1. Cerita Kakek jadi Drama
1. Pendahuluan
Disekitar kita sering terdengar dongeng, legenda bahkan sejarah sebuah tempat yang diyakini kebenarannya oleh orang-orang tua. Banyak diantara kita yang percaya banyak pula yang menganggap cerita-cerita tersebut tidak masuk akal. Namun pernahkah kita berfikir bahwa cerita-cerita itu adalah asset budaya dan kekayaan sastera yang mesti dilestarikan.
Sebagai seorang guru mungkin kita sering dihadapkan pada kesulitan bahan untuk mengajarkan drama, yang sangat memungkinkan adalah sedikitnya drama yang berkaitan dengan kebutuhan kita, kebutuhan itu adalah (1) Drama yang kita ajarkan harus sesuai dengan tingkat kemampuan daya fakir peserta didik, (2) Harus membumi agar anak-anak tidak kesulitan melakukan interpretasi, (3) memiliki kekuatan dan kualitas cerita yang baik serta memiliki dramatic yang bagus agar mudah diolah menjadi pertunjukan yang bagus.
Sebenarnya tidak perlu bingung untuk semua ini. Dengan cerita rakyat yang ada disekitar kita maka dengan mudah drama yang memenuhi criteria tersebut kita lahirkan. Dengan sedikit perenungan dan kreatifitas bahan baku drama yang dibutuhkan dapat dibuat, hasilnya tentu akan sangat sesuai dengan kebutuhan bahkan selera kita, selain itu akan menjadi kebanggaan karena bahan ajar yang kita gunakan hasil produksi sendiri, sebagai cerminan kita adalah guru yang kreatif.
2. Mencipta Drama Dari Cerita Rakyat
a. Bahan Baku
Bahan baku adalah kebutuhan dasar dari setiap kreatifitas, dalam menngarang drama juga ada kebutuhan bahan baku, dalam konteks ini bahan baku yang dibutuhkan adalah cerita rakyat yang berkembang turun temurun dalam sebuah masyarakat tempat kita bekerja atau mengajar.
Ada dua cara untuk mendapatkan bahan baku, pertama dengan mencari dari buku yang sudah ditulis orang lain, kedua dengan mewawancara orang tua-tua yang banyak mengetahui cerita-cerita rakyat. Bila kita memilih mencari dari buku tentunya perpustakaan adalah tempat yang tepat, namun bagi sebagian orang terutama yang jauh dari kota tentu sulit karena akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit maka pilihan yang baik adalah dengan menemui orang tua-tua untuk diminta bercerita pada kita.
b. Membuat Kerangka Karangan
Membuat kerangka karangan adalah proses penyusunan kerangka cerita. Pada dasarnya cerita yang akan kita olah menjadi drama sudah memiliki kerangka. Dalam penyiapan kerangka karya drama ada ilmu yang harus dimiliki yaitu, ilmu alur drama nah dalam hal ini alur yang popular digunakan adalah alur aristotelean, karena sederhana dan mudah difahami, Alur aristoteles terdiri dari:
Introduksi-ressing aksi-klimaks-resolusi.
Introduksi adalah pengenalan tokoh dan posisinya dalam cerita drama.
Ressing aksi adalah penajaman konflik antara tokoh-tokloh dalam drama
Klimaks disebut juga komplikasi yakni ketegangan terjadi diantara tokoh dalam drama.
Resolusi adalah akhir kisah dimana tokoh-tokoh telah sampai pada nasibnya masing-masing.
Dalam menulis drama yang bersumber dari cerita rakyat boleh digunakan alur yang sudah ada dalam cerita bias juga menciptakan alur baru sesuai selera asal alasannya jelas.
c. Mulai Menulis Drama
Menulis drama berbeda dengan menulis prosa, disini akan dijelaskan pola penulisan drama untuk panggung.
1. Teknik penyampaian situasi.
Dalam prosa penyampaian situasi digambarkan dengan jelas pola deskripsinya menjelaskan dengan detail sesuatu yang akan dilukiskan dalam drama hanya garis besarnya saja, contoh
1. Pola prosa.
Dalam ruangan itu terdapat sebuah lemari kayu usang, disampingnya ada sebuah kursi goyang tua, meja tamu dari rotan terletak ditengah ruangan dengan empat buah kursi rotan yang mengelilinginya dari empat penjuru. Dinding rumah terbuat dari bamboo dengan dan sudah lapuk oleh zaman. Lantai tanah agak basah, sebelah kiri ruangaan ada pintu kekamar ditutupi gorden biru yang sudah usang, Rini terlihat duduk disalah satu kursi, air matanya berlinang…
2. Pola drama
RUANG TAMU, RINI DUDUK DIKURSI ROTAN, AIR MATANYA BERLINANGAN.
2. .Teknik penulisan dialog.
1. Pola prosa,
Rini melangkah ke pintu depan, menyibak tirai kemudian berkata,
“untuk apa lagi kamu kesini.”
Ridwan tidak peduli dengan ucapan Rini ia segera merangsek masuk kemudian duduk terpekur dikursi rotan yang reot matanya basah,
“maafkan aku Rini, aku mengaku bersalah.”
Rini menatap tajam, hatinya terbakar,
“aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku.”…
2. Pola Drama
Rini : (Menuju pintu) Untuk apa lagi kau kemari!
Ridwan : (Masuk dan duduk dikursi, sedih, menyesal) Maafkan aku Rini aku mengaku bersalah.
Rini : (menatap tajam, marah) Aku tak sudi menerimamu lagi, pergilah dari hadapanku…
3. ,Karakteristik Drama Panggung
Berbeda dengan prosa, baik cerpen maupun roman, drama memiliki cirri khas sendiri. Bila cerpen, novel maupun roman memungkinkan penulis untuk menjelaskan seluruh situasi yang diinginkan Drama hanya bias menggambarkan garis besar saja. Drama terhukum kebutuhan pentas yang tidak mungkin memvisualkan beberapa hal, yaitu 1. emosi tokoh (ini tanggungjawab actor) 2. Tempat (ini tanggungjawab piñata setting, 3. waktu (tanggungjawab piñata cahaya). Namun drama akan sangat kuat bila ia sampai pada proses pentas, saat seorang sutradara melakukan interpretasi maka dengan latihan rutin dan kerjasama pemeran, sutradara dan kru artistic ia akan muncul sebuah peristiwa cerita yang menarik untuk dinikmati.
4. Penutup
Demikianlah sekilas mengenai pola penulisan cerita rakyat menjadi drama untuk lebih jelasnya kerjakanlah tugas berikut:
1. Carilah sebuah cerita rakyat tentukan alurnya.
2. Rubahlah menjadi drama panggung untuk siswa SD, SMP atau SMA.
Selamat berlatih
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar