5. Menceritakan Pengalaman Unik.
Selanjutnya membuat posisi melingkar, peserta latihan diajak untuk menceritakan pengalaman paling berkesan; termasuk pengalaman meyedihkan, menyenangkan, pahit, manis, duka, bahagia, sepi, gembira secara bergantian. Kemampuan bercerita secara terstruktur merupakan sasaran utama dalam pelatihan ini. Bila mampu bercerita secara terstruktur, maka dalam pertunjukan teater sang aktor akan mampu membangun relasi antar tokoh, dan seandainya sang tokoh (lawan mainnya) lupa terhadap dialog dalam naskah, pemain lain mampu melakukan eksplorasi yang sesuai dengan teks lakon, sebelum kembali ke pokok permasalahan.
6. Mengelola Agarophobia.
Mengelola agarophobia adalah pembelajaran mendidik aktor berpikir positif dalam konteks mengelola diri untuk kepentingan peran. Kemampuan menangkap teks masa lalu baik itu pahit ataupun manis. Kemudian berbicara dengan suasana emosi; marah, senang, sedih, bahagia, sakit, benci, gembira, lara dengan jujur. Ini berguna untuk melakukan penguatan emosi dalam pemeranan saat menjadi seorang aktor/aktris.
7. Menganalisa lingkungan.
Menganalisa lingkungan, untuk mengasah kepekaan estetik calon aktor terhadap apa yang ada disekelilingnya. Para aktor secara bersama menikmati sekitar tempat latihan dan memanfaatkan apa saja untuk latihan akting. Jika ada pohon, bunga, gedung lapangan bola, maka ia berbicara dengan benda tersebut. Ini berguna untuk mengasah kempuan aktor dalam memanfaatkan set properti saat berperan di atas pentas.
8. Memerankan Lakon hidup.
Memerankan lakon hidup dengan meniru gaya orang yang paling sering di lihat. Aktor memperhatikan tokoh manusia, atau binatang kemudian melakukan aksi dengan teliti dari objek yang dipilihnya. Hal ini agar aktor dapat melakukan pendekatan akting seandainya sang aktor bermain dalam pertunjukan teater bergaya realisme.
9. Konsentrasi Grupping.
Latihan ini berguna untuk meningkatkan empati kerjasama, dilakukan dengan cara aktor memejamkan mata, instruktur melakukan tepukan tangan, dan para aktor harus menuju sumber bunyi itu dalam keadaan mata terpejam. Ini dilakukan selama tiga puluh menit dan di ulang beberapa kali dalam proses pelatihan.
Selain itu, juga melakukan latihan dengan gerakan bersama, salah seorang dari peserta latihan melakukan inisiatif untuk berlari ke satu titik dengan membangun suasana sedih misalnya. Selanjutnya peserta lain melakukan pergerakan bersama dengan suasana yang telah dibangun tersebut. Selanjutnya peserta lainnya harus mengambil inisiatif untuk melakukan grupping dengan suasana baru yang diciptakan, dan yang lain mengikutinya. Begitu terus menerus secara bergantian.
10. Talenta Pentas.
Latihan talenta pentas dilakukan dengan tiga tigkatan; Pertama, aktor berdiri dalam posisi melingkar kemudian mengucapkan huruf vokal A-I-U-E-O secara serentak. Kedua, setelah kompak secara bergantian mengucapkan satu huruf secara berurutan searah jarum jam. Hal ini dimulai dari huruf vokal A, maka yang disampingnya menyambung dengan huruf I, U, E, O begitu seterusnya secara berkesinambungan. Ketiga, menangkap tinggi rendah intonasi. Pelatih mengucapkan A, I, U, E, atau O, dengan intonasi naik turun. Apabila pelatih mengucapkan tinggi vokalnya, peserta harus lebih tinggi, seandainya pelatih mengucapkan vokalnya rendah, peserta harus lebih rendah. Pelatih mengucapkan vokal keras peserta harus lebih keras, bila pelatih pelan maka peserta harus menyahut lebih pelan lagi. Latihan ini membutuhkan waktu sekitar satu jam.
11. Latihan Interaktif.
L atihan interaktif bertujuan mengasah keberanian akting, menghilangkan rasa risih serta membangun kekuatan mental sebagai aktor. Ada lima tingkatan dalam latihan ini; Pertama, salah satu peserta latihan melakukan pembicaraan, sedangkan teman-temannya menjawab serentak dengan cemoohan. Hal ini dilakukan untuk semua peserta secara begiliran pula dieejek oleh yang lainnya. Kedua, pelatihan mengajak orang yang sedang lewat berbicara dengan ekspresi seolah-olah serius, usahakan orang tersebut percaya dengan pembicaraan kita. Kemudian tinggalkan orang itu dalam keadaan percaya apa yang kita katakan. Ketiga, meminta sesuatu kepada orang telah dikenal namun orang itu tidak tahu bahwa yang bersangkutan sedang latihan. Keempat, peserta dibagi kelompok, masing masing lima sampai sepuluh orang satu kelompok. Kelompok tersebut berjalan ke pasar, kampus, sekolah atau ke tempat keramaian lainnya. Salah seorang berpura-pura sakit ditengah keramaian tersebut, sementara yang lain berpura-pura sibuk menolong sehingga orang yang lewat terpancing memperhatikan sekaligus menolong mereka. Kelima, berpura-pura jadi pengemis di trotoar atau pasar dengan make up dan ekspresi yang mantap. Meyakinkan orang seolah-olah benar pengemis, sehingga tak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya pengemis ini adalah para calon aktor yang sedang mengeksplorasi dirinya.
12. Refleksi Aksi dan Menyusun Ide.
Refleksi Aksi, latihan memunculkan sebuah ide garapan, para aktor di beri satu tema lalu dibiarkan sesama mereka mengatur posisi berseberangan dalam membicarakan tema itu. Masing-masing mereka bertahan pada argumen yang diciptakan, andaikan latihan dengan cara ini sering dilakukan, sesungguhnya para aktor sedang mementaskan pertunjukan sederhana disaksikan pelatih. Pertunjukan yang tak terbayangkan sebelumnya pasti dapat terjadi, bahkan mungkin menjadi ide dasar dalam sebuah garapan besar yang akan dipentaskan.
Setelah latihan Refleksi Aksi, langsung diarahkan menyusun kerangka dari yang ditampilkan mereka menjadi sebuah lakon secara teratur dengan posisi-posisi yang mereka atur sendiri. Menyusun ide dalam bentuk kerangka penulisan naskah lakon. Dilanjutkan kerangka penulisan tersebut dimainkan dalam bentuk pertunjukan inprovisasi secara bersama-sama.
13. Anatomi Drama.
Fase ini latihan dipindahkan ke dalam lokal/ruangan belajar. Para aktor muda diberi pembekalan analisis drama, berupa analisis struktur dan pola aplikasi struktur lakon. Mereka diberi tahu pengertian tema, plot/alur, penokohan, foint of viuew dan setting drama. Diajarkan teori analisa struktur drama sederhana misalnya Strukturalisme atau semiotik. Lalu pembedahan tekstur lakon dengan megkaji dialog, mood/rythem, dan spektakel (elemen pemanggungan/bahasa panggung).
13. Interpretasi.
Berbekal ilmu anatomi drama itu, mereka melakukan apresiasi terhadap naskah lakon kemudian menginterpretasi naskah sekaligus lakon drama yang mereka pilih untuk dipentaskan. Calon teaterawan tersebut diberikan satu naskah lakon ringan, lalu di analisis secara struktur dan tekstur. Selanjutnya mereka diwajibkan melakukan presentasi terhadap konsepsi yang telah mereka tulis dan pahami. Dilanjutkan dengan diskusi panjang bahkan sampai berminggu-minggu untuk menguji kecerdasan intelektualitasnya.
14. Proyeksi peran dan Identifikasi.
Proyeksi peran, pelatihan membayangkan tokoh yang akan dimainkan, bila para peserta latihan sudah mempu menginterpretasi drama dan peran maka mereka masing-masing diminta membayangkan prototipe lakon yang akan dimainkan dan mulai melakukan indentifikasi.
Indentifikasi, pelatihan mengidentikkan tipe perwatakan, gimik dan emosional lakon yang dimainkan kepada diri aktor muda yang baru mendapatkan ‘anak kunci’ dunia seni peran. Latihan ini dilakukan setelah ia hafal naskah dan saat itu pula ditanyakan bagaimana ia membayangkan tokoh yang ia perankan. Pelatih terus mengawasi apakah ia berhasil menvisualkan lakon yang diinginkannya.
15. visual peran.
Apabila masing-masing sudah siap dengan visi lakon mereka, maka dilakukan arahan untuk bekerja sama sesama mereka untuk sebuah pertunjukan. Maka kita mulai menyaksikan ‘benih yang disemai mulai berbunga’. Instruktur yang bersusah payah ‘mengkader para aktor muda’ telah berhasil ‘menciptakan’ seniman pemeranan baru yang berkualitas dihadapannya. Cobalah jika tidak percaya, metode inilah yang dikembangkan Sulaiman Juned ketika masih di Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, namun tekhnis pelatihannya menjadi lebih berkembang di Peserta pelatihan Padangpanjang, semenjak Sulaiman Juned kembali dari pengembaraan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta-Jawa Tengah. Ia mulai bersentuhan dengan teaterawan nasional Nano Riantiarno, Putu Wijaya, Saini KM. Juga bersama kritikus seni Prof. Dr. Soediro Satoto. Dan Komposer dunia Prof. Dr. Rahayu Supanggah. Persentuhan ini yang menghasilkan proses/metode latihan bagi peserta pelatihan seperti yang tertulis dalam buku ini.
Pembekalan yang terpenting terhadap para aktor muda adalah, moralitas agar mereka memegang teguh seni keimanan dan budi pekerti, anjuran terus belajar dan menimba ilmu, jangan berprilaku sombong, karena merasa mampu menjadi pemeran yang baik. Sesungguhnya orang teater harus rendah hati dan berbudi pekerti luhur. Demikianlah seharusnya. Salam kreatif.
Selamat Berlatih
Kepustakaan
Al-Ghazali, Dr. Muhammad, Perbaharui Hidupmu, Gema Madinnah Makkah Pustaka, 2007
Djelantik, A.A. M, Estetika Sebuah Pengantar, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999.
Duracman, Yoyo C, Sembung, F. Willy, Pengetahuan Teater, Sub Proyek ASTI Bandung 1985/1986.
Freud, Sigmaound, Psikologianalisis, Perpustakaan Nasional RI, Katalog dalam Terbitan, Ikon Teralitera: Kemetiran Kidul.
Imran, T. Abdullah, Monolog dan Dialog Dalam Drama, Jurnal Seni Ilmu Pengetahuan dan Penciptaan Seni 1/02 Juli 1991
Jung, Carl Gustav, Memperkenalkan Psikologi Analisis (Pendekatan kepada Ketidaksadaran) Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 1989
Juned, Sulaiman, Aktor: Tubuh Spektakel Hidup Di Atas Pentas. Jurnal Ekspresi Seni.
STSI Padangpanjang, Padangpanjang: 2001
Rendra, Bermain Drama, Pustaka Jaya, Jakarta 1984.
Sartre, Jeand Paul, Psikologi Imajinasi, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.
Thalabi, Thajuddin, M.Ag, Hasan, Syamsi, Muh. Imam Al-Ghazali, Keajaiban Hati. Penerbit Amalia Surabaya 2007.
Yusriwal, Estetika Seni Post-Moderen di Indonesia,Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni, Komindok STSI Padangpanjnag, Vol 1 No 1, September 2001
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar