Senin, 05 Oktober 2009

Latihan eater Untuk Sekolah 1

Pola pelatihan calon aktor/aktris di Peserta pelatihan adalah penggabungan pelatihan tekhnis dan psikologis. Literatur yang menjadi acuan adalah literatur umum tentang pola-pola latihan yang sudah ada digabungkan dengan ekplorasi teori-teori psikoanalisis atau ilmu ketidaksadaran. Dalam kehidupan arkhetipe dan simptomp-simptomp yang tersimpan di area amigdala adalah kumpulan dari simbol yang tidak akan berdusta. Kemampuan mengelola arkhetipe ini akan menjadi modal seorang aktor dalam menampilkan akting yang estetik di atas panggung.
Secara garis besar pelatihan itu sebagai berikut:
A. Pelatihan Tekhnis
Pelatihan Tekhnis yang dilakukan meliputi pelatihan keterampilan fisik dan psikologis. Hal ini dikarenakan teater menyangkut keterampilan tubuh dan keterampilan kejiwaan. Keterampilan tubuh untuk visual sedangkan pelatuhan psikologis untuk melatih kepekaan.
1.Pelatihan Tubuh.
Persiapan tubuh bagi seorang aktor/pemeran melalui latihan olah tubuh yang memerdekakan diri untuk mengabdi kepada akting. Hal yang harus diperhatikan yaitu; membuat/ menciptakan tubuh berada dalam keadaan pasif. Ini dilakukan pada tubuh atau sebelum tubuh memasuki tahap aktivitas. Tekanan diberikan pada gerak yang sifatnya menurun. Selanjutnya pada gerak menurun dan menaik. Berat atau ringan tergantung pada beberapa banyak satuan berat jatuh pada titik pusat ini. Titik-titik puncak menaik dan menurunkan tubuh, luar biasa banyaknya. Segalanya harus menyatu dalam bentuk yang utuh dalam tubuh.
Gerak dan suara juga harus diperhitungkan. Gerak-gerak reflek dengan aksi-aksi dan suara-suara sering terjadi bersamaan. Perubahan terjadi pada kondisi badannya, sikap tubuh dapat menumbuhkan suara yang berlainan. Ritme pernafasan, detak jantung, gerak-gerak kecil selalu berhubungan di dalam tubuh. Kekuatan membebaskan tubuh kemudian menintegrasikan setiap bagian yang telah terbebaskan dan meleburkan diri ke dalam suatu fasilitas dengan mengalami berbagai eksrinuitas yang membantu menyadari kondisi keseimbangan.
Analogi tubuh adalah setumpuk tanah keras di olah menjadi keramik. Tanah itu harus di siram air, kemudian diinjak-injak, dikepal, dipipihkan, dilonjongkan sehingga menjadi lentur dan rata. Barulah kemudian dapat di olah sesuai keperluan. Mengolah tubuh seorang aktor harus mau berpayah-payah berlatih, seperti melatih kekuatan fisik dengan olah raga, minimal berlari setiap pagi atau olah raga lain secara kontinyu untuk melatih stamina, tentunya dengan menjaga keseimbangan gizi. Sulaiman Juned bersama Kuflet merangkum teknis pelatihannya.
Dilanjutkan dengan pelatihan media ekspresi, mengkaji tubuh sebagai media komunikasi penting dalam hidup. Pertama melatih ekspresi kening dengan teknik mengernyitkan dari hitungan 10 sampai 15 kali. Kedua, mengernyitkan alis persis sama dengan cara pelatihan kening. Ketiga pelatihan mata, melirik kekanan-kiri sehabisnya, melihat keatas-bawah, memutar bola mata se arah jam jam lalu sebaliknya. Menatap jauh, menatap dekat, memperhatikan dan memejam-mejamkam mata. Kemudian itu otot hidung, menggerakan otot hidung sehingga menjadi kerutan-kerutan. Elemen selanjutnya mulu dengan membuka lebar-lebar lalu mengeluarkan lidah dan menjulurkannya sekuat mungkin. Lidah dimasukkan kembali ke dalam mulut lalu ujung lidah di gigit, selanjutnya menolak pipi kiri-kanan dengan ujung lidah. Diteruskan dengan memutar lidah didalam mulut tertutup searah jarum jam-sebaliknya. Latihan ini dapat dilakukan setiap hari, semampu kita untuk mengasah kemampuan ekspresi wajah dan melatih kualitas artikulasi. Latihan mulut cemberut dan tersenyum dalam keadaan mulut tertutup.
Setelah latihan wajah maka media ekspresi yang vital adalah tangan. Tangan dilatih untuk berbicara dengan suara yang tidak dikeluarkan, tangan dikepalkan diberi kekuatan pada pergelangan tangan lewat pernafasan. Ini melibatkan dua orang atau lebih peserta latihan. Gunanya adalah agar calon aktor ketika berakting tidak kebingungan menggunakan tangannya, tangan juga berfungsi sebagai media komunikasi. Berikutnya Bahu, latihannya adalah mengangkat bahu, menggerak-gerakkan bahu. Selanjutnya melatih otot dada-perut-pinggang dengan menggerak-gerakkan secara stakato. Kemudian Lutut membebaskan tubuh, dilanjutkan kedua kaki bergerak untuk mengungkapkan kata-kata menggunakan kaki diantara sesama anggota latihan.

1. pelatihan Sukma

Pelatihan Sukma dikomunitas seni “Kuflet ajaran Sulaiman Juned, tahapannya berikut:
Pelatihan sukma diawali dengan Kosentrasi yang merupakan suatu kesanggupan memungkinkan untuk mengerahkan kekuatan rohani dan pikiran ke arah suatu sasaran yang jelas. Dasar dari ajaran kosentrasi adalah penguasaan diri sendiri melalui proses mencari-mencari, menciptakan sebuah peran dalam latihan harian. Proses menciptakan konstruktif serta menciptakan sebuah peran pada saat tampil dalam pertunjukan di panggung.
Sasaran kosentrasi seorang aktor adalah sukma. Baik itu terhadap sukmanya sendiri, orang sekitarnya, atau sukma manusia secara menyeluruh (masyarakat penonton). Hal ini secara tidak langsung memerlukan kosentrasi terhadap emosi-emosi. Melatih kosentrasi terhadap emosi-emosi, panca indera terhadap sesuatu yang fiktif dan semu. Melatih keadaan emosi dalam sukma melalui kemauan-semangat-pikiran-fantasi. Materi hidup manusia adalah raga dan sukma, maka kegiatan hidup seorang aktor merupakan kegiatan bernafas, bergerak, beremosi, berfikir, berkehendak serta berprestasi dan siap menghadapi segala kondisi. Emosi merupakan perangkat seorang aktor untuk mengungkapkan hal-hal yang berada di luar dirinya. Cara pengungkapan tersebut dengan imajinasi, pengandaian dikembangkan menjadi pengalaman atau ingatan diri sendiri.
Memahami diri sendiri, pelatihan ini dilakukan melalui pengenalan hakekat hidup dan arahan menuju keazalian, referensi kuflet adalah filoshopi Al-Ghazali tentang hati, jiwa dan raga. Kemudian memberikan arahan kekuatan akal pikiran manusia, pemahaman esensi kekuatan bawah sadar seperti yang diajarkan Jung, Freud, Cole dan John Kehoe. Sebuah simpulan sederhana tentang dunia adalah kosmologi besar dari kekuatan kosmologi kecil (manusia) dan manusia adalah bagian dari hologram jagad raya yang dapat merubah sistem itu dengan aktivitasnya. Latihan ini banyak menggunakan metode diskusi dan mengajak berfikir serta mengasah logika.
Selanjutnya mengikuti kata hati, ikuti saja apa yang diperintahkan oleh hati asal tidak menjadi perusak dan membahayakan orang lain. Latihan ini sangat berguna bagi orang teater untuk melatih kepercayaan diri. Tanpa pelatihan ini, manusia teater tak mampu merealitaskan pertunjukan dari teks-tekstual-kontesktual.
2. Pelatihan Vokal
Suara andalan aktor untuk mengantarkan dialog sampai ke telinga penonton, konsep ini yang di anut/diajarkan Sulaiman Juned berasama Kuflet kepada seluruh anggotanya. Suara merupakan perangkat ekspresi manusia. Sementara bagi aktor perangkat ekspresi suara bertambah fungsi dan takarannya yakni menjadi alat yangdibentuk dan dimainkan untuk mewujudkan sosok peran. Latihan pengucapan dan membaca naskah haruslah mendapat tempat (porsi) yang khusus.
Pembebasan suara, membebaskan manusia melalui tubuh dan pikiran yang dimiliki manusia. Sumber suara (vokal) menerima rangsangan sensitif dari otak yang bekerja menurut proses pisik otot tubuh menciptakan pengucapan. Suara akan terhambat dan rusak oleh ketegangan tubuh, gangguan emosional dan intelektual, gangguan peralatan suara serta spritual yang membatasi keterbatasan bakat, imajinasi dan pengalaman. Suara (vokal) andalan utama bagi seorang aktor dalam pencapaian makna untuk melahirkan pengucapan yang sempurna.
Pembebasan olah suara (vokal) mengacu kepada kemampuan berbicara dengan emosi yang mendalam, sederhana, dan terpancar dari hati. Pembebasan suara/vokal terangkum dalam empat tahapan proses pembelajaran Pertama, proses pembebasan Kedua, proses pengembangan (tangga resonasi) melatih saluran resonator, ditambah latihan melepas suara dari tubuh. Melatih resonator hidung, melatih jangkauan dan resonator tengkorak. Ketiga, kepekaan dan tenaga, menggali kekuatan pernafasan, artikulasi dalam berdialog melahirkan vokal. Keempat, menjalin naskah dan akting serta menelaah kata-kata atau dialog yang berhubungan antara suara dan akting.
Pelatihan vokal dalam kegiatan teater meliputi, vokal untuk berbicara di atas pentas dan vokal menyatukan nada dasar dalam dialog sesama aktor. Kepentingan berbicara di atas pentas maka olah vokal yang digunakan adalah pengolahan keterampilan membuka laring, proses latihannya berdiri tegak lurus, pandangan lurus ke depan. Lalu menunduk sembilan puluh derajat, bukakan rahang atas perlahan-lahan sampai terbuka lebar, rahang bawah tetap tidak bergerak. Ketika mulut sudah terbuka lebar, keluarkan suara auman menirukan suara harimau. Ulangi sampai beberapa kali semampu kita. Latihan ini berguna merangsang resonator tengkorak dan artikulasi.
Pelatihan berikutnya adalah pernafasan. Pertama, latihan pernafasan dada melatih untuk mengeluarkan suara tua atau bengek. Caranya udara dihirup pelan-pelan melalui hidung kemudan diisikan kedalam rongga dada, dada terasa terisi udara sehingga dada berkembang. Calon aktor diinstruksikan melepaskan udara tersebut dengan mulut lewat ujung lidah menempel di gigi depan atas, nafas dikeluarkan berawal tanpa suara, desisisan, dan gumaman panjang. Kedua, pernafasan perut tehknik ini berguna untuk memunculkan power suara standart, membuat laring tenggorokan tidak terpaksa sehingga dalam pertunjukan tidak pernah kehabisan suara. Caranya adalah menarik nafas dengan hidung pelan-pelan diisikan ke perut, udara tersebut terisi seperti air mengalir, perut mengembung seperti balon dan keras. Kemudian lepaskan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas, berawal tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Ketiga, pernafasan diagfragma, mampu mengahasilkan kekuatan suara seperti letupan bom semakin tinggi semakin bulat suaranya. Caranya dengan menghirup udara lewat hidung diturunkan ke rongga tulang belakang, selanjutnya berjalan ke perut, lalu berada menggumpal diantara rongga dada dan perut, nafas di tahan. Kemudian dilepaskan melalui mulut dengan lidah menyentuh gigi depan atas, nafas keluar tanpa suara, desisan, dan gumaman panjang. Keempat, pernafasan pinggang, latihan ini menarik nafas lewat hidung lalu membawanya ke buah pinggang kiri dan kanan, buah pinggang mengembung seperti balon, nafas ditahan sejenak-lalu dikeluarkan melalui mulut dengan ujung lidah menempel di gigi depan atas. Nafas keluar berawal tanpa suara, dengan desisan, dan gumaman panjang. Kelima, pernafasan total. Pernafasan ini dilakukan sambil tidur terlentang, pejamkan mata lalu kos3entrasi ke pernafasan. Hirup udara dengan hidung, selanjut tahan ditengkorak kepala, perlahan-lahan dibawa turun nafas tersebut ke kening, ke mata, hidung, mulut, dagu, leher, dada, perut, pinggang, paha, lutut, betis, pergelangan kaki, jari kaki, kuku kaki-lalu keluar nafasnya. Buka perlahan-lahan matanya dan rasakan kedamaian yang luar biasa. Pernafasan ini juga sangat berguna untuk melancarkan aliran darah di seluruh tubuh melalui pemompaannya terhadap syaraf. Juga sangat berguna buat membersihkan memori otak.
Kemudian kepekaan musik, seorang aktor dituntut peka terhadap musik, bukan hanya harus menangkap mood/rythem yang diinginkan sutradara saat pertunjukan. Juga sebagai kemampuan penunjang, bagaimana bila ia harus berperan sebagai orang yang mampu bernyanyi dengan iringan musik. Disinilah perlu pembinaan terhadap kepekaan untuk musik. Metode latihannya ada empat tahap, Pertama, melatih memainkan tangga nada kemudian menekan nada la, atau (7) maka calon aktor diperintahkan membunyikannya dengan vokal secara pas. Kemudian tangga nada diulangi pelatih membunyikan nada lain calon aktor diperintahkan membunyikan nada itu misalnya yang dibunyikan :1 2 3 5 6 7 i, kemudian dibunyikan 4 maka calon aktor harus menyuarakan dengan vokalnya fa dengan intonasi yang pas. Latihan ini dilakukan terus hingga tembakan nada yang dilakukan calon aktor benar-benar baik. Latihan berikutnya menembak akoor, maka pelatih memainkan acord misalnya C-F-G-C maka kemudian mengulangi C-F, C-G lalu memerintahkan calon aktor menyuarakan vokal aaaa, melalui intonasi yang pas dengan akord. Ini dilakukan sampai kepekaan akordnya baik. Dilanjutkan dengan latihan terhadap kepekaan ritme, kepekaan ritme dilakukan dengan mengetuk-ketuk meja atau alat lain. Ketukan yang tepat misal ketukan empat perempat, dua pertiga atau dua perempat, calon aktor diperintahkan berdendang/berhikayat dengan gumaman mengikuti ketukan tersebut. Latihan terakhir, menyanyikan lagu dengan iringan musik dari si pelatih. Demikianlah latihan vokal untuk teaterawan pemula demi mempersiapkan seorang yang mahir dalam bidang teater berguna untuk perkembangan teater masa mendatang.

1. Pelatihan Psikologis

Pelatihan Psikologis yang dilakukan bagi peserta pelatihan adalah proses menggali kemampuan bermain drama yang terpendam pada setiap orang. Tidak ada manusia yang tidak berbohong dalam hidupnya, bila ada manusia yang tak pernah berhohong hanya Rasulullah Muhammad SAW, itupun dikarenakan ia diciptakan Allah sebagai rahmat bagi manusia lainnya. Sedangkan manusia lain se-aulia apapun pasti, sesekali pernah menikmati ‘racun’ dusta dalam perjalanan hidupnya. “Bohong” yang ‘dimanfaatkan’ untuk ekspresi ‘jujur’. Bila direnungi, teater merupakan usaha manusia mengungkapkan kenyataan dengan kepura-puraan. ‘Mengeksploitasi’ kebohongan maka kejujuran harus dikemukakan maka secara mutlak manusia teater mampu memelihara kejujuran dalam setiap ekspesi kesenimanannya.
2. Melatih Konsentrasi
Kosentrasi sangat penting dalam bermain teater. Hal ini berguna mengasah titik fokus sehingga tidak ‘liar’ saat bermain sebagai aktor. Pelatihan kosentrasi dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut; Pertama, memposisikan calon aktor dalam keadaan berdiri berhadap-hadapan, kemudian saling tatap tanpa reaksi selama lima belas menit. Bila masih ada yang tertawa atau tidak fokus, latihan di ulang sehingga seluruh peserta latihan benar-benar mampu menguasai emosi. Kedua, memerintahkan satu kelompok mengganggu kelompok dihadapan mereka dengan kata-kata atau tindakan (laku). Sedangkan yang berada dihadapannya dilarang melakukan reaksi apapun selama tiga puluh menit, sementara kelompok yang di ganggu kosentrasinya tetap tidak bereaksi apa-apa. Bila latihan sukses, maka giliran kelompok yang diam ‘menggoda’ kelompok yang mengganggunya dan kelompok pertama tadi tidak boleh bereaksi pula selama tiga puluh menit. Ketiga, kelompok pertama berbaris lurus dan melangkah pelan tanpa ekspresi sejauh dua puluh meter kelompok kedua mengganggu mereka dengan dialog atau perbuatan untuk mengusik kosentrasi. Kelompok yang sedang berjalan dilarang memberikan reaksi hingga sampai ke tujuan. Selanjutnya, kelompok pertama yang sudah sampai ke tujuan maka kini kelompok kedua juga melakukan hal serupa sedang kelompok pertama mengganggu kosentrasi. Latihan berikutnya, seluruh kelompok berbaris lurus dengan merentangkan kedua tangan ke depan, menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut. Pernafasan dapat memakai teknik pernafasan dada, perut dan diafragma. Ketika kaki bergerak dengan sangat pelan (lambat), sejalan dengan nafas keluar perlahan, ketika tumit kaki yang digerakkan menyentuh ibu jari kaki yang stasis maka nafasnya keluar habis. Latihan ini, dilakukan menuju titik yang telah ditentukan dengan durasi waktu 30 menit.
Selanjutnya latihan dengan merentangkan kedua tangan, lalu berputar searah jarum jam. Berputar lima sampai dua puluh kali putaran, berputar dengan kecepatan tinggi tanpa menutup mata, lalu berhenti dan mata menatap ke arah satu titik. Keadaan ini baru boleh bergerak kembali ketika kondisi tubuh sudah sangat normal. Berat memang, latihan ini disamping sangat berguna untuk kosentrasi juga berguna untuk keseimbangan dan ketahanan tubuh.
3. Mengikuti kata hati
Mengikuti kata hati merupakan latihan kepekaan terhadap rasa, agar para aktor terlatih untuk jujur pada diri sendiri, dan tidak canggung melakukan akting saat memerankan lakon di atas pentas. Latihan ini dilakukan dengan berkosentrasi terhadap kondisi yang sedang ia rasakan. Kemudian bebas melakukan ekspresi segala perasaan dengan tindakan, dialog dalam wilayah yang sudah disepakati batasannya, agar mudah diawasi oleh instruktur/pelatih.
4. Menjadi diri sendiri
Menjadi diri sendiri adalah pelatihan mengikuti kata hati, latihan ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor memperlihatkan segala kecenderungan tersembunyi dalam dirinya, tanpa harus ‘berdusta’ pada dirinya sendiri. Pembebasan terhadap sikap-laku-ingatan-emosi; dibolehkan untuk tertawa, menangis, melamun, bermain, menjadi apa saja asal tidak merusak,merugikan orang lain.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar