. Atau, dapat pula dikatakan, semakin terbuka jalur transportasi, meluasnya pergaulan sosial atau bahkan asal usul warga dan beragamnya 2 Gedang Bertigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan KalbuRajo Nan Pute…dalam sumber yang sama Fahmi di bagian lain: Koto Depati. Sebagai kepala pemerintahan, diangkatlah kepala desa (kades)pelaksanaan uji coba, yang bekerja dari 1980 – 1982, sebelum dipilihkepala desa definitif.
Pada saat itu, yang menjalankan tugas kades uji cobaadalah Pak S, kades sekarang setelah terpilih kembali pada 1993.Dampak penting pemberlakuan UU yang disebut terakhir terjadi setelah1982. Pada 1982 itu, terpilihlah sebagai kades Pak Arif. Berlainan denganpada masa uji coba, pemberlakuan UU 5/1979 pada masa ini telahdidorong lebih jauh, yaitu dengan menempatkan kades sebagai kepala pemerintahan, dengan tanggung jawab meliputi: bidang pemerintahan,pembangunan, kemasyarakatan dan urusan pemerintahan umum,termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban (Penjelasan Umum butir6). Dengan kata lain, sebagaimana berlaku di tempat-tempat lain, kadesmerupakan penguasa tunggal di desa (Jatiman 1995: 239). Demikianlah,maka konsekuensi dorongan tadi adalah ‘diturunkannya’ jabatan DepatiGento dari tingkat desa (dulu dusun) menjadi tingkat dusun…Pola pemerintahan yang rapi sudah pernah ada di Jangkat sejak dulu sebagai mana Djakfar dalam Fahmi (1992: 19) meenulis bahwa sampai awal abad ke-20, masyarakatMarga Sungai Tenang telah hidup dalam suatu konfederasi dengan marga tetangganya, yaitu “…satu kesatuan hukum adat di bawah pemerintahan yang berdaulat penuh, yang dikenal dengan nama Negara Depati Empat Alam Kerinci (NDEAK)”. Pemerintahan NDEAK terdiri atas 7 tanah depati, yaitu masing-masing 4 di Kerinci Tinggi dan 3 di Kerinci Rendah. Marga Sungai Tenang dan marga Serampas mendiami tanah Depati Rencong Telang, bersama warga kecamatan Gunung Raya, sebagian kecamatan Gunung Kerinci. (William. 1999.)
BAB III.
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN
3.1 Kerangka Pemecahan Masalah
Berbagai potensi tersebut di atas akan terealisasi dengan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana metode yang akan ditempuh agar para guru mampu menulis drama dengan basis sastera daerah.
2. Bagaimana guru dapat menjadikan karya drama yang dibuatnya itu sebagai materi pengajaran sastera atau Mulok.
3.2 Realisasi Pemecahan Masalah
Dalam pemecahan masalah ini dilakukan metode sebagai berikut:
1. melakukan pengarahan tentang metode pengembangan ide yang bersumber dari cerita rakyat menjadi kerangka cerita berbentuk prosa.
2. Mengajak peserta menentukan tokoh cerita dan posisinya dalam lakon.
3. mendeskripsikan konflik antar tokoh.
4. menyusun drama.
3.2. Efektifitas Kegiatan
Sebelum perlakuan Bimbingan
Peserta kesulitan menyusun dialog dan komlikasi antar tokoh dalam cerita
Setelah perlakuan Bimbingan
Peserta telah mampu menyusun cerita rakyat menjadi karya drama.
Pemeriksaan Hasil Kegiatan
Evaluasi Awal
Penugasan peserta menyusun karya drama dengan sumber cerita rakyat.
Evaluasi Proses
Melihat efektifitas penerapan keterampilan yang diperoleh peserta apakah memang mampu memberi kontribusi sebagai materi pengayaan pelajaran sastera dan muatan local di sekolah-sekolah. (dalam proses pelaksanaan).
Evaluasi Akhir
Pemeriksaan peserta berkaitan cerita rakyat dengan menyebar angket (dalam proses pengerjaan)
3.3 Khalayak Sasaran
Sasaran pengabdian masyarakat ini adalah guru-guru yang aktif mengajar sastera dan seni di lingkungan kecamatan Sungai Tenang. Baik itu SD SLTP atau SLTA. Dengan demikian maka pada masa pasca uji efektifitas yang ingin dicapai dihadapkan kepada kemampuan mengetahui dan memahami cerita rakyat sesuai dengan apa yang dikembangkan gurunya melalui karya drama yang mereka buat.
3.4 Metode yang Digunakan
Metode kegiatan yang akan dilakukan untuk tercapainya tujuan
Pengabdian Kepada masyarakat ini adalah metode ceramah, diskusi dan
konsultasi. Pada masa pasca uji ini dilihat sejauh amana kegiatan yang diloakukan mampu memberi efek positif bagi perkembangan sastera setempat di sekolah-sekolah.
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Umum4.2 Faktor pendorong4.3 Faktor Penghambat4.3 Faktor Penghambat4.4. Jalannya Kegiatan
Pada tahap awal peserta diberikan penjelasan tentang arah, tujuan dan manfaat kegiatan. Penjelasan tahap awal ini berkaitan dengan pentingnya pelestarian sastera daerah untuk bahan pengayaan dalam pengajaran sastera dan seni. Tahap berikutnya adalah penjelasan contoh-contoh sastera daerah setempat, misalnya cerita Putri Bungsu, dengan motologio Bukit Tungkat, kemudian Deoati Empat, atau Legenda Danau Pauh. Pada bagian berikutnya penjelasan anatomio drama, dilanjutkan dengan konsep ide gagasan, menyusun alur, elemen dramatic kemudian tekhnik penulisan drama. Pada bagian akhir dilakukan evaluasi dengan penugasan.
Pada tahap pasca kegiatan dilakukan observasi tentang efektifitas kegiatan, apakah telah berhasil mencapai sasaran yang diinginkan atau belum dapat tercapai.
4.2 Faktor pendorong
Yang menjadi faktor pendorong dalam kegiatan pengabdian ini adalah :
a. kondisi daerah yang belum banyak terkontaminasi pola fakir konsumtif, dan masih banyaknya cerita rakyat yang berkembang dimasyarakat..
b. Cukup mudah untuk mendapatkan bahan baku kompos.
c. Keingintahuan dari para peserta yang cukup besar terhadap materi pengabdian yang diberikan.
d. Antusiasme dan partisipasi aktif dari para guru untuk mengikuti kegiatan.
4.3 Faktor Penghambat
a. jarak antara guru yang berjauhan, jarak sekolah-sekloah yang berjauhan.
b. sulitnya perjalanan menuju lokasi yang jauh dari Bangko dengan kondisi jalan yang buruk.
4.4. Jalannya Kegiatan
Berdasarkan kondisi saat kegiatan dari tiga puluh undangan yang disebar maka guru yang hadir saat kegiatan hanyalah delapanbelas orang. Dari lima belas sekolah yang diundang hanya sepuluh sekolah yang mengirimkan utusanya yaitu:
1. SD No 184/VI Talang Tembago
2. SD No 46/VI Talang Tembago
3. SD No 234/VI Tanjung Mudo
4. SD 184/VI Talang Tembago
5. SD No 46/VI Kt Teguh
6. SMA N 16 Rantau Suli
7.SD 48/VI Tanjung Alam
8. SD 236/VI Tanjung Alam
9. SD No 60/VI Koto Teguh
10. SMP N 1 Rantau Suli
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan5.2 Saran
Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. peserta memiliki kemampuan menjadikan cerita rakyat sebagai sumber ide membuat karya drama.
2. peserta mampu mengajarkan drama tersebut kepada peserta didik.
5.2 Saran
1.Perlu adanya peningkatan prasarana perhubungan ke lokasi pengabdian untuk memepercepat kemajuan daerah tersebut.
2.Adanya tindak lanjut pelestarian sastera rakyat m,elalui drama oleh guru-guru peserta kegiatan sehigga kegiatan yang telah terlaksana benar-benar memiliki manfaat dalam jangka waktu yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
A.Mukty Nasruddun ” Jambi Dalam Sejarah Nusantara, 1989
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jambi Provinsi Jambi, 1986
Erwin Fahmi Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” Juli 2002
Junaidi T.Noor, Khasanah Budaya Kelautan Provinsi Jambi, belum diterbitkan
Lembaga Adat Provinsi Jambi, pokok-poko Adat Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Jilid II Hukum Adat Jambi, 2001
Oemar Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari. Undang-undang Piagam Pencacahhan dan Kisah Negeri Jambi, 1937
Wiko Antoni S.Sn, Bundel Tugas Mahasiswa Telaah Drama, Aneka Cerita Rakyat Jambi ,Dokumen Perpustakaan STKIP YPM Bangko, 2008.
infojambi.com/NDI Senin, 16 Februari 2009 08:16
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:40 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Senin, 2009 Oktober 05
Latihan Teater Untuk Sekolah2
5. Menceritakan Pengalaman Unik.
Selanjutnya membuat posisi melingkar, peserta latihan diajak untuk menceritakan pengalaman paling berkesan; termasuk pengalaman meyedihkan, menyenangkan, pahit, manis, duka, bahagia, sepi, gembira secara bergantian. Kemampuan bercerita secara terstruktur merupakan sasaran utama dalam pelatihan ini. Bila mampu bercerita secara terstruktur, maka dalam pertunjukan teater sang aktor akan mampu membangun relasi antar tokoh, dan seandainya sang tokoh (lawan mainnya) lupa terhadap dialog dalam naskah, pemain lain mampu melakukan eksplorasi yang sesuai dengan teks lakon, sebelum kembali ke pokok permasalahan.
6. Mengelola Agarophobia.
Mengelola agarophobia adalah pembelajaran mendidik aktor berpikir positif dalam konteks mengelola diri untuk kepentingan peran. Kemampuan menangkap teks masa lalu baik itu pahit ataupun manis. Kemudian berbicara dengan suasana emosi; marah, senang, sedih, bahagia, sakit, benci, gembira, lara dengan jujur. Ini berguna untuk melakukan penguatan emosi dalam pemeranan saat menjadi seorang aktor/aktris.
7. Menganalisa lingkungan.
Menganalisa lingkungan, untuk mengasah kepekaan estetik calon aktor terhadap apa yang ada disekelilingnya. Para aktor secara bersama menikmati sekitar tempat latihan dan memanfaatkan apa saja untuk latihan akting. Jika ada pohon, bunga, gedung lapangan bola, maka ia berbicara dengan benda tersebut. Ini berguna untuk mengasah kempuan aktor dalam memanfaatkan set properti saat berperan di atas pentas.
8. Memerankan Lakon hidup.
Memerankan lakon hidup dengan meniru gaya orang yang paling sering di lihat. Aktor memperhatikan tokoh manusia, atau binatang kemudian melakukan aksi dengan teliti dari objek yang dipilihnya. Hal ini agar aktor dapat melakukan pendekatan akting seandainya sang aktor bermain dalam pertunjukan teater bergaya realisme.
9. Konsentrasi Grupping.
Latihan ini berguna untuk meningkatkan empati kerjasama, dilakukan dengan cara aktor memejamkan mata, instruktur melakukan tepukan tangan, dan para aktor harus menuju sumber bunyi itu dalam keadaan mata terpejam. Ini dilakukan selama tiga puluh menit dan di ulang beberapa kali dalam proses pelatihan.
Selain itu, juga melakukan latihan dengan gerakan bersama, salah seorang dari peserta latihan melakukan inisiatif untuk berlari ke satu titik dengan membangun suasana sedih misalnya. Selanjutnya peserta lain melakukan pergerakan bersama dengan suasana yang telah dibangun tersebut. Selanjutnya peserta lainnya harus mengambil inisiatif untuk melakukan grupping dengan suasana baru yang diciptakan, dan yang lain mengikutinya. Begitu terus menerus secara bergantian.
10. Talenta Pentas.
Latihan talenta pentas dilakukan dengan tiga tigkatan; Pertama, aktor berdiri dalam posisi melingkar kemudian mengucapkan huruf vokal A-I-U-E-O secara serentak. Kedua, setelah kompak secara bergantian mengucapkan satu huruf secara berurutan searah jarum jam. Hal ini dimulai dari huruf vokal A, maka yang disampingnya menyambung dengan huruf I, U, E, O begitu seterusnya secara berkesinambungan. Ketiga, menangkap tinggi rendah intonasi. Pelatih mengucapkan A, I, U, E, atau O, dengan intonasi naik turun. Apabila pelatih mengucapkan tinggi vokalnya, peserta harus lebih tinggi, seandainya pelatih mengucapkan vokalnya rendah, peserta harus lebih rendah. Pelatih mengucapkan vokal keras peserta harus lebih keras, bila pelatih pelan maka peserta harus menyahut lebih pelan lagi. Latihan ini membutuhkan waktu sekitar satu jam.
11. Latihan Interaktif.
L atihan interaktif bertujuan mengasah keberanian akting, menghilangkan rasa risih serta membangun kekuatan mental sebagai aktor. Ada lima tingkatan dalam latihan ini; Pertama, salah satu peserta latihan melakukan pembicaraan, sedangkan teman-temannya menjawab serentak dengan cemoohan. Hal ini dilakukan untuk semua peserta secara begiliran pula dieejek oleh yang lainnya. Kedua, pelatihan mengajak orang yang sedang lewat berbicara dengan ekspresi seolah-olah serius, usahakan orang tersebut percaya dengan pembicaraan kita. Kemudian tinggalkan orang itu dalam keadaan percaya apa yang kita katakan. Ketiga, meminta sesuatu kepada orang telah dikenal namun orang itu tidak tahu bahwa yang bersangkutan sedang latihan. Keempat, peserta dibagi kelompok, masing masing lima sampai sepuluh orang satu kelompok. Kelompok tersebut berjalan ke pasar, kampus, sekolah atau ke tempat keramaian lainnya. Salah seorang berpura-pura sakit ditengah keramaian tersebut, sementara yang lain berpura-pura sibuk menolong sehingga orang yang lewat terpancing memperhatikan sekaligus menolong mereka. Kelima, berpura-pura jadi pengemis di trotoar atau pasar dengan make up dan ekspresi yang mantap. Meyakinkan orang seolah-olah benar pengemis, sehingga tak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya pengemis ini adalah para calon aktor yang sedang mengeksplorasi dirinya.
12. Refleksi Aksi dan Menyusun Ide.
Refleksi Aksi, latihan memunculkan sebuah ide garapan, para aktor di beri satu tema lalu dibiarkan sesama mereka mengatur posisi berseberangan dalam membicarakan tema itu. Masing-masing mereka bertahan pada argumen yang diciptakan, andaikan latihan dengan cara ini sering dilakukan, sesungguhnya para aktor sedang mementaskan pertunjukan sederhana disaksikan pelatih. Pertunjukan yang tak terbayangkan sebelumnya pasti dapat terjadi, bahkan mungkin menjadi ide dasar dalam sebuah garapan besar yang akan dipentaskan.
Setelah latihan Refleksi Aksi, langsung diarahkan menyusun kerangka dari yang ditampilkan mereka menjadi sebuah lakon secara teratur dengan posisi-posisi yang mereka atur sendiri. Menyusun ide dalam bentuk kerangka penulisan naskah lakon. Dilanjutkan kerangka penulisan tersebut dimainkan dalam bentuk pertunjukan inprovisasi secara bersama-sama.
13. Anatomi Drama.
Fase ini latihan dipindahkan ke dalam lokal/ruangan belajar. Para aktor muda diberi pembekalan analisis drama, berupa analisis struktur dan pola aplikasi struktur lakon. Mereka diberi tahu pengertian tema, plot/alur, penokohan, foint of viuew dan setting drama. Diajarkan teori analisa struktur drama sederhana misalnya Strukturalisme atau semiotik. Lalu pembedahan tekstur lakon dengan megkaji dialog, mood/rythem, dan spektakel (elemen pemanggungan/bahasa panggung).
13. Interpretasi.
Berbekal ilmu anatomi drama itu, mereka melakukan apresiasi terhadap naskah lakon kemudian menginterpretasi naskah sekaligus lakon drama yang mereka pilih untuk dipentaskan. Calon teaterawan tersebut diberikan satu naskah lakon ringan, lalu di analisis secara struktur dan tekstur. Selanjutnya mereka diwajibkan melakukan presentasi terhadap konsepsi yang telah mereka tulis dan pahami. Dilanjutkan dengan diskusi panjang bahkan sampai berminggu-minggu untuk menguji kecerdasan intelektualitasnya.
14. Proyeksi peran dan Identifikasi.
Proyeksi peran, pelatihan membayangkan tokoh yang akan dimainkan, bila para peserta latihan sudah mempu menginterpretasi drama dan peran maka mereka masing-masing diminta membayangkan prototipe lakon yang akan dimainkan dan mulai melakukan indentifikasi.
Indentifikasi, pelatihan mengidentikkan tipe perwatakan, gimik dan emosional lakon yang dimainkan kepada diri aktor muda yang baru mendapatkan ‘anak kunci’ dunia seni peran. Latihan ini dilakukan setelah ia hafal naskah dan saat itu pula ditanyakan bagaimana ia membayangkan tokoh yang ia perankan. Pelatih terus mengawasi apakah ia berhasil menvisualkan lakon yang diinginkannya.
15. visual peran.
Apabila masing-masing sudah siap dengan visi lakon mereka, maka dilakukan arahan untuk bekerja sama sesama mereka untuk sebuah pertunjukan. Maka kita mulai menyaksikan ‘benih yang disemai mulai berbunga’. Instruktur yang bersusah payah ‘mengkader para aktor muda’ telah berhasil ‘menciptakan’ seniman pemeranan baru yang berkualitas dihadapannya. Cobalah jika tidak percaya, metode inilah yang dikembangkan Sulaiman Juned ketika masih di Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, namun tekhnis pelatihannya menjadi lebih berkembang di Peserta pelatihan Padangpanjang, semenjak Sulaiman Juned kembali dari pengembaraan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta-Jawa Tengah. Ia mulai bersentuhan dengan teaterawan nasional Nano Riantiarno, Putu Wijaya, Saini KM. Juga bersama kritikus seni Prof. Dr. Soediro Satoto. Dan Komposer dunia Prof. Dr. Rahayu Supanggah. Persentuhan ini yang menghasilkan proses/metode latihan bagi peserta pelatihan seperti yang tertulis dalam buku ini.
Pembekalan yang terpenting terhadap para aktor muda adalah, moralitas agar mereka memegang teguh seni keimanan dan budi pekerti, anjuran terus belajar dan menimba ilmu, jangan berprilaku sombong, karena merasa mampu menjadi pemeran yang baik. Sesungguhnya orang teater harus rendah hati dan berbudi pekerti luhur. Demikianlah seharusnya. Salam kreatif.
Selamat Berlatih
Kepustakaan
Al-Ghazali, Dr. Muhammad, Perbaharui Hidupmu, Gema Madinnah Makkah Pustaka, 2007
Djelantik, A.A. M, Estetika Sebuah Pengantar, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.
Duracman, Yoyo C, Sembung, F. Willy, Pengetahuan Teater, Sub Proyek ASTI Bandung 1985/1986.
Freud, Sigmaound, Psikologianalisis, Perpustakaan Nasional RI, Katalog dalam Terbitan, Ikon Teralitera: Kemetiran Kidul.
Imran, T. Abdullah, Monolog dan Dialog Dalam Drama, Jurnal Seni Ilmu Pengetahuan dan Penciptaan Seni 1/02 Juli 1991
Jung, Carl Gustav, Memperkenalkan Psikologi Analisis (Pendekatan kepada Ketidaksadaran) Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 1989
Juned, Sulaiman, Aktor: Tubuh Spektakel Hidup Di Atas Pentas. Jurnal Ekspresi Seni.
STSI Padangpanjang, Padangpanjang: 2001
Rendra, Bermain Drama, Pustaka Jaya, Jakarta 1984.
Sartre, Jeand Paul, Psikologi Imajinasi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Thalabi, Thajuddin, M.Ag, Hasan, Syamsi, Muh. Imam Al-Ghazali, Keajaiban Hati. Penerbit Amalia Surabaya 2007.
Yusriwal, Estetika Seni Post-Moderen di Indonesia,Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni, Komindok STSI Padangpanjnag, Vol 1 No 1, September 2001
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 09:03 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Latihan eater Untuk Sekolah 1
Pola pelatihan calon aktor/aktris di Peserta pelatihan adalah penggabungan pelatihan tekhnis dan psikologis. Literatur yang menjadi acuan adalah literatur umum tentang pola-pola latihan yang sudah ada digabungkan dengan ekplorasi teori-teori psikoanalisis atau ilmu ketidaksadaran. Dalam kehidupan arkhetipe dan simptomp-simptomp yang tersimpan di area amigdala adalah kumpulan dari simbol yang tidak akan berdusta. Kemampuan mengelola arkhetipe ini akan menjadi modal seorang aktor dalam menampilkan akting yang estetik di atas panggung.
Secara garis besar pelatihan itu sebagai berikut:
A. Pelatihan Tekhnis
Pelatihan Tekhnis yang dilakukan meliputi pelatihan keterampilan fisik dan psikologis. Hal ini dikarenakan teater menyangkut keterampilan tubuh dan keterampilan kejiwaan. Keterampilan tubuh untuk visual sedangkan pelatuhan psikologis untuk melatih kepekaan.
1.Pelatihan Tubuh.
Persiapan tubuh bagi seorang aktor/pemeran melalui latihan olah tubuh yang memerdekakan diri untuk mengabdi kepada akting. Hal yang harus diperhatikan yaitu; membuat/ menciptakan tubuh berada dalam keadaan pasif. Ini dilakukan pada tubuh atau sebelum tubuh memasuki tahap aktivitas. Tekanan diberikan pada gerak yang sifatnya menurun. Selanjutnya pada gerak menurun dan menaik. Berat atau ringan tergantung pada beberapa banyak satuan berat jatuh pada titik pusat ini. Titik-titik puncak menaik dan menurunkan tubuh, luar biasa banyaknya. Segalanya harus menyatu dalam bentuk yang utuh dalam tubuh.
Gerak dan suara juga harus diperhitungkan. Gerak-gerak reflek dengan aksi-aksi dan suara-suara sering terjadi bersamaan. Perubahan terjadi pada kondisi badannya, sikap tubuh dapat menumbuhkan suara yang berlainan. Ritme pernafasan, detak jantung, gerak-gerak kecil selalu berhubungan di dalam tubuh. Kekuatan membebaskan tubuh kemudian menintegrasikan setiap bagian yang telah terbebaskan dan meleburkan diri ke dalam suatu fasilitas dengan mengalami berbagai eksrinuitas yang membantu menyadari kondisi keseimbangan.
Analogi tubuh adalah setumpuk tanah keras di olah menjadi keramik. Tanah itu harus di siram air, kemudian diinjak-injak, dikepal, dipipihkan, dilonjongkan sehingga menjadi lentur dan rata. Barulah kemudian dapat di olah sesuai keperluan. Mengolah tubuh seorang aktor harus mau berpayah-payah berlatih, seperti melatih kekuatan fisik dengan olah raga, minimal berlari setiap pagi atau olah raga lain secara kontinyu untuk melatih stamina, tentunya dengan menjaga keseimbangan gizi. Sulaiman Juned bersama Kuflet merangkum teknis pelatihannya.
Dilanjutkan dengan pelatihan media ekspresi, mengkaji tubuh sebagai media komunikasi penting dalam hidup. Pertama melatih ekspresi kening dengan teknik mengernyitkan dari hitungan 10 sampai 15 kali. Kedua, mengernyitkan alis persis sama dengan cara pelatihan kening. Ketiga pelatihan mata, melirik kekanan-kiri sehabisnya, melihat keatas-bawah, memutar bola mata se arah jam jam lalu sebaliknya. Menatap jauh, menatap dekat, memperhatikan dan memejam-mejamkam mata. Kemudian itu otot hidung, menggerakan otot hidung sehingga menjadi kerutan-kerutan. Elemen selanjutnya mulu dengan membuka lebar-lebar lalu mengeluarkan lidah dan menjulurkannya sekuat mungkin. Lidah dimasukkan kembali ke dalam mulut lalu ujung lidah di gigit, selanjutnya menolak pipi kiri-kanan dengan ujung lidah. Diteruskan dengan memutar lidah didalam mulut tertutup searah jarum jam-sebaliknya. Latihan ini dapat dilakukan setiap hari, semampu kita untuk mengasah kemampuan ekspresi wajah dan melatih kualitas artikulasi. Latihan mulut cemberut dan tersenyum dalam keadaan mulut tertutup.
Setelah latihan wajah maka media ekspresi yang vital adalah tangan. Tangan dilatih untuk berbicara dengan suara yang tidak dikeluarkan, tangan dikepalkan diberi kekuatan pada pergelangan tangan lewat pernafasan. Ini melibatkan dua orang atau lebih peserta latihan. Gunanya adalah agar calon aktor ketika berakting tidak kebingungan menggunakan tangannya, tangan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Berikutnya Bahu, latihannya adalah mengangkat bahu, menggerak-gerakkan bahu. Selanjutnya melatih otot dada-perut-pinggang dengan menggerak-gerakkan secara stakato. Kemudian Lutut membebaskan tubuh, dilanjutkan kedua kaki bergerak untuk mengungkapkan kata-kata menggunakan kaki diantara sesama anggota latihan.
1. pelatihan Sukma
Pelatihan Sukma dikomunitas seni “Kuflet ajaran Sulaiman Juned, tahapannya berikut:
Pelatihan sukma diawali dengan Kosentrasi yang merupakan suatu kesanggupan memungkinkan untuk mengerahkan kekuatan rohani dan pikiran ke arah suatu sasaran yang jelas. Dasar dari ajaran kosentrasi adalah penguasaan diri sendiri melalui proses mencari-mencari, menciptakan sebuah peran dalam latihan harian. Proses menciptakan konstruktif serta menciptakan sebuah peran pada saat tampil dalam pertunjukan di panggung.
Sasaran kosentrasi seorang aktor adalah sukma. Baik itu terhadap sukmanya sendiri, orang sekitarnya, atau sukma manusia secara menyeluruh (masyarakat penonton). Hal ini secara tidak langsung memerlukan kosentrasi terhadap emosi-emosi. Melatih kosentrasi terhadap emosi-emosi, panca indera terhadap sesuatu yang fiktif dan semu. Melatih keadaan emosi dalam sukma melalui kemauan-semangat-pikiran-fantasi. Materi hidup manusia adalah raga dan sukma, maka kegiatan hidup seorang aktor merupakan kegiatan bernafas, bergerak, beremosi, berfikir, berkehendak serta berprestasi dan siap menghadapi segala kondisi. Emosi merupakan perangkat seorang aktor untuk mengungkapkan hal-hal yang berada di luar dirinya. Cara pengungkapan tersebut dengan imajinasi, pengandaian dikembangkan menjadi pengalaman atau ingatan diri sendiri.
Memahami diri sendiri, pelatihan ini dilakukan melalui pengenalan hakekat hidup dan arahan menuju keazalian, referensi kuflet adalah filoshopi Al-Ghazali tentang hati, jiwa dan raga. Kemudian memberikan arahan kekuatan akal pikiran manusia, pemahaman esensi kekuatan bawah sadar seperti yang diajarkan Jung, Freud, Cole dan John Kehoe. Sebuah simpulan sederhana tentang dunia adalah kosmologi besar dari kekuatan kosmologi kecil (manusia) dan manusia adalah bagian dari hologram jagad raya yang dapat merubah sistem itu dengan aktivitasnya. Latihan ini banyak menggunakan metode diskusi dan mengajak berfikir serta mengasah logika.
Selanjutnya mengikuti kata hati, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh hati asal tidak menjadi perusak dan membahayakan orang lain. Latihan ini sangat berguna bagi orang teater untuk melatih kepercayaan diri. Tanpa pelatihan ini, manusia teater tak mampu merealitaskan pertunjukan dari teks-tekstual-kontesktual.
2. Pelatihan Vokal
Suara andalan aktor untuk mengantarkan dialog sampai ke telinga penonton, konsep ini yang di anut/diajarkan Sulaiman Juned berasama Kuflet kepada seluruh anggotanya. Suara merupakan perangkat ekspresi manusia. Sementara bagi aktor perangkat ekspresi suara bertambah fungsi dan takarannya yakni menjadi alat yangdibentuk dan dimainkan untuk mewujudkan sosok peran. Latihan pengucapan dan membaca naskah haruslah mendapat tempat (porsi) yang khusus.
Pembebasan suara, membebaskan manusia melalui tubuh dan pikiran yang dimiliki manusia. Sumber suara (vokal) menerima rangsangan sensitif dari otak yang bekerja menurut proses pisik otot tubuh menciptakan pengucapan. Suara akan terhambat dan rusak oleh ketegangan tubuh, gangguan emosional dan intelektual, gangguan peralatan suara serta spritual yang membatasi keterbatasan bakat, imajinasi dan pengalaman. Suara (vokal) andalan utama bagi seorang aktor dalam pencapaian makna untuk melahirkan pengucapan yang sempurna.
Pembebasan olah suara (vokal) mengacu kepada kemampuan berbicara dengan emosi yang mendalam, sederhana, dan terpancar dari hati. Pembebasan suara/vokal terangkum dalam empat tahapan proses pembelajaran Pertama, proses pembebasan Kedua, proses pengembangan (tangga resonasi) melatih saluran resonator, ditambah latihan melepas suara dari tubuh. Melatih resonator hidung, melatih jangkauan dan resonator tengkorak. Ketiga, kepekaan dan tenaga, menggali kekuatan pernafasan, artikulasi dalam berdialog melahirkan vokal. Keempat, menjalin naskah dan akting serta menelaah kata-kata atau dialog yang berhubungan antara suara dan akting.
Pelatihan vokal dalam kegiatan teater meliputi, vokal untuk berbicara di atas pentas dan vokal menyatukan nada dasar dalam dialog sesama aktor. Kepentingan berbicara di atas pentas maka olah vokal yang digunakan adalah pengolahan keterampilan membuka laring, proses latihannya berdiri tegak lurus, pandangan lurus ke depan. Lalu menunduk sembilan puluh derajat, bukakan rahang atas perlahan-lahan sampai terbuka lebar, rahang bawah tetap tidak bergerak. Ketika mulut sudah terbuka lebar, keluarkan suara auman menirukan suara harimau. Ulangi sampai beberapa kali semampu kita. Latihan ini berguna merangsang resonator tengkorak dan artikulasi.
Pelatihan berikutnya adalah pernafasan. Pertama, latihan pernafasan dada melatih untuk mengeluarkan suara tua atau bengek. Caranya udara dihirup pelan-pelan melalui hidung kemudan diisikan kedalam rongga dada, dada terasa terisi udara sehingga dada berkembang. Calon aktor diinstruksikan melepaskan udara tersebut dengan mulut lewat ujung lidah menempel di gigi depan atas, nafas dikeluarkan berawal tanpa suara, desisisan, dan gumaman panjang. Kedua, pernafasan perut tehknik ini berguna untuk memunculkan power suara standart, membuat laring tenggorokan tidak terpaksa sehingga dalam pertunjukan tidak pernah kehabisan suara. Caranya adalah menarik nafas dengan hidung pelan-pelan diisikan ke perut, udara tersebut terisi seperti air mengalir, perut mengembung seperti balon dan keras. Kemudian lepaskan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas, berawal tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Ketiga, pernafasan diagfragma, mampu mengahasilkan kekuatan suara seperti letupan bom semakin tinggi semakin bulat suaranya. Caranya dengan menghirup udara lewat hidung diturunkan ke rongga tulang belakang, selanjutnya berjalan ke perut, lalu berada menggumpal diantara rongga dada dan perut, nafas di tahan. Kemudian dilepaskan melalui mulut dengan lidah menyentuh gigi depan atas, nafas keluar tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Keempat, pernafasan pinggang, latihan ini menarik nafas lewat hidung lalu membawanya ke buah pinggang kiri dan kanan, buah pinggang mengembung seperti balon, nafas ditahan sejenak-lalu dikeluarkan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas. Nafas keluar berawal tanpa suara, dengan desisan, dan gumaman panjang. Kelima, pernafasan total. Pernafasan ini dilakukan sambil tidur terlentang, pejamkan mata lalu kos3entrasi ke pernafasan. Hirup udara dengan hidung, selanjut tahan ditengkorak kepala, perlahan-lahan dibawa turun nafas tersebut ke kening, ke mata, hidung, mulut, dagu, leher, dada, perut, pinggang, paha, lutut, betis, pergelangan kaki, jari kaki, kuku kaki-lalu keluar nafasnya. Buka perlahan-lahan matanya dan rasakan kedamaian yang luar biasa. Pernafasan ini juga sangat berguna untuk melancarkan aliran darah di seluruh tubuh melalui pemompaannya terhadap syaraf. Juga sangat berguna buat membersihkan memori otak.
Kemudian kepekaan musik, seorang aktor dituntut peka terhadap musik, bukan hanya harus menangkap mood/rythem yang diinginkan sutradara saat pertunjukan. Juga sebagai kemampuan penunjang, bagaimana bila ia harus berperan sebagai orang yang mampu bernyanyi dengan iringan musik. Disinilah perlu pembinaan terhadap kepekaan untuk musik. Metode latihannya ada empat tahap, Pertama, melatih memainkan tangga nada kemudian menekan nada la, atau (7) maka calon aktor diperintahkan membunyikannya dengan vokal secara pas. Kemudian tangga nada diulangi pelatih membunyikan nada lain calon aktor diperintahkan membunyikan nada itu misalnya yang dibunyikan :1 2 3 5 6 7 i, kemudian dibunyikan 4 maka calon aktor harus menyuarakan dengan vokalnya fa dengan intonasi yang pas. Latihan ini dilakukan terus hingga tembakan nada yang dilakukan calon aktor benar-benar baik. Latihan berikutnya menembak akoor, maka pelatih memainkan acord misalnya C-F-G-C maka kemudian mengulangi C-F, C-G lalu memerintahkan calon aktor menyuarakan vokal aaaa, melalui intonasi yang pas dengan akord. Ini dilakukan sampai kepekaan akordnya baik. Dilanjutkan dengan latihan terhadap kepekaan ritme, kepekaan ritme dilakukan dengan mengetuk-ketuk meja atau alat lain. Ketukan yang tepat misal ketukan empat perempat, dua pertiga atau dua perempat, calon aktor diperintahkan berdendang/berhikayat dengan gumaman mengikuti ketukan tersebut. Latihan terakhir, menyanyikan lagu dengan iringan musik dari si pelatih. Demikianlah latihan vokal untuk teaterawan pemula demi mempersiapkan seorang yang mahir dalam bidang teater berguna untuk perkembangan teater masa mendatang.
1. Pelatihan Psikologis
Pelatihan Psikologis yang dilakukan bagi peserta pelatihan adalah proses menggali kemampuan bermain drama yang terpendam pada setiap orang. Tidak ada manusia yang tidak berbohong dalam hidupnya, bila ada manusia yang tak pernah berhohong hanya Rasulullah Muhammad SAW, itupun dikarenakan ia diciptakan Allah sebagai rahmat bagi manusia lainnya. Sedangkan manusia lain se-aulia apapun pasti, sesekali pernah menikmati ‘racun’ dusta dalam perjalanan hidupnya. “Bohong” yang ‘dimanfaatkan’ untuk ekspresi ‘jujur’. Bila direnungi, teater merupakan usaha manusia mengungkapkan kenyataan dengan kepura-puraan. ‘Mengeksploitasi’ kebohongan maka kejujuran harus dikemukakan maka secara mutlak manusia teater mampu memelihara kejujuran dalam setiap ekspesi kesenimanannya.
2. Melatih Konsentrasi
Kosentrasi sangat penting dalam bermain teater. Hal ini berguna mengasah titik fokus sehingga tidak ‘liar’ saat bermain sebagai aktor. Pelatihan kosentrasi dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut; Pertama, memposisikan calon aktor dalam keadaan berdiri berhadap-hadapan, kemudian saling tatap tanpa reaksi selama lima belas menit. Bila masih ada yang tertawa atau tidak fokus, latihan di ulang sehingga seluruh peserta latihan benar-benar mampu menguasai emosi. Kedua, memerintahkan satu kelompok mengganggu kelompok dihadapan mereka dengan kata-kata atau tindakan (laku). Sedangkan yang berada dihadapannya dilarang melakukan reaksi apapun selama tiga puluh menit, sementara kelompok yang di ganggu kosentrasinya tetap tidak bereaksi apa-apa. Bila latihan sukses, maka giliran kelompok yang diam ‘menggoda’ kelompok yang mengganggunya dan kelompok pertama tadi tidak boleh bereaksi pula selama tiga puluh menit. Ketiga, kelompok pertama berbaris lurus dan melangkah pelan tanpa ekspresi sejauh dua puluh meter kelompok kedua mengganggu mereka dengan dialog atau perbuatan untuk mengusik kosentrasi. Kelompok yang sedang berjalan dilarang memberikan reaksi hingga sampai ke tujuan. Selanjutnya, kelompok pertama yang sudah sampai ke tujuan maka kini kelompok kedua juga melakukan hal serupa sedang kelompok pertama mengganggu kosentrasi. Latihan berikutnya, seluruh kelompok berbaris lurus dengan merentangkan kedua tangan ke depan, menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut. Pernafasan dapat memakai teknik pernafasan dada, perut dan diafragma. Ketika kaki bergerak dengan sangat pelan (lambat), sejalan dengan nafas keluar perlahan, ketika tumit kaki yang digerakkan menyentuh ibu jari kaki yang stasis maka nafasnya keluar habis. Latihan ini, dilakukan menuju titik yang telah ditentukan dengan durasi waktu 30 menit.
Selanjutnya latihan dengan merentangkan kedua tangan, lalu berputar searah jarum jam. Berputar lima sampai dua puluh kali putaran, berputar dengan kecepatan tinggi tanpa menutup mata, lalu berhenti dan mata menatap ke arah satu titik. Keadaan ini baru boleh bergerak kembali ketika kondisi tubuh sudah sangat normal. Berat memang, latihan ini disamping sangat berguna untuk kosentrasi juga berguna untuk keseimbangan dan ketahanan tubuh.
3. Mengikuti kata hati
Mengikuti kata hati merupakan latihan kepekaan terhadap rasa, agar para aktor terlatih untuk jujur pada diri sendiri, dan tidak canggung melakukan akting saat memerankan lakon di atas pentas. Latihan ini dilakukan dengan berkosentrasi terhadap kondisi yang sedang ia rasakan. Kemudian bebas melakukan ekspresi segala perasaan dengan tindakan, dialog dalam wilayah yang sudah disepakati batasannya, agar mudah diawasi oleh instruktur/pelatih.
4. Menjadi diri sendiri
Menjadi diri sendiri adalah pelatihan mengikuti kata hati, latihan ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor memperlihatkan segala kecenderungan tersembunyi dalam dirinya, tanpa harus ‘berdusta’ pada dirinya sendiri. Pembebasan terhadap sikap-laku-ingatan-emosi; dibolehkan untuk tertawa, menangis, melamun, bermain, menjadi apa saja asal tidak merusak,merugikan orang lain.
Bersambung…
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 09:02 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Mengarang Drama dari Cerita Lama
1. Cerita Kakek jadi Drama
1. Pendahuluan
Disekitar kita sering terdengar dongeng, legenda bahkan sejarah sebuah tempat yang diyakini kebenarannya oleh orang-orang tua. Banyak diantara kita yang percaya banyak pula yang menganggap cerita-cerita tersebut tidak masuk akal. Namun pernahkah kita berfikir bahwa cerita-cerita itu adalah asset budaya dan kekayaan sastera yang mesti dilestarikan.
Sebagai seorang guru mungkin kita sering dihadapkan pada kesulitan bahan untuk mengajarkan drama, yang sangat memungkinkan adalah sedikitnya drama yang berkaitan dengan kebutuhan kita, kebutuhan itu adalah (1) Drama yang kita ajarkan harus sesuai dengan tingkat kemampuan daya fakir peserta didik, (2) Harus membumi agar anak-anak tidak kesulitan melakukan interpretasi, (3) memiliki kekuatan dan kualitas cerita yang baik serta memiliki dramatic yang bagus agar mudah diolah menjadi pertunjukan yang bagus.
Sebenarnya tidak perlu bingung untuk semua ini. Dengan cerita rakyat yang ada disekitar kita maka dengan mudah drama yang memenuhi criteria tersebut kita lahirkan. Dengan sedikit perenungan dan kreatifitas bahan baku drama yang dibutuhkan dapat dibuat, hasilnya tentu akan sangat sesuai dengan kebutuhan bahkan selera kita, selain itu akan menjadi kebanggaan karena bahan ajar yang kita gunakan hasil produksi sendiri, sebagai cerminan kita adalah guru yang kreatif.
2. Mencipta Drama Dari Cerita Rakyat
a. Bahan Baku
Bahan baku adalah kebutuhan dasar dari setiap kreatifitas, dalam menngarang drama juga ada kebutuhan bahan baku, dalam konteks ini bahan baku yang dibutuhkan adalah cerita rakyat yang berkembang turun temurun dalam sebuah masyarakat tempat kita bekerja atau mengajar.
Ada dua cara untuk mendapatkan bahan baku, pertama dengan mencari dari buku yang sudah ditulis orang lain, kedua dengan mewawancara orang tua-tua yang banyak mengetahui cerita-cerita rakyat. Bila kita memilih mencari dari buku tentunya perpustakaan adalah tempat yang tepat, namun bagi sebagian orang terutama yang jauh dari kota tentu sulit karena akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit maka pilihan yang baik adalah dengan menemui orang tua-tua untuk diminta bercerita pada kita.
b. Membuat Kerangka Karangan
Membuat kerangka karangan adalah proses penyusunan kerangka cerita. Pada dasarnya cerita yang akan kita olah menjadi drama sudah memiliki kerangka. Dalam penyiapan kerangka karya drama ada ilmu yang harus dimiliki yaitu, ilmu alur drama nah dalam hal ini alur yang popular digunakan adalah alur aristotelean, karena sederhana dan mudah difahami, Alur aristoteles terdiri dari:
Introduksi-ressing aksi-klimaks-resolusi.
Introduksi adalah pengenalan tokoh dan posisinya dalam cerita drama.
Ressing aksi adalah penajaman konflik antara tokoh-tokloh dalam drama
Klimaks disebut juga komplikasi yakni ketegangan terjadi diantara tokoh dalam drama.
Resolusi adalah akhir kisah dimana tokoh-tokoh telah sampai pada nasibnya masing-masing.
Dalam menulis drama yang bersumber dari cerita rakyat boleh digunakan alur yang sudah ada dalam cerita bias juga menciptakan alur baru sesuai selera asal alasannya jelas.
c. Mulai Menulis Drama
Menulis drama berbeda dengan menulis prosa, disini akan dijelaskan pola penulisan drama untuk panggung.
1. Teknik penyampaian situasi.
Dalam prosa penyampaian situasi digambarkan dengan jelas pola deskripsinya menjelaskan dengan detail sesuatu yang akan dilukiskan dalam drama hanya garis besarnya saja, contoh
1. Pola prosa.
Dalam ruangan itu terdapat sebuah lemari kayu usang, disampingnya ada sebuah kursi goyang tua, meja tamu dari rotan terletak ditengah ruangan dengan empat buah kursi rotan yang mengelilinginya dari empat penjuru. Dinding rumah terbuat dari bamboo dengan dan sudah lapuk oleh zaman. Lantai tanah agak basah, sebelah kiri ruangaan ada pintu kekamar ditutupi gorden biru yang sudah usang, Rini terlihat duduk disalah satu kursi, air matanya berlinang…
2. Pola drama
RUANG TAMU, RINI DUDUK DIKURSI ROTAN, AIR MATANYA BERLINANGAN.
2. .Teknik penulisan dialog.
1. Pola prosa,
Rini melangkah ke pintu depan, menyibak tirai kemudian berkata,
“untuk apa lagi kamu kesini.”
Ridwan tidak peduli dengan ucapan Rini ia segera merangsek masuk kemudian duduk terpekur dikursi rotan yang reot matanya basah,
“maafkan aku Rini, aku mengaku bersalah.”
Rini menatap tajam, hatinya terbakar,
“aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku.”…
2. Pola Drama
Rini : (Menuju pintu) Untuk apa lagi kau kemari!
Ridwan : (Masuk dan duduk dikursi, sedih, menyesal) Maafkan aku Rini aku mengaku bersalah.
Rini : (menatap tajam, marah) Aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku…
3. ,Karakteristik Drama Panggung
Berbeda dengan prosa, baik cerpen maupun roman, drama memiliki cirri khas sendiri. Bila cerpen, novel maupun roman memungkinkan penulis untuk menjelaskan seluruh situasi yang diinginkan Drama hanya bias menggambarkan garis besar saja. Drama terhukum kebutuhan pentas yang tidak mungkin memvisualkan beberapa hal, yaitu 1. emosi tokoh (ini tanggungjawab actor) 2. Tempat (ini tanggungjawab piñata setting, 3. waktu (tanggungjawab piñata cahaya). Namun drama akan sangat kuat bila ia sampai pada proses pentas, saat seorang sutradara melakukan interpretasi maka dengan latihan rutin dan kerjasama pemeran, sutradara dan kru artistic ia akan muncul sebuah peristiwa cerita yang menarik untuk dinikmati.
4. Penutup
Demikianlah sekilas mengenai pola penulisan cerita rakyat menjadi drama untuk lebih jelasnya kerjakanlah tugas berikut:
1. Carilah sebuah cerita rakyat tentukan alurnya.
2. Rubahlah menjadi drama panggung untuk siswa SD, SMP atau SMA.
Selamat berlatih
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 09:01 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Mencipta Tokoh Drama
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 09:00 2 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Peran Lebih STKIP
POSISI STKIP YPM BANGKO SEBAGAI AGEN PERUBAHA PENDIDIKAN IKLIM PENDIDIKAN DI MERANGIN STUDI KASUS MASYARAKAT KUNGKAI
BAB I
PENDAHULUAN
Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal mempunyai tiga missi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau lebih dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga missi yang diembankannya tersebut bukanlah missi yang ringan untuk direalisasikan. Missi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas. Kemudian untuk menghindari stagnasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada tuntutan zaman, maka dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian.
Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh perguruan tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.
Berdasarkan missi yang diembannya maka dapat dikatakan bahwa Perguruan Tinggi mempunyai dua peran, yaitu sebagai lembaga kajian dan sebagai lembaga layanan. Sebagai lembaga kajian maka Perguruan Tinggi mengembangkan ilmu sebagai proses, sedangkan perannya sebagai lembaga layanan menghasilkan ilmu sebagai produk.
Dalam posisi sebagai lembaga kajian dan lembaga layanan maka Perguruan Tinggi berfungsi sebagai konseptor, dinamisator dan evaluator pembangunan masyarakat baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Fungsi konseptor terwujud melalui produk ilmiah yang dihasilkannya. Melalui serangkaian tindakan imiah yang dilaksanakan, Perguruan Tinggi hendaknya mampu memprediksi kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan, tetapi pada saat itu juga memiliki kemampuan menyusun suatu teori atau konsep yang dibutuhkan pada masa kini.
Fungsi dinamisator secara langsung terlihat pada lulusan Perguruan Tinggi yang terdiri dari tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berperan di dalam masyarakatnya. Sehingga tenaga-tenaga ahli tersebut dapat berperan sebagai dinamisator dalam laju pembangunan masyarakat. Banyaknya tenaga ahli lulusan Perguruan Tinggi yang terlibat dalam gerak pembangunan dimungkinkan timbulnya pemikiran-pemikiran baru, langkah-langkah inovatif yang konsepsional dan lahirnya aspirasi-aspirasi baru.
Selanjutnya fungsi evaluator dilakukan bersama-sama oleh segenap warga sivitas akademika di dalam Perguruan Tinggi, melalui penelitian terhadap berbagai dampak pembangunan. Dengan pengertian yang lebih luas maka Perguruan Tinggi hendaknya mampu bertindak sebagai pelopor pembaharuan dan modernisasi. Kemudian bersamaan dengan itu Perguruan Tinggi mampu pula bertindak sebagai agen perubahan sosial sekaligus sebagai pengawas sosial, sehingga dapat memberi warna terhadap arah laju perkembangan dan pembangunan masyarakat.
Di antara berbagai masalah pendidikan nasional yang sampai saat ini terus menjadi perhatian ISPI adalah perlunya Pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, bersama seluruh komponen bangsa untuk secara terus menerus melakukan berbagai upaya yang bersifat strategis, antara lain sebagai berikut.
1. Upaya-upaya konseptual-filosofis untuk mengelaborasi lebih jauh prinsip-prinsip pendidikan sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni; pembangunan watak dan peradaban bangsa; paradigma pendidikan yang mencerdaskan bangsa; paradigma pendidikan yang demokratis dan berkeadilan; paradigma pendidikan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan; paradigma pendidikan sistemik yang terbuka dan multimakna; paradigma pendidikan yang memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas; paradigma pendidikan yang mengembangkan budaya dan paradigma pendidikan dengan memberdayakan masyarakat.
2. Kegiatan-kegiatan: penelitian keilmuan pendidikan; penelitian pendidikan disiplin ilmu; penelitian kebijakan pendidikan; penelitian pendidikan untuk pembangunan nasional dan /atau daerah; penelitian pendidikan berbasis jaringan; penelitian dan pengembangan melalui sekolah-sekolah percobaan (seperti lab school); penelitian pendidikan keagamaan; monitoring serta evaluasi proyek-proyek pendidikan; dan kemitraan penelitian dengan luar negeri;
3. Kemauan politik yang kuat dari seluruh komponen bangsa untuk mewujudkan pendidikan untuk pengekalan persatuan dan kesatuan bangsa; pendidikan dalam rangka alih generasi; masalah gender dalam pendidikan; partisipasi politik pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; peran asosiasi profesi kependidikan; dan pendidikan nasional dalam rangka peningkatan daya saing bangsa dalam konteks globalisasi yang memungkinkan dibangunnya masyarakat Indonesia yang berbasis pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society).
4. Pengembangan strategi dan skenario yang sistematik dan sistemik untuk mewujudkan standar nasional pendidikan (standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan); melakukan penjaminan penjaminan mutu pendidikan nasional; mengembangkan profil badan standardisasi penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan; dan mengembangkan konsep standar pendidikan yang dinamis; serta meningkatkan fungsi dan peran lembaga penjaminan mutu pendidikan daerah.
5. Upaya untuk mengelaborasi lebih jauh konsep dan operasionalisasi diversifikasi kurikulum; pengembangan silabus pada tingkat kabupaten/kota; fungsi dan peran Pusat Kurikulum dalam advokasi pengembangan kurikulum di daerah; pengembangan jaringan kurikulum antar daerah; penjaminan mutu bahan ajar; fungsi dan peran Pusat Perbukuan Nasional. Di samping itu, perlu dielaborasi pembelajaran berbasis nilai dan kompetensi; pembelajaran berbasis jaringan; konsep pembelajaran demokratis; pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus; paradigma operasional learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Upaya lain yang perlu dilakukan adalah elaborasi kurikulum substansi nasional wajib: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa; kurikulum sekolah internasional di Indonesia; dan fungsi lembaga penjaminan mutu pendidikan dalam peningkatan mutu pendidikan.
6. Upaya untuk mengelaborasi lebih jauh adalah operasionalisasi konsep penilaian berbasis nilai dan kompetensi; penilaian berbasis portofolio; penilaian berbasis sekolah; konsep dan strategi ujian sekolah; ujian nasional; uji kompetensi; ujian on-line; ujian kesetaraan; akreditasi sekolah/perguruan tinggi; dan peran pendidik dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.
7. Kemauan dan kebijakan politik yang lebih nyata dari Pemerintah untuk meningkatkan profesionalisasi pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; paradigma pendidikan prajabatan dan pendidikan dalam jabatan untuk pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; kedudukan dan fungsi lembaga pendidikan tenaga kependidikan; konsep dan strategi penempatan, pembinaan, dan rotasi tenaga pendidik lintas daerah dalam konteks nasional; fungsi dan peran lembaga penjaminan mutu pendidikan daerah dalam pembinaan dan peningkatan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan.
8. Kebijakan nasional yang sinergis untuk mendudukkan fungsi dan peran pendidikan kedinasan dalam kontek pendidikan nasional; kelembagaan pendidikan kedinasan; program pendidikan kedinasan; ketenagaan pendidik dan tenaga kependidikan lain pada pendidikan kedinasan; kemitraan pendidikan kedinasan dengan pendidikan umum dan prospek pendidikan kedinasan dalam kontek nasional dan global
9. Perangkat Peraturan Pemerintah yang lebih aspiratif; kerangka yang koheren mengenai: desentralisasi pendidikan dalam rangka negara kesatuan RI; kedudukan dan fungsi Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional; perencanaan pendidikan nasional dan daerah; pengangkatan, penempatan, pembinaan, dan pemindahan guru; pengembangan sekolah kejuruan; pengembangan sekolah unggulan/bertarap internasional di daerah; peran serta masyarakat melalui Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan Daerah; manajemen penjaminan mutu pendidikan nasional; kerjasama luar negeri dan kerjasama antar daerah; dan internasionalisasi/globalisasi pendidikan.
10. Konsep dan strategi pendanaan pendidikan yang mampu menopang upaya pemerataan pendidikan yang bermutu, perbaikan sarana dan prasara pendidikan, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan tenaga kependidikan,untuk menopang upaya peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan sehingga realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN/APBD terjamin efisiensi dan akuntabilitasnya.; dan
11. Kajian yang komprehensif dan mendalam tentang kebijakan pemisahan pengelolaan kebudayaan dengan pendidikan nasional khususnya bila dikaitkan dengan prinsip pendidikan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagaimana yang dimaktub dalam Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Berkaitann dengan kenyataan di atas maka perlu kiranya fungsi STKIP Bangko sebagai agen perubahan dalam masyarakat diteliti efektifitasnya. Dengan mengetahui hal tersebut dapat dilakukan evaluasi yang dianggap perlu untuk peningkatan peran STKIP direngah masyarakat pada masa yang akan dating.
II. Perumusan Masalah
Penelitian ini menitik beratkan kepada pandangan masyarakat terhadap institusi STKIP berkaitan dengan kemampuannya mengemban tugas sebagai agen of change dalam bidang pendidikan didaerah Merangin sebagai studi kasus adalah seratus orang warga masyarakat Kungkai dengan berragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan.
Profil STKIP YPM Bangko
Alamat:
Jl. Jenderal Sudirman Km 2 , Bangko 7314, Jambi
Telepon: 0746322655, Fax: 0746322655, Website: , Email: stkip_ypm@yahoo.co.id
Tahun Berdiri:
1980-10-10
Bidang Ilmu yang Dikelola:
Program Studi Jenjang Ijin Operasi
Dikti Berlaku s/d Akreditasi
BAN-PT Berlaku s/d
Pendidikan Matematika S1 03/D/T/2008 2010-01-02
Pendidikan Luar Sekolah S1 3523/D/T/2004 2008-09-01
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia S1 3522/D/T/2004 2008-09-01
Pendidikan Bahasa Inggris S1 03/D/T/2008 2010-01-02
Pendidikan Matematika D-III 1293/D/T/2007 2010-06-07
Pendidikan Ekonomi D-III 2089/D/T/2006 2009-09-10
Pendidikan Bahasa Inggris D-III 580/D/T/2007 2010-03-20
SUMBER DATA: Ditjen Dikti - Depdiknas dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Dosen dan Mahasiswa:
Jumlah Mahasiswa : 1214 orang
Jumlah Dosen : 47 orang
Kapasitas tampung
Sebagai mana ditulis oleh Jambi Independen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bangko terpaksa membatasi mahasiswa baru yang ingin kuliah di perguruan tinggi swasta tertua di Merangin itu. Pada tahun akademik 2009/2010 ini STKIP Bangko hanya akan menerima sekitar 100 mahasiswa baru. Penyebabnya, hanya karena minim fasilitas dan terbatasnya ruang kuliah.
Padahal perkembangan STKIP Bangko beberapa tahun belakangan cukup membanggakan. STKIP Bangko masuk 12 besar PTS terbaik di Kopertis Wilayah X Padang atau rangking 2 dari 32 PTS di Provinsi Jambi.
Ketua STKIP Yayasan Pendidikan Merangin, Tom Olfia S Pd, di hadapan sejumlah wartawan di ruang kerjanya siang kemarin menyebutkan, pembatasan jumlah mahasiswa baru itu tersebab ruang kuliah yang tak lagi memadai.
“Kini STKIP memiliki 21 ruang kuliah yakni di Kampus Pusat, Jalan Sudirman dan Kampus Talangkawo. Karena tak memadainya jumlah ruang kuliah hanya menerima sekitar 100 mahasiswa baru
artinya jumlah tersebut hanya sekitar 30 persen dari jumlah mahasiswa baru yang diterima pada tahun akdemik 2008/2009 ini mencapai 350 orang. Dari hampir 1.000 calon mahasiswa yang melamar perguruan tinggi swasta tertua di Merangin itu.
STKIP memiliki 2.200 mahasiswa dengan lima program studi (prodi). Didukung 46 Dosen tetap, 25 Dosen. Dari jumlah yang ada enam Dosen di antaranya adalah Dosen Negeri dari Kopertis Wilayah X Padang serta 20 karyawan. Kini terdapat 2 Dosen S2 dan dua orang dosennya kini juga tengah mengkuti pendidikan S3 di Pulau Jawa.
Sedang fasilitas, kini STKIP baru memiliki labor micro teaching, labar bahasa dan labor matematika. Di samping itu, selama ini STKIP pernah mendapatkan sejumlah bea siswa bantuan. Namun jumlahnya belum memadai untuk pembangunan kampus yang lebih reprsentatif.
2.2. Peran STKIP sebagao Agen Perubahan Dunia Pendidikan Masyarakat Merangin.
Sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang bergerak dibidang pendidikan didaerah Merangin STKIP sejak Berdiri 10 Oktober 1980telah banyak meluluskan Sarjana Pendidikan yang saat ini telah aktif mengajar disekolah-sekolah didaerah Merangin. Walaupun demikian hal ini belumlah dapat dijadikan satu-satunya alasan bahwa STKIP berhasil sebagai agen perubahan dalam proses pendidikan di Merangin. Untuk mengetahui bagaimana pendapat masyarakat terhadap keberhasilan STKIP membangun dirinya dan memberi manfaat bagi masyarakatnya perlu diadakan survey khusus yang membuktikan bagaimana masyarakat menilai STKIP. Untuk itulah dilakukan survey di daerah Kungkai yang berada tidak Jauh dari bangko. Tempat tersebut termasuk daerah yang belum begitu terpengaruh dengan pola hidup kota Bangko namun dengan jarak yang tidak begitu jauh dari Bangko diharapkan mampu menjadi salah satu sample daerah yang langsung merasakan keberadaan Institusi STKIP terhadap perubahan kondisi daerah-daerah di Merangin berkat kontribusi dan keberadaan STKIP YPM Bangko sebagai agen perubahan dibidang pendidikan. Penelitioan ini dilaksanakan dengan melakukan voting terhadap warga daerah Kungkai yang dilaksanakan dengan pengisian angket. Angket dibawa kerumah-rumah warga. Disela-sela pengisian angket juga dilakukan tanyajawab seputar pendapat responden terhadap peran STKIP YPM Bangko untuk perubahan kondisi dunia pendidikan di daerah Merangin.
Dari hasil angket dan pertanyaan maka diperoleh data sebagai berikut:
Pendidikan Responden Pekerjaan Responden Setuju Kontribusi Positif Tidak Setuju Kontribusi Positif Tidak Tahu Jumlah
SD Tani 40 6 1 47Orang
SLTP tani 10 8 18 Orang
SLTA tani 20 - - 20 )rang
D-2 Sederajat Honorer 6 - - 6 Orang
D-3 Sederajat PNS 4 - - 4 )rang
S-1 PNS 2 - - 2 0rang
jumlah
Data di atas didasarkan kepada beberapa pertanyaan berikut:
Pertanyaan Pilihan ya Pilihan Jawaban tidak Tidak tahu jumlah Indikasi
Anda mengetahui Institusi STKP? 89 11 - 100 positif
Anda tahu tugas STKIP sebagai Agen Perubahan dunia pendidikan? 45 55 - 100 positif
Apakah Fungsi di atas sudah terpenuhi menurut anda 45 40 15 100 negatif
Apakah lulusan STKIP memiliki peran dalam dunia pendidikan disekitar anda? 100 - - - positif
Perlukah STKIP membenahi pola penerapan TRI Dharma Perguruan Tinggi? 4 - 96 - negatif
Besarkah harapan anda untuk perkembangan positif STKIP kedepan? 93 6 1 - positif
Indikasi Umum Positif
Dari pendapat di atas jelas sekali bahwa masyarakat memiliki harapan besar terhadap perkembangan positif STKIP Bangko kedepan. Dari diskusi dan wawancara saat angket diisi juga dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat mengharapkan pada masa yang akan dating STKIP mampu berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar dalam perkembangan pendidikan di masyarakat. Ini tentunya memang sejalan dengan salah satu tugas STKIP Bangko yakni pengabdian masyarakat yang termaktup dalam Tri Dharnma Perguruan tinggi.
Sebagai satu-satunya perguruan Tinggi keguruan didaerah merangin peran STKIP sudah tidak diragukan lagi dalam pembinaan dan pengkaderan pendidik di daerah merangin. Lulusan STKIP sudah banyak sekali yang mengajar di sekolah-sekolah sebagai tenaga sukarela, honor daerah bahkan PNS.
Selain hal di atas program pengabdian masyarakat yang dilakukan para dosen juga diarahkan kepada pemberdayaan pendidikan didaerah Merangin, prpgram Kukerta yang setiap tahun diaksanakan mahasiswa merupakan salah satu andil lain untuk pemveberdayaan pendidikan di Merangin. Berdasarkan penelitian yang telah dilakuan dengan mengambil sample seratus orang maka masyarakat kungkai menilai kecakapan lulusan STKIP adalah sebagai berikut:
Pendapat masayrakat terhadap lulusan STKIP berdasarkan Pendidikan Responden Pekerjaan Responden Tmatan STKIP Berperan dalam pendidikan Masyarakat Tamatan STKIP tidak berarti di Msayarakat Tidak Tahu Jumlah
SD Tani 6 1 47Orang
SLTP tani 10 8 18 Orang
SLTA tani 20 - - 20 Orang
D-2 Sederajat Honorer 6 - - 6 Orang
D-3 Sederajat PNS 4 - - 4 rang
S-1 PNS 2 - - 2 0rang
jumlah
Dari seratus orang yang dijadikan sample penelitian pendapat mereka tentang kegiatan akademis mahasiswa STKIP dalam lingkungan masyarakat adalah sebagai berikut:
Pendapat masayrakat kegiatan mengenai kegiatan Mahasiswa di Merangin. Pekerjaan Responden beemanfaat tidak bermanfaat Tidak Tahu Jumlah
SD Tani 47 1 47Orang
SLTP tani 18 - 18 Orang
SLTA tani 20 - - 20 rang
D-2 Sederajat Honorer 6 - - 6 Orang
D-3 Sederajat PNS 4 - - 4 rang
S-1 PNS 2 - - 2 0rang
jumlah
Demikianlah hasil penelitian tentang animo masyarakat terhadap keberadaan STKIP. Dari keseluruhan fakta yang telah didapat dapat disimpulkan bahwa keberadaan STKIP menda[pat apresiasi yang cukup baik dari masyarakat. Walaupun demikian tentunya seiring perkembangan ilmu pengetahuan maka sudah selayaknya STKIP terus berbenah untuk memperbaiki diri pada masa-masa yang akan dating.
Demikianlah hasil penelitian tentang pendapat masyarakat mengenai peran STKIP YPM Bangko sebagai agen of Change Pendidikan di daerah Merangin. Secara umum dapat disimpulkan bahwa masyarakat luas telah mengakui keberadaan STKIP Bangko telah mampu memberikan kontribusi positif bagi masyrakat Merangin, walalupun masih ada kekurangan disdana-sini namun bukanlah hal yang signifikan karena kontribusi positif yang sangat besar telah diberikan oleh STKIP semenjak berdirinya pada tahun 1980 hingga sekarang.
Keberhasilan STKIP YPM Bangko ini tak terlepas dari usaha STKIP Bangko dalam memberikan pengabdian dalam dunia kependidikan semenjak berdirinya hingga sekarang. Berkaca dari keberhasilan ini sudah selayaknya STYKIP terus berusaha meningkatkan kulitas dab posisibnya sebagai perguruabn tinggi yang professional di masa yang akan dating dan tidak mustahil diproyeksikan menjadi Universitas.
B. Saran
Pada akhirnya pen ulis berharap semoga saja laporan ini bermanfaat bagi kita semua, penulis menerima segala saran dan perbaikan bila dalam penulisan laporan dan penelitian uini masih kekurangan. Untuk masa yang akan dating marilah kita terus giat mengabdi bagi dunia pendidikan didaerah Merangin melalui fungsi dan peran masding-masing yang kita miliki. Akhirnya semoga usaha kecil ini berarti bagi perkembangamn dunia pendiduikan didaerah Merangin umumnya dab STKIP
KEPUSTAKAAN
A.Mukty Nasruddun ” Jambi Dalam Sejarah Nusantara, 1989
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jambi Provinsi Jambi, 1986
Junaidi T.Noor, Khasanah Budaya Kelautan Provinsi Jambi, belum diterbitkan
Lembaga Adat Provinsi Jambi, pokok-poko Adat Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Jilid II Hukum Adat Jambi, 2001
Oemar Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari. Undang-undang Piagam Pencacahhan dan Kisah Negeri Jambi, 1937
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:59 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Tugas Dosen
Tugas dosen di PT selain mengajar mahasiswa, harus terus mengembangkan ilmunya melalui penelitian, dan menerapkan hasil penelitian tersebut melalui pengabdian pada masyarakat. Berarti seorang dosen harus bertindak sebagai :
1. Pengajar. Dosen bukan hanya menguasai materi, namun juga dapat mengajarkannya pada orang lain dengan metode yang baik. Menurut saya, dosen juga tidak hanya mengajarkan hal – hal keilmuan pada mahasiswa, namun juga sikap – sikap yang benar dalam menempuh kehidupan yang sementara ini.
2. Peneliti. Dosen harus meneliti untuk mengembangkan keilmuannya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sikap haus belajar dan selalu ingin tahu sangat diperlukan dosen untuk maju dan berkembang. Di PT luar negeri, sudah lazim bahwa sebagian besar penelitian terbaru muncul dari kampus, bukan industri atau tempat lain.
3. Pelayan masyarakat. Dosen tidak cukup hanya tinggal di “menara gading” PT, namun juga harus mau membumi dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Sebagai tanggung jawab moral dan sosial terhadap masyarakat, dosen harus mau memberikan ilmu yang ia miliki untuk kepentingan orang banyak.
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:56 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Sejarah Jambi
SEJARAH JAMBI
Di Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan 2 kerajaan Hindu-Budha pra-Islam. Sekitar Abad 6 – awal 7 M berdiri KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari,Jambi).Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awak Abad 7 M. dan lagi pada abad 9 M Jambi mengirim duta/utusan ke Empayar China ( Wang Gungwu 1958;74). Kerajaan ini bersaing dengan SRI WIJAYA untuk menjadi pusat perdagangan. Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu sehingga akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar agama Budha sebagaimana catatan pendeta Cina I-Tsing yang berlayar dari India pada tahun 671. Ia belajar di Sriwijaya selama 4 tahun dan kembali pada tahun 689 bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah Budha. Saat itulah ia tulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi bahagian Sri Wijaya.
Abad ke 11 M setelah Sri Wijaya mulai pudar, ibunegeri dipindahkan ke Jambi ( Wolters 1970:2 ). Inilah KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas, sebagai bahan baku kain tenun songket ( Hirt & Rockhill 1964 ; 60-2 ). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347. Di Abad 15, Islam mulai menyebar ke Nusantara.
KESULTANAN JAMBI
“Tanah Pilih Pesako Betuah”. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi hari ini. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, Kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujerat berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disitu, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikurniakan Allah 4 anak, kesemuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang Angsa bawaan tadi mahu naik ke tebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.
Asal Nama “Jambi”
‘Jambi’ berasal dari kata ‘Jambe’ dalam bahasa Jawa yang bererti ‘Pinang’. Kemungkinan besar saat Tanah Pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.
“Keris Siginjai”
Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan ‘Keris Siginjai’. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun keris Siginjai tidak hanya sekadar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.
Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).
“Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah”
Seloka ini tertulis di lambang Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, iaitu : VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan. Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama : 1. Batang Asai 2. Batang Merangin 3. Batang Masurai 4. Batang Tabir 5. Batang Senamat 6. Batang Jujuhan 7. Batang Bungo 8. Batang Tebo dan 9. Batang Tembesi. Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.
Senarai Sultan Jambi (1790-1904)
1790 - 1812 Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
1812 - 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
1833 - 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
1841 - 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
1855 - 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
1858 - 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
1881 - 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
1885 - 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
1900 - 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
1904 Dihancurkan Belanda
Provinsi Jambi
Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah –mungkin agar sesuai seloka adat tadi-. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, Yaitu :
1. Muara Jambi –beribunegeri di Sengeti
2. Bungo –beribunegeri di Muaro Bungo
3. Tebo –beribunegeri di Muaro Tebo
4. Sarolangun –beribunegeri di Sarolangun Kota
5. Merangin/Bangko –beribunegeri di Kota Bangko
6. Batanghari –beribunegeri di Muara Bulian
7. Tanjung Jabung Barat –beribunegeri di Kuala Tungkal
8. Tanjung Jabung Timur –beribunegeri di Muara Sabak
9. Kerinci –beribunegeri di Sungai Penuh
Pada akhir abad ke XIX di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Pu¬tra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.
Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah seba¬gaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya : Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sem¬bilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yai¬tu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.
Secara geografis keseluruhan daerah ¬Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni :
*Daerah Huluan Jambi : meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.*Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pe¬merintahan desa di luar Jawa dan Ma¬dura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pe¬merintahan umum, pengadilan, kepo¬lisian, dan sumber keuangan.
Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin peng¬adilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah peme¬rintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh peng¬hulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.
Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Beng¬kulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam peme¬rintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengko¬ordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan “jambe” yang berarti “pinang”. Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.
Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerin¬ci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan pen¬duduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan meru¬pakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud mem¬perluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa su¬ku ini merupakan keturunan dari per¬campuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut seba¬gai suku Weddoid.
Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “ji¬nak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tem¬pat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Se¬dangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pede¬saan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarang¬annya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup ma¬syarakat desa.
Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-¬istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kam¬pung dsb.
Pakaian Pada awalnya masyarakat pede¬saan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebu¬dayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang mengge¬lembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam mela¬kukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi deng¬an kopiah.
Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.
Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.
Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:
Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila
Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.
Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.
Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya. Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:54 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
DATAKU
BIODATA PENULIS BUKU CATATAN “PERANG” SEORANG SENIMAN ACEH
Wiko Antoni lahir di Rantaupanjang 4 April 1978. aktif berteater semenjak SLTP dengan mengikuti sangar keliling “Taruna Muda” yang merupakan sanggar teater Ludruk dan ketoprak di daerah transmigrasi Hitam Ulu, kabupaten Merangin (sekarang kecamatan Tabir Selatan)..
Sudah menulis sejak SD, pertama kali cerpen dipublikasi adalah “Bunga Merah dalam Dusun” yang mendapat juara 2 lomba menulis cerpen siswa SMA se kabupaten Sarko-Jambi (1995).
Sejak 1998 belajar teater di STSI Padangpanjang. Aktif di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang-Sumatera Barat, di Kuflet selalu dipercayakan sebagai skenografi oleh Sulaiman Juned. Pernah pentas di IKJ-TIM tahun 2000 bersama kelompok teater Hitam-Putih dalam lakon “Menunggu” karya/sutradara Yusril. Menulis drama, Diam (1999), Liliput (2000) Laskar Inong Bale (2001) Gerimis (2005), Amigdala (2006), Dharmasraya (2007), Tak Seindah itu(2007), Skizofrenia(2007), (dibalik Cinta Putri Nilam (2008), Darah-Dara (2008). Tulisan berbentuk essey, Seni Pertunjukan Implikasi Realitas Sastra (jurnal Eskpresi Seni, UPT Komindok STSI Padangpanjang terbit tahun 2000), “Mempertanyakan Sebuah Rumah : Sebuah analisis Multi Disipliner terhadap karya Toni Aryadi”, Jurnal Palanta, UPT Komindok STSI Padangpanjang, “Tragedi Cantoi” Sulaiman Juned, Eksternalisasi Agarophobia, Jurnal Gema Seni UPT Komindok STSI Padangpanjang, (2007). Tulisan kritik seni, “Di atas langit masih Ada Langit: Peperangan Antara Etika dan Estetika” sebuah analisis terhadap karya Indah Panca Priyatiningrum, “Nritta Dewi” Menncari Bentuk, analisis multi dimensi terhadap karya tari Kadek Dewi Aryani, Jurnal Harian FKI No. 2, 4 Festival Kesenian Indonesia, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang. 2001. Artikel, Mencari Cinta dalam Perbedaan, Jurnal FKI, No 3, Festival Kesenian Indonesia, STSI padangpanjang, 2001. Cerpen, Kisah yang Belum Usai” tabloid Mahasiswa laga-laga Seni Budaya No. 211 Th XX No 3 tahun 1998 “Balada Cinta Pengamen Jalanan” Majalah Mashasiswa ‘Laga-Laga’ No 1 th 1 sem 1 tahun 2001. saat ini mengajar teater di SMKN I Padangpanjang. Aktif mencipta lagu-lagu Minang dan lagu Slow Rock. Mempersiapkan diri untuk melanjutkan Studi Pasca Sarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta-Jawa Tengah. (Dek Jal Aceh)
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:52 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Kenangan di Kuflet
KONTAK ‘SENJATA’ DI RUANG KONSEPSI
1. KAMILAH “ORANG ANEH” ITU
By: Wiko Antoni, S.Sn
Proses “Kuflet” sebagian besar tentang konflik Aceh, membuat komunitas ini terlihat ‘beda’ di Padangpanjang. Bila komunitas lain membicarakan isu lokal tentang kebudayaan Minangkabau, atau perkara politik Indonesia yang carut marut. “Kuflet” setia menyuarakan kondisi Aceh dari Padangpanjang. Itu dikarenakan Sulaiman adalah seniman dalam komunitas ini, tak pernah berhenti ‘menelurkan’ karya-karya yang dipresentasikan bersama oleh anggota komunitas dalam bentuk pertunjukan. Drama-drama karya Sulaiman Juned dipentaskan secara berkala, didukung oleh posisi Sulaiman yang membaik sejak tahun 1997, setelah tamat S-1 di STSI Padangpanjang. Ia diangkat sebagai tenaga pengajar, sehingga proses kreatif yang dulu terhambat biaya dan rasa lapar kini mulai dapat diatasi. Karya-karya tersebut mendapat tempat presentasi dalam gedung-gedung pertunjukan di STSI Padangpanjang, Taman Budaya Sumatera Barat dan Gedung TBO Sawahlunto.
Teman-teman di “Kuflet” mempresentasikan karya itu sebagai kesetiaan pada kesenian dan kerelaan melepaskan ego kedaerahan. Mereka lebur dalam konsep berfikir dan frame artistik yang dibangun Sulaiman. Setiap pementasan meskipun bukan berasal dari Aceh, mereka tetap cerdas memainkan lakon sebagai orang Aceh. Perlu dicatat diantara mereka adalah, Ika Trisnawati, saat ini ‘keluar’ rumah menjadi guru di Painan, Sumatera Barat. Leni Efendi, sekarang mengajar di STSI Padangpanjang, Maizul menekuni diri sebagai pengusaha di Dumai. Mereka ini bukan orang-orang Aceh, tetapi dalam konsep berfikir tetap beranggapan kesenian menembus batas kedaerahan sehingga rela ikut lebur dalam berbagai diskusi komunitas mengenai kondisi Aceh. Bahkan menyumbangkan fikiran dan materi untuk kelancaran proses kreatif Sulaiman.
Di tengah maraknya seniman Sumatera Barat atau rekan-rekan dari luar Sumatera Barat mementaskan karya bertemakan Sumatera Barat, atau karya-karya penulis drama asing yang diterjemahkan. Sebagian seniman lain asyik mementaskan karya drama pemenang sayembara Taman Ismail Marzuki (TIM), “Kuflet” konsisten mementaskan karya Sulaiman. Anehnya ini disebut ‘aneh’, padahal tidak ada yang ‘aneh’. Kreatifitas ini proses akomodasi biasa dari sebuah komunitas terhadap kegelisahan estetik angotanya. Barangkali terlihat ‘aneh’ karena disini (Sumatera Barat) kalau seseorang tidak ikut-ikutan “jadi Minangkabau” akan dikatakan ‘aneh’.
Orang-orang “Kuflet” agaknya tidak peduli dengan sebutan ‘aneh’ atau sebagian lagi mengatakan mereka bodoh atau ‘diperalat’ Sulaiman untuk menyuarakan Aceh. Mereka berfikiran komunitas bukan sebagai tempat memunculkan ego kampungan kekanak-kanakan, melainkan tempat berproses kreatif dalam membuka wacana ilmu kesenimanan. Pertunjukan demi pertunjukan dipentaskan, suasana semakin ‘panas’, sebagian dari orang-orang yang kontra terhadap ideologi “Kuflet” mulai ‘berkicau’. Menghembuskan ungkapan bertujuan ‘melemahkan’ perjuangan orang-orang “Kuflet”, “kuflet” dikatakan ‘milik” Sulaiman Juned dan tidak mau memberi peluang kreatifitas bagi anggota lain. Sejauh mereka tidak mengganggu orang-orang ‘aneh’ di “kuflet” penghuni rumah Sulaiman (kuflet) tidak menghiraukan ‘kicauan’ burung dalam sangkar itu. Peristiwa duka terjadi juga akhirnya, hasutan dari OTKP (orang tak kenal prinsip kuflet) merasuki beberapa anggota sehingga pertunjukan seharusnya siap dipentaskan terkendala oleh penghianatan dua aktor penting yang melarikan diri seminggu sebelum pentas. Sebagai ‘orang aneh’ anggota “kuflet” yang lain tidak gamang menghadapi kendala itu. Walaupun aktor penting pergi, pementasan tetap dilanjutkan walau aktor baru hanya punya waktu seminggu untuk latihan. Para OTKP kecewa, misi memberangus proses kreatif “Kuflet” yang dirancang matang gagal total.
Diposkan oleh Wiko Antoni SMK Sharasa di 08:51 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
Laporan Pengabdian Drama
KATA PENGANTAR
Alhamdullah, pengabdian masyrakat ini dapt diselesaikan, walaupun dihambat oleh kendala ketersediaan dana dan jarak yang jauh antara Bangko ke Sungai Tenang, Jangkat namun akhirnya kegiatan dapat beerjalan sesuai dengan rencana. Keterlambatan pelaporan hanyalah karena tidak tersedianya prasarana yang memadai didaerah pengabdian dilakukan, selain kendala Jarak yang cukup Jauh dari Bangko yakni sekitar 118 Kilometer dengan kondisi jalan yang kurang baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh fihak yang telah membantu dalam pelaksanaan pengabdian ini, antara lain,
1. Kopertis Wilyah X Padang yang telah memberikan pelatihan dan pendanaan sebelum pengabdian ini dilakukan.
2. Ketua STKIP YPM Bnagko yang telah memberikan izin selama pengabdian ini dilaksanakan hingga pelaporan.
3. Ibunda Elva Dra. Eriyani Mpd, yang terus memberi tegur sapa demi kemajuan penul;is dalam mengasah kreatifitas intelektual selama berada di Bangko.
4. Kanda Uning yang telah memberi support Semangat dan teguran berkaitan dengan proses pegabdian ini sehingga menjadi “cambuk” bagi penulis menyelesaikan pengabdian ini.
5. Ibu Dr. Yurniwati SE, MS. sebagai pembimbing dengan nafas keibuan yang setia membimbing penulis walaupun dari jarak jauh.
6. Semua fihak yang tak dapat disebutkan satu persatu namun memiliki andil dalam pelaksanaan pengabdian ini.
Pada ujung paparan ini penulis minta maaf kepada semua fihak yang terkorbankan karena keterlambatan laporan ini. Ini bukan kesalahan yang disengaja melainkan, ada hal-hal tekhnis berkaitan dengan jarak dan keadaan alam di lokasi yang menyebabkan penulis kesulitan menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Demikianlah, semoga pengabdian ini bermanfaat bagi kita semua terutama dalam duni pendidikan dan sastera daerah.
Bangko, 28 Agustus 2009
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan
Bab II.Tinjauan Pustaka
Bab.III.Materi Dan Metode Pelaksanaan
Bab.IV.Hasil Dan Pem-bahasan
Bab.V.Kesimpulan dan Saran
· Lampiran:
· Surat Tugas Ketua STKIP
· Foto Kegiatan
· Absen Kegiatan
· Draf Karya Ilmiah Materi Kegiatan
1.1 Analisis Situasi
1.2 Tujuan dan Manfaat
3.2. Efektifitas Kegiatan
3.3 Khalayak Sasaran
3.4 Metode yang Digunakan
4.1. Analisis Umum
4.2 Faktor pendorong
4.3 Faktor Penghambat
4.3 Faktor Penghambat
4.4. Jalannya Kegiatan
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
11
11
33
24
7
77
77
77
88
110
1
112
114
114
116
120
120
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Lokasi pengabdian ini berada didaerah yang jauh dari akses kota bangko.jarak antara Bangko-Sungai Tenang sekitar 120 Km. bila melalui TNKS dan 105 KM bila melalui Tanjung Dalam dengan cara berbelok di ke kanan di Lembah masurai.Sulitnya akses menuju tempat tersebut sudah banyak diketahui. Beberapa Media baik daerah maupun pusat telah menulis tentang situasi tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh beberapa sumber yang penulis himpun dari berbagai media sebelum perjalanan menuju lokasi dilakuan. Memang daerah Jangkat berada diwilayah TNKS yang selalu dijadikan alas an mengapa akses jalan ketempat tersebut selalu tekendala pembangunannya. Namun kenyataan yang sebenarnya daerah ini memang berada di kaki gunung Masurai yang alamnya berbukit-bukit dan sulit untuk dibuka.
Sebelum 1982, praktis tidak ada jalan, kecuali jalan setapak, yang menghubungkan desa ini dengan ‘dunia luar’.Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunialuar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikanhubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci.
Bahkan, salah satu kepala desa (kades) dari kecamatan yang relative ‘bertetangga’, yaitu kecamatan Sungai Manau, menyatakan bahwa ia belum pernah ke Jangkat. Karena itu, hubungan dengan dunia luar itu – seperti desa Lempur di Kabupaten Kerinci, atau ke Bangko –harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 minggu pergi-pulang. Baru tahun 1996, jalan ini selesai diaspal. Saat ini, perjalanan ke Bangko dapat ditempuh sekitar 5-6 jam, dan dilayani oleh 3 minibus berangkat ke dan 3 minibus tiba dari Bangko.Walaupun demikian, tidak berarti bahwa desa-desa di kecamatan ini kurang berinteraksi dengan dunia luar. Sejak lama, perdagangan dengan dunia luar telah berjalan. Laporan Marsden yang bertarikh 1811 mengindikasikan hubungan dagang dimaksud4. Dengan kata lain, walaupun harus membawa barang dagangan dengan berjalan kaki atau naik kuda selama 2 minggu pergipulang hal itu tetap dilakukan untuk memenuhi keperluan yang tidak
diproduksi secara lokal, seperti garam. Demikian pula, riwayat warga desa bersekolah (setelah SD) di luar desapun telah cukup lama berjalan. Salah seorang warga yang menjadi hakim di pengadilan negeri Muara Bungo, misalnya, menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan dan sarjana mudanya pada akhir 1960-an / awal 1970-an di Kerinci. (Fahmi, 2009)
Kondisi lain yang cukup menarik adalah keyakinan kepada dunia supranatural, satu dari 2 marga di kecamatan ini, yaitu marga Serampas, dikenal sebagai tempat berguru. Konon, salah seorang penasehat spiritual Presiden Soekarno, berasal dari marga Serampas ini. Desa studi kasus ini tidak termasuk marga Serampas, melainkan marga Sungai Tenang. Konon, dalam tradisi lisan masyarakat setempat, kedua marga ini masih ‘bersaudara’, dengan marga Serampas sebagai ‘saudara muda’ (Marsden, William. 1999.) dalam buku Sejarah Sumatera. Penerjemah A.S Nasution dan Mahyuddin Mendim dari History of Sumatra (1811dalam Fahmi: 1999).
Sumber lain Infojambi.com merilis sebagai berikut, Nasib masyarakat di Desa Renah Kemumu Kecamatan Jangkat hingga saat ini masih memperihatinkan. Karena ruas jalan menuju ke desanya masih terkendala oleh Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Oleh karena itu, mereka sangat berharap kepada pemerintah untuk dapat membangun jalan menuju ke sejumlah desa di eks Marga Serampas, Kecamatan Jangkat. Jangan ada lagi alasan terkendala TNKS……Sementara TNKS terus juga habis dijarah dan dirusak oleh pendatang dari Pagal Alam, Sumsel dan dari daerah lainnya. Sementara masyarakat asli di Jangkat dan Lembah Masurai malah dilarang untuk membuka lahan untuk membangun kebun kopi dan pertanian lainnya. Sumber : Senin, 16 Februari 2009 08:16 (infojambi.com/NDI)
Saat ini kondisi terisolirnya daerah-daerah tersebut diakibatkan buruknya infrastruktur jalan yang pernah dibangun pada tahun 1980, khusus untuk daerah Sungai Tenang saat ini harus ditempuh dalam waktu 9 Jam dengan kendaraan Bermotor dengan menembus jalan Tanah dari lembah Masurai. Dan 14 Jam bila memutar melewati TNKS.Daerah Sungai Tenang adalah sebuah wilayah kecamatan yang berada di kabupaten Merangin yang dulunya tergabung dengan Kecamatan jangkat yang berada di Muara Madras. Daerah ini memiliki desa-desa yakni desa Rantau Suli, Pematang Pauh, Tanjung Alam, Desa Baru dan Renah Pela an dan dusun Jangkat. daerah ini secara umum masih disebut orang Bangko sebagai Jangkat.
Didaerah ini banyak berkembanga cerita-cerita rakyat misalnya, mitologi Putri Bungsu, Kisah Depati Empat dan Legenda Danau pauh. Cerita- cerita rakyat adalah potensi kesusastraan nasional yang harus tetap dijaga. Karena demikian gencarnya perkembangan tekhnologi informasi saat ini cerita rakyat bias saja akan tenggelam dan tidak dibicarakan lagi.Berkaitan dengan kepentingan pelestarian sastra daerah, juga dikaitkan dengan tuntutan peningkatan kualitas menulis bagi guru-guru di sekolah dasar dan menengah maka dipandang perlu memberikan pelatihan menulis karya drama dengan menggunakan sastra daerah sebagai bahan baku.
Dengan mempertimbangkan kepentingan pelestarian sastra daerah dan materi pengajaran sastra berbasis budaya serta kepentingan pengenalan sastra daerah sejak didni kepada para siswa sekolah dasar dan menengah maka dengan pelatihan ini diharapkan para guru memiliki kemampuan uantuk mengajarkan drama daerah yang ditulisnya sendiri sebagai bahan pengayaan disekolah-sekolah ataupun sebagai pelengkap materi muatan sastera local.
1.2 Tujuan dan Manfaat
A. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk :
1. memberikan keterampilan menulis drama kepada guru-guru Bahasa Indonesa didaerah Sungai Tenang.
2. Melestarikan cerita rakyat yang berkembang dilingkungan setempat.
B. Pengabdian kepada masyarakat ini bermanfaat untuk :
1.Meningkatkan pengetahuan para guru tentang tekhnik mengembangkan gagasan dengan bahan baku cerita rakyat.
2.Pelestarian budaya berupa sastra rakyat melalui pengajaran di sekolah-sekolah sebagai bahan pengayaan pada bidang tudi Bahasa dan sastra atau muatan local.
4. Terealisasinya Program Tri Dharma Perguruan Tinggi
5. Terjalinnya komunikasi ilmiah antara STKIP dan masyarakat.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Erwin Fahmi Juli 2002 menjelaskan tentang pola budaya dan sejarah Jangkat dalam dalam Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi yang diberi judul, “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” ia merilis sebagai berikut,…Persengketaan tanah ladang antara pihak ‘jantan’ dari Kalbu Rajo Nan Pute dengan pihak ‘betino’ dari kalbu Pado Garang, di dusun Tinggi, tahun 1998. Lahan sengketa adalahlahan garapan si ‘jantan’ keturunan dari Pado Garang yang kemudian kawin dengan ‘betino’dari keturunan Rajo Nan Pute. Karena perkawinan ini dan sesuai adat desa tersebut, “jantan’menjadi anggota keluarga Rajo Nan Pute, dan selama hidupnya ia tetap menggarap lahan pemberian orang tuanya tersebut. Sengketa muncul setelah si ‘jantan’ meninggal dunia. Si ‘betino’ dari Kalbu Pado Garang (saudaranya si ‘jantan’) menggugat lahan tersebut sebagai lahan milik kalbunya. Karena tidak dapat diselesaikan oleh kedua keluarga, kasus ini kemudian dibawa ke musyawarah Gedang Bertigo2 untuk diselesaikan. Gedang Betigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan Kalbu Rajo Nan Pute. Hasil musyawarah:• Keluarga Pado Garang melepaskan lahan warisan orang tua si ‘jantan’ tersebut kepada keluarga Rajo nan Pute • Sebagai ucapan terima kasih keluarga Rajo nan Pute memberikan satu kapling tanah rumahkepada keluarga Pado Garang, dalam hal ini saudara perempuan si ‘jantan’. (Fahmi: 2002)
Pengambilan keputusan dalam musyawarah ini adalah Gedang Betigo dan ditandatangani olehkedua belah pihak yang bersengketa dan 2 orang saksi, serta diketahui oleh Gedang Bertigo danKepala Desa. Landasan proses penyelesaian ini adalah adanya kepercayaan terhadap kearifan Gedang Bertigo untuk menyelesaiakan persoalan. Penanganan persoalan melalui mekanisme adat, baik persoalan 'ke dalam'maupun 'ke luar', biasanya dilakukan berdasarkan pengaduan salah satupihak. Atas dasar pengaduan itu, perangkat pemangku atau kepemimpinanadat kemudian menjalankan tugasnya, baik menegur pelanggar melalui tuotengganainya,untuk kasus sederhana, maupun memanggil dan/ataumenyidangkannya (oleh suatu dewan tetua adat dan tuo tengganai pihak-pihakyang bertikai), untuk persoalan yang kompleks. Persoalan yang melibatkandesa lain, karena tidak sepenuhnya berada dalam yurisdiksi satu masyarakatadat, maka ditanggulangi melalui musyawarah antarpemangku adat. Dalam kasus banjir yang mengakibatkan bergelimpangannya balok-balok kayu di desa Koto Depati yang, menurut pengadu (desa Koto Depati), diakibatkan oleh penebangan hutan di hulu sungai oleh warga desa Simpang Kayu, maka penyelesaiannya dilakukan dengan melibatkan 'lembaga adat' tingkat kecamatan, yang dalam hal ini adalah lembaga kecamatan3 itu sendiri. Seperti disinggung di depan, memang tidak di semua desa kajian system pengaturan dan pengurusan menurut adat masih kuat. Secara umum dapat dikatakan makin mendekati dataran rendah (sebagai pusat institusi Negara dan modal), kekuatan sistem pengaturan dan pengurusan adat ini semakin lemah. Atau, dapat pula dikatakan, semakin terbuka jalur transportasi, meluasnya pergaulan sosial atau bahkan asal usul warga dan beragamnya 2 Gedang Bertigo adalah Ninik-mamak yang terdiri dari Kalbu Manti Rajo, Kalbu Pado Garang dan KalbuRajo Nan Pute…dalam sumber yang sama Fahmi di bagian lain: Koto Depati. Sebagai kepala pemerintahan, diangkatlah kepala desa (kades)pelaksanaan uji coba, yang bekerja dari 1980 – 1982, sebelum dipilihkepala desa definitif.
Pada saat itu, yang menjalankan tugas kades uji cobaadalah Pak S, kades sekarang setelah terpilih kembali pada 1993.Dampak penting pemberlakuan UU yang disebut terakhir terjadi setelah1982. Pada 1982 itu, terpilihlah sebagai kades Pak Arif. Berlainan denganpada masa uji coba, pemberlakuan UU 5/1979 pada masa ini telahdidorong lebih jauh, yaitu dengan menempatkan kades sebagai kepala pemerintahan, dengan tanggung jawab meliputi: bidang pemerintahan,pembangunan, kemasyarakatan dan urusan pemerintahan umum,termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban (Penjelasan Umum butir6). Dengan kata lain, sebagaimana berlaku di tempat-tempat lain, kadesmerupakan penguasa tunggal di desa (Jatiman 1995: 239). Demikianlah,maka konsekuensi dorongan tadi adalah ‘diturunkannya’ jabatan DepatiGento dari tingkat desa (dulu dusun) menjadi tingkat dusun…Pola pemerintahan yang rapi sudah pernah ada di Jangkat sejak dulu sebagai mana Djakfar dalam Fahmi (1992: 19) meenulis bahwa sampai awal abad ke-20, masyarakatMarga Sungai Tenang telah hidup dalam suatu konfederasi dengan marga tetangganya, yaitu “…satu kesatuan hukum adat di bawah pemerintahan yang berdaulat penuh, yang dikenal dengan nama Negara Depati Empat Alam Kerinci (NDEAK)”. Pemerintahan NDEAK terdiri atas 7 tanah depati, yaitu masing-masing 4 di Kerinci Tinggi dan 3 di Kerinci Rendah. Marga Sungai Tenang dan marga Serampas mendiami tanah Depati Rencong Telang, bersama warga kecamatan Gunung Raya, sebagian kecamatan Gunung Kerinci. (William. 1999.)
BAB III.
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN
3.1 Kerangka Pemecahan Masalah
Berbagai potensi tersebut di atas akan terealisasi dengan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana metode yang akan ditempuh agar para guru mampu menulis drama dengan basis sastera daerah.
2. Bagaimana guru dapat menjadikan karya drama yang dibuatnya itu sebagai materi pengajaran sastera atau Mulok.
3.2 Realisasi Pemecahan Masalah
Dalam pemecahan masalah ini dilakukan metode sebagai berikut:
1. melakukan pengarahan tentang metode pengembangan ide yang bersumber dari cerita rakyat menjadi kerangka cerita berbentuk prosa.
2. Mengajak peserta menentukan tokoh cerita dan posisinya dalam lakon.
3. mendeskripsikan konflik antar tokoh.
4. menyusun drama.
3.2. Efektifitas Kegiatan
Sebelum perlakuan Bimbingan
Peserta kesulitan menyusun dialog dan komlikasi antar tokoh dalam cerita
Setelah perlakuan Bimbingan
Peserta telah mampu menyusun cerita rakyat menjadi karya drama.
Pemeriksaan Hasil Kegiatan
Evaluasi Awal
Penugasan peserta menyusun karya drama dengan sumber cerita rakyat.
Evaluasi Proses
Melihat efektifitas penerapan keterampilan yang diperoleh peserta apakah memang mampu memberi kontribusi sebagai materi pengayaan pelajaran sastera dan muatan local di sekolah-sekolah. (dalam proses pelaksanaan).
Evaluasi Akhir
Pemeriksaan peserta berkaitan cerita rakyat dengan menyebar angket (dalam proses pengerjaan)
3.3 Khalayak Sasaran
Sasaran pengabdian masyarakat ini adalah guru-guru yang aktif mengajar sastera dan seni di lingkungan kecamatan Sungai Tenang. Baik itu SD SLTP atau SLTA. Dengan demikian maka pada masa pasca uji efektifitas yang ingin dicapai dihadapkan kepada kemampuan mengetahui dan memahami cerita rakyat sesuai dengan apa yang dikembangkan gurunya melalui karya drama yang mereka buat.
3.4 Metode yang Digunakan
Metode kegiatan yang akan dilakukan untuk tercapainya tujuan
Pengabdian Kepada masyarakat ini adalah metode ceramah, diskusi dan
konsultasi. Pada masa pasca uji ini dilihat sejauh amana kegiatan yang diloakukan mampu memberi efek positif bagi perkembangan sastera setempat di sekolah-sekolah.
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Umum4.2 Faktor pendorong4.3 Faktor Penghambat4.3 Faktor Penghambat4.4. Jalannya Kegiatan
Pada tahap awal peserta diberikan penjelasan tentang arah, tujuan dan manfaat kegiatan. Penjelasan tahap awal ini berkaitan dengan pentingnya pelestarian sastera daerah untuk bahan pengayaan dalam pengajaran sastera dan seni. Tahap berikutnya adalah penjelasan contoh-contoh sastera daerah setempat, misalnya cerita Putri Bungsu, dengan motologio Bukit Tungkat, kemudian Deoati Empat, atau Legenda Danau Pauh. Pada bagian berikutnya penjelasan anatomio drama, dilanjutkan dengan konsep ide gagasan, menyusun alur, elemen dramatic kemudian tekhnik penulisan drama. Pada bagian akhir dilakukan evaluasi dengan penugasan.
Pada tahap pasca kegiatan dilakukan observasi tentang efektifitas kegiatan, apakah telah berhasil mencapai sasaran yang diinginkan atau belum dapat tercapai.
4.2 Faktor pendorong
Yang menjadi faktor pendorong dalam kegiatan pengabdian ini adalah :
a. kondisi daerah yang belum banyak terkontaminasi pola fakir konsumtif, dan masih banyaknya cerita rakyat yang berkembang dimasyarakat..
b. Cukup mudah untuk mendapatkan bahan baku kompos.
c. Keingintahuan dari para peserta yang cukup besar terhadap materi pengabdian yang diberikan.
d. Antusiasme dan partisipasi aktif dari para guru untuk mengikuti kegiatan.
4.3 Faktor Penghambat
a. jarak antara guru yang berjauhan, jarak sekolah-sekloah yang berjauhan.
b. sulitnya perjalanan menuju lokasi yang jauh dari Bangko dengan kondisi jalan yang buruk.
4.4. Jalannya Kegiatan
Berdasarkan kondisi saat kegiatan dari tiga puluh undangan yang disebar maka guru yang hadir saat kegiatan hanyalah delapanbelas orang. Dari lima belas sekolah yang diundang hanya sepuluh sekolah yang mengirimkan utusanya yaitu:
1. SD No 184/VI Talang Tembago
2. SD No 46/VI Talang Tembago
3. SD No 234/VI Tanjung Mudo
4. SD 184/VI Talang Tembago
5. SD No 46/VI Kt Teguh
6. SMA N 16 Rantau Suli
7.SD 48/VI Tanjung Alam
8. SD 236/VI Tanjung Alam
9. SD No 60/VI Koto Teguh
10. SMP N 1 Rantau Suli
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan5.2 Saran
Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. peserta memiliki kemampuan menjadikan cerita rakyat sebagai sumber ide membuat karya drama.
2. peserta mampu mengajarkan drama tersebut kepada peserta didik.
5.2 Saran
1.Perlu adanya peningkatan prasarana perhubungan ke lokasi pengabdian untuk memepercepat kemajuan daerah tersebut.
2.Adanya tindak lanjut pelestarian sastera rakyat m,elalui drama oleh guru-guru peserta kegiatan sehigga kegiatan yang telah terlaksana benar-benar memiliki manfaat dalam jangka waktu yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
A.Mukty Nasruddun ” Jambi Dalam Sejarah Nusantara, 1989
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jambi Provinsi Jambi, 1986
Erwin Fahmi Laporan LLI-2 Dinamika Kapasitas Lokal Di Jambi “Alah Ikat Kerno Buatan, Alah Sko Kerno Mupakat” Juli 2002
Junaidi T.Noor, Khasanah Budaya Kelautan Provinsi Jambi, belum diterbitkan
Lembaga Adat Provinsi Jambi, pokok-poko Adat Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Jilid II Hukum Adat Jambi, 2001
Oemar Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari. Undang-undang Piagam Pencacahhan dan Kisah Negeri Jambi, 1937
Wiko Antoni S.Sn, Bundel Tugas Mahasiswa Telaah Drama, Aneka Cerita Rakyat Jambi ,Dokumen Perpustakaan STKIP YPM Bangko, 2008.
infojambi.com/NDI Senin, 16 Februari 2009 08:16
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar