MATERI PENGAJARAN
TELAAH DRAMA
Naluri Manusia Bersandiwara
Ketika Mengarungi kehidupan seringkali kita harus mendustai hati. Saat berjumpa dengan orang lain wajah yang kita tampakkan adalah ”yang terbaik” menurut kita. Lazimnya manusia memendam ”naluri binatang” dalam dirinya sehingga dalam hidup ini yang paling sering terjadi adalah manusia ”membohongi” dirinya sendiri agar dapat diterima oleh lingkungannya.
Beraabad-abad lamanya persoalan kejujuran pada diri sendiri ini menjadi perbincangan banyak filosof. Memang konflikasi hidup terbesar diunia ini hanya tiga, persoalan dengan orang lain, persoalan dengan diri sendiri dan persoalan dengan Tuhan.
Pada dasarnya semua manusia itu egois dan ingin menang sendiri. Kenyataan yang terjadi dalam hidup ini, manusia dengan terpaksa mengalahkan egonya demi kepentingan bersama. Melalaikan kepentingan bersama berakibat kepada keruntuhan moral individu yang pada gilirannya akan merugikan orang lain dan berimbas pada ”pengucilan” lingkuangan atau malah bisa saja menjadi ancaman.
Kenyataan ini membuat manusia adalah makhluk yang tak henti bersandiwara. Manusia selalu menekan egonya untuk dapat diterima di lingkungan memenangkan kepentingan bersama dan ”membunuh” keinginan pribadinya. Inilah dunia, sebuah panggung sandiwara yang maha luas, kolektifitas yang dibangun dengan dasar yang kuat terlah meruntuhkan kepribadian dan menewaskan indetitas keakuan yang dimiliki semua manusia.
Dalam ilmu psikologi dibicarakan perihal ego-super ego dan ich. Ini adalah penafsiran seorang Freud mengenai piramida kepribadian manusia. Dalam hal ini tiga elemen tersebut membentuk perilaku tak sadar manusia dalam mengejawantahkan kepribadiannya sebenarnya dibalik ”sandiwara” yang setiap saat terpaksa dilakukan. Di sisi lain Jung menganggap visualisasi simptomp neurotik dalam diri manusia diwarnai arkhetipe yang muncul dalam perilaku tak sadar dan mimpi. Ini semua adalah implementasi dari dorongan naluriah manusia yang selalu terkalahkan oleh kenyataan.
Manusia adalah makhluk sosial yang butuh pertolongan orang lain. Hal ini membuat manusia selalu ingin diterima oleh orang-orang disekitar tempat hidupnya. Ini pula yang melahirkan tata aturan yang disepakati sebagai norma, pranata, adat dan Hukum bahkan agama. Dibalik semua itu manusia ”terpaksa” bersandiwara dan menyembunyikan sifat bar-bar yang tersembunyi dalam dirinya.
Freud menggambarkan manusia sebagai ”mahkluk berfikir” yang setara dengan hewan. Yang membedakan manusia dengan hewan hanya akalnya saja. Selebihnya hampir sama, karena manusia memiliki naluri-naluri instingstif yang kadang muncul dalam keadaan tiada sadarnya.
Sandiwara manusia inilah yang kemudian menjadi menarik dalam segala peradaban. Kedok buruk yang terungkap atau perangai jelek yang disembunyikan, rasa cinta yang basi dan segala polemik kehidupan yang timpang menjadi telaga imaji para seniman untuk dilahirkan ke bentuk karya sastera. Sandiwara berawal dari kenyataan dan kenyataan ini sesungguhnya sandiwara yang sebenarnya, dalam keadaan ini karya drama tercipta sebagai ”paket” sindiran yang estetik terhadap berbagai fenomena sandiwara manusia.
PERIHAL KARYA SASTERA
Karya sastera adalah karya manusia dalam dalam bentuk cerita atau karya lain dalam media bahasa. Menurut Mursal berpendapat,
penciptaan karya sastera adalah wilayah sasterawan para sasterawan dalam wilayah ini berusaha menciptakan karya yang bagus dan bermutu dengan kreatifitas imajinasi yang dimiliki ia berusaha menciptakan dunia baru, dunia lain sebuah realita imajinatif atau realitas artistik (Mursal Esten, 225 :1999).
Berdasarkan pendapat diatas, dapat dikatakan karya sastera adalah sebuah usaha seorang seniman menciptakan realitasnya sendiri dengan mengandalkan kekuatan imajinatif yang dimilikinya dalam wujud karya sastera. Sastera merupakan karya yang didasarkan imajinasi kreatif, maka ia tak terlepas dari unsur perasaan, karena itulah dalam pendekatan sastera digunakan metode-metode analisis yang sangat relatif, dengan kata lain lebih mengandalkan kepekaan emotif. Aminudin berpendapat,
Pendekatan emotif dapat mengapresiasi sastera sebagai penafsiran bahwa sastera adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca (Aminudin, 42: 2004)
Setelah mengetahui proses terciptanya sebuah karya sastera maka dianalisis pula bagaimana karya sastera dapat dianalisis. Sesuai dengan ungkapan di atas dijelaskan bahwa sastera tercipta berdasarkan kedalaman perasaan pengarangnya. Dengan demikian analisa sastera juga terkait pada hal-hal yang menyangkut perasaan. Sesuai dengan fakta ini maka analisis yan paling tepat digunakan adalah emosi akan keindahan, kesedihan, kasih sayang dengan pernyataan simbolis yang diteliti dengan unsur kejiwaan sesuai konteks cerita yang sedang dibicarakan. Bahasa sastera yang menyentuh perasaan ini terkait pada nilai-nilai estetika yang membawa pembaca pada emosi tertentu saat membaca karya sastera.
Sejauh ini sastera sebagai ungkapan perasaan tak terlepas dari pengaruh tempat pengaragnya berada dan suasana hati pengarang saat karya tersebut diciptakan. Dengan demikian karya sastera hanya dapat dianalisa dengan mengetahui bagaimana karya itu tercipta dan suasana apa yang membuat pengarang membuat karangannya. Dalam hal ini akan terkait pada simbol-simbol yang ingin disampaikan pengarang yang menjadi perwakilan perasaannya terhadap suasana hati yang sedang dirasakan.
Karya sastera Indonsia merupakan kumpulan dari berbagai jenis karya sastera etnis yang berkembang dari seluruh kepulauan Nusantara. Sastera modern Indonesia muncul ketika pengaruh asing (penjajah) mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia (Maman S. Mahayana, 2007 ; 312) mengatakan bahwa kesusasteraan Indonesia secara kultural adalah kesusasteraan etnik yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional yang diangkat dari bahasa Melayu. Sebagai sastera etnik ia tak terlepas dari berbagai hal yang melingkarinya.
Periode sastera Indonesia menurut P. Suparman adalah sebagai berikut:
1. Zaman Klasik ....- 1831
2. Zaman Peralihan 1831-1854
3. Zaman Balai Pustaka 1920-1933
4. Zaman Pujangga Baru 1933-1942
5. Zaman Angkatan 45 1942-1966
6. Zaman Pujangga 66 1966-.....
(P. Suparman dalam Maman S. Mahayana, 2007 ; 312)
Berdasarkan periode kesusasteraan di atas maka karya sastera berupa cerita rakyat dan dongeng dapat dikatakan sebagai sastera klasik hingga zaman peralihan walaupun maih berkembang hingga sekarang ia termasuk kedalam kategori sebagai sastera klasik.
IMAJINASI YANG DITONTON
Saat menonton sebuah pertunjukan sandiwara kerap kita terbawa kedalam suasana yang dihadirkan para aktor tanpa disadari. Kemampuan akting anak wayang yang bermain sandiwara di atasa pentas menyajikan pertunjukan dengan baik memang kadang membuat kita ”terbang” ke alam mimpi dan terbuai dalam sebuah suasana ”asing” yang lepas dari kenyataan kita sebenarnya. Hal ini membuat sebuah drama menjadi sebuah suguhan yang menarik, selain sebuah media hiburan kerap pula menjadi media hiburan bagi para pecinta seni.
Dibalik semua yang tersaji di atas pentas tersebut ternyata ada rahasia lain yang tersembunyi, ada sebuah proses panjang sebelum karya tersebut menjadi tontonan bagi penikmatnya. Setidaknya ada lima proses yang dilalui oleh seorang pencipta karya drama sebelum tersaji ke atas pentas yaitu proses stimulasi, proses sublimasi, proses kontemplasi, aksi kreatif dan menikmati.
1. Proses stimulasi
Proses stimulasi adalah sebuah kejadian saat seorang pengarang tersentuh kepekaan setetiknya oleh kenyataan. Pada peoses ini muncul ide dan keinginan bagi sang homocreator untuk berkarya. Dalam proses ini bayangan-bayangan kenyataan menjadi kristalisasi imaji yang kemudian mendorongnya terus berkontemplasi.
2. Proses sublimasi
Proses sublimasi adalah sebuah kejadian saat seorang homokreator terus mengendapkan ide dengan pengembangan imajinasinya. Pada proses ini pengarang terus berprogressi alam imajinya sehingga ia mulai menyusun rangka ide dalam fikirannya dengan susunan terindah menurut fikirannya.
3. Proses kontemplasi
Proses sublimasi biasanya sudah menghasilkan kerangka yang belum teratur, pada proses kontemplasi kerangka itu diperbaiki lagi, direnungkan kembali sampai akhirnya ledakan emosi yang datang dari keglisahan estetik sang penulis tidak tertahan lagi, akhirnya homocreator tak sanggup lagi menahan desakan emosi kreatif dalam dirinya dan mulai merancang karyanya dalam bentuk kerangka tertulis.
4. Aksi kreatif
Aksi kreatif adalah sebuah prose nyata saat homocreator sibuk dengan segala atifitas membuat karangan dan terus membenahi karnyanya sampai ia anggap cukup baik.
5. Menikmati.
Tahap ini adalah ketika seorang pengarang berkesempatan menyaksikan karyanya dipentaskan dan dengan segala kegelisahan seninya menikmati karya yang telah ia susun dengan segala sentuhan estetis dalam batinnya.
Lima tahap di atas menjadi proses panjang sebelum karya drama tersaji ke dalam bentuk sandiwara. Sebelum tersusun rapi menjadi sebuah pertunjukan yang menarik perhatian karya drama itu telah pula melibatkan fihak lain. Fihak itu adalah sutradara yang menafsir kembali hasil perenungan sang dramawan dengan imajinasinya sendiri pula dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebuah sandiwara adalah karya yang melalui dua proses kontemplasi imaji yang dijadikan nyata yakni sang homocreator dan sang director.
DRAMA DAN PANGGUNG SANDIWARA
Sering terdengar kata-kata ”menonton drama” atau ”melihat drama”. Sebenarnya bila dilihat dari substansinya kata-kata demikian tidaklah tepat. Secara logika bila seseorang mengerti hakkikat sebuah drama dalam wujud sebenarnya ungkapan demikian akan memancing rasa geli yang membuat tertawa. Bagaimana mungkin drama bisa ditonton, padahal drama seperti halnya karya sastera yang lain hanyalah berupa teks tertulis yang hanya layak untuk dibaca, bukan di tonton.
Penamaan drama sendiri dalam sejarahnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti scrip lakon pertunjukan teater. Bila dilihat dari kesalahan peristilahan ini mungkin kebiasaan mengucapkan kata ”menonton drama” ini hanyalah kesalahan pemahaman belaka tentang yang dimaksud dengan drama. Banyak orang yang masih berpendapat bahwa sesuatu yan dipentaskan dengan dialog dan peristiwa di atas pentas itu adalah drama. Padahal drama adalah naskahnya bukan pertunjukannya.
Bila kita mau memahami peristilahan ini lebih jauh, tak perlu sulit untuk mencari padanan kata drama dalam bahasa Indonesia. Di Aceh ada istilah ”Gelanggang Labu” untuk drama keliling. Dulu zaman Belanda ada istilah ”Wayang Bangsawan”. Kemudian ada pula istilah ”Darnadella”, ludruk, ketoprak, di Minangkabau ada ”kaba” dalam implementasinya di sebut ”Randai”. Jadi bangsa kita tidaklah kurang perbendaharaan kata untuk mengistilahkan pentas drama ini, hanya saja istilah bangsa sendiri sepertinya tidak begitu populer yang sering diucapkan penamaan yang mengadopsi kata-kata asing walaupun kadang diucapkan dalam konteks yang salah.
Marilah kita gali hakikat drama ini dari pembahasan istilah yang lahir dari bangsa sendiri. Di Sumatera Selatan dan Jambi ada pentas drama klasik yang disebut Ba abdul Muluk. Sebenarnya ba abdul Muluk ini adalah sebuah prosesi pertunjukan drama tanpa naskah baku, yang ada hanya wos atau rangkacerita saja. Ceritanya berkaitan dengan kepahlawanan seorang tokoh bernama Abdul Muluk yang membebaskan ayahnya dari kejahatan raja bangsa lain. Di Sumatera Barat ada pula pentas teater rakyat yang di sebut dengan Randai. Dalam sejarahnya Randai dulunya pernah disebut dengan Simarantang, sesuai nama salah satu tokohnya. Sedang lakon secara umum dinamakan kaba. Kaba dapat disamakan dengan rangka cerita yang disiapkan sebagai naskah drama dalam bentuk wos yang tak tertulis. Kaba di Sumatera Barat banyak pula media penyampaiannya misalnya dengan basijombang, barabab dan sebagainya. Pada hakekatnya kaba ini adalah cerita lakon yang tersusun rapi dialognya layaknya drama, sayangnya tidak dalam betuk scrip tertulis sehingga belum layak di sebut drama.
Daerah Luhak XVI Merangin +Kerinci punya banyak pula lakon-lakon yang demikian heroik, tetap saja tutur bahasa dalam penceritaannya memuat dialog-dialog dengan keterangan layaknya drama, namun seperti halnya naskah lakon tradisional lain ia masih dalam bentuk rangkacerita tiada tertulis. Di Riau ada Hikayat Hang Tuah, Cerita Musang Berjanggut dan Kisah Pak Belalang, di Aceh Syair-syair Hamzah Fansurry demikian heroik memacu andrenalin untuk berjuang, semuanya hanya dalam bentuk sastera tutur bercerita tiada tersusun layaknya sebuah drama.
Bila hendak dipadankan dengan budaya kita drama bisa di bahasakan dengan kaba tertulis. Dalam hal ini semua persyaratan yang menjadi elemen drama sudah lengkap dalam kaba, misalnya dialog, catatan samping, keterangan suasana batin tokoh dan sebagainya, namun tidak tertulis dengan lengkap hanya dari ungkapan lisan belaka. Kaba dalam penyampaiannya tidak pernah sama dengan pola prosa, dalam pengungkapan kaba penekanan berada pada penonjolan kisah, pada cerpen dan Novel yang ingin ditonjolkan adalah disposisi peristiwa agar hadir dalam imaji pembaca. Kaba tidak pernah baku, dalam penyampaian kaba biasanya akan terjadi perbedaan pola penyampaian, perubahan dialog dan sebagainya tergantung situasi si penyampai kaba, layaknya imvrovisasi dalam pertunjukan drama. Seperti layaknya drama, kaba lebih menonjolkan esensi kisah bukan kata-kata atau kalimat yang ada di dalamnya.
Berdasarkan analisis di atas maka dapat disimpulkan bahwa drama sebenarnya adalah implementasi kisah dalam rujukan teks dengan paparan dialog dan catatan pendukung untuk disiapkan sebagai patokan dalam pertunjukan sandiwara. Bila disebandingkan dengan kaba perbedaannya hanya pada ada tidaknya scrip tertulis. Pada esensinya kedua hal tersebut tetap mengacu kepada persiapan terjadinya peristiwa lakon di atas pentas. Bila di rujuk pada randai misalnya, dalam randai masing-masing tokoh tidak wajib mengucapkan dialog yang sama dalam memerankan lakon, yang terpenting adalah esensi dari dialog yang disampaikan, begitu pula drama, drama tidak mementingkan kesamaan dialog yang dibuat pengarang saat pementasan tetapi esensinya sehingga cerita yang ingin disampaikan tidak terputus dan mengacaukan keseluruhan pertunjukan. Sri Sultan Hamengkubuwono X telah melakukan analisis perihal ini dengan menamakan pertunjukan drama sebagai sandiwara. Sandi sama dengan perlambang, wara disandinkan maknanya dengan kejadian atau peristiwa. Dalam pemaknaan ini pentas drama diartikan sebagai serangkaian perlambangan kejadian yang tersusun dalam sebuah cerita.
Setelah kita dudukkan persoalan drama kini kita lihat pula pelakon di sebut dengan ”pemain drama”. Dari peristilahan yang janggal kini malah jadi konvensi dalam pengucapan sehari-hari. Bila dalam bahasa Inggris mereka di sebut Aktor atau aktris, sebenarnya sejak dulu telah ada peristilahannya dalam bahasa kita. Ada istilah anak wayang, atau pelakon. Anak wayang mengambil komperasi pada wayang kulit yang dimainkan dalang, sedangkan pelakon berorientasi pada lelaku, melakukan sesuatu, dalam perbendaharaan bahasa Inggris setara dengan to act atau acting.
Jelas istilah pemain drama tidak tepat bila kajian pada hakikat bahwa drama adalah sebuah scrip naskah lakon yang siap untuk dipentaskan. Kegiatan belakon bukan main-main tapi sebuah tindakan serius dengan misi menyampaikan cerita sesuai peran yang sedang diemban. Lakon bukan untuk dimain-mainkan tapi diperankan dengan baik, jadi bila kata aktris atau aktor sulit untuk diucapkan tiada salahnya bila bahasa pelakon digunakan untuk para pemeran yang berakting di atas pentas.
Setelah di bahas kegamangan peristilahan yang ada di sekitar kita dalam kaitannya dengan drama marilah kita mulai membahas hal lain yang juga masih dalam konteks aktifitas analisis dramas yaitu teater. Pada banyak kasus kerap terdengar kalimat ”nonton teater” atau ”main teater”. Secara substansi kalimat ini juga salah kaprah, teater dalam bahasa Yunani teatron yang artinya arena pertunjukan. Teater agropolis adalah arena pertunjukan yang terkait dengan pemujaan kepada Dewa Zeus, jadi teater itu sakral bukan untuk main-main.
Bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan kalimat ”nonton wayang orang” atau ”nonton wayang kulit” di Melayu ada kalimat ”nonton Mendu” atau ”nonton randai”. Jadi kenapa harus menggunakan istilah yang salah dengan kalimat ”nonton teater” sementara di negara lain orang pergi ke gedung pertunjukan bukan menonton gedungnya tapi aksi yang diadakan didalamnya, misalnya nonton Opera, nonton konser musik dan sebagainya. Perlu diingat bila teater disepadankan dalam bahasa kita sama dengan gelanggang atau tempat aneka pertunjukan. Di Minangkabau kata gelanggang disetarakan dengan arena berkumpul misalanya gelanggang silek, gelanggang Judi dan sebagainya. Di Aceh gelanggang Labu, disepadankan dengan arena yang dibuat untuk pentas drama tradisional yang dilakukan berpindah-pindah atau pertunjukan keliling. Bila sudah didudukkan pemaknaan demikian maka akan sangat janggal bila arena pertunjukan itu yang di tonton, bukan pertunjukan yang ada didalamnya.
Kini jelas sudah perbedaan drama dan teater dan bagaimana seharusnya menempatkan kata-kata tersebut dalam kalimat. Memang banyak diantara perbndaharan bahasa asing yang diadopsi ke Bahasa kita ditempatkan pada penempatan yang salah dalam kalimat namun sudah sepantasnya kita arif dan teliti dalam menggunakannya arena sebagai insan-insan yang berkecimpung di dunia sastera dan seni kita seharusnya faham disposisi masing-masing kata-kata tersebut sehingga dapat menempatkannya secara tepat dalam kalimat.
FASE PERKEMBANGAN DRAMA DUNIA
Drama Klasik
Yang disebut drama klasik adalah drama yang hidup pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.
a. Zaman Yunani.
Asal mula drama adalah Kulrus Dyonisius. Pada waktu itu drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada Dewa Domba/Lembu. Sebelum pementasan drama, dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang disebut “tragedi”. Dalam perkembangannya, Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang, berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Komedi sebagai lawan dari kata tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia.
Ada 3 tokoh Yunani yang terkenal, yaitu: Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut Plato, keindahan bersifat relatif. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi itu menurut Plato bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan. Karya Plato yang terkenal adalah The Republic.
Aristoteles termasuk tokoh Yunani yang terkenal. Ia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik, tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebijakan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak yang menentu.
Sophocles adalah tokoh drama terbesar zaman Yunani. Tiga karya yang merupakan tragedi, bersifat abadi, dan temanya Relevan sampai saat ini. Dramanya itu adalah: “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus”, dan “Antigone”. Tragedi tentang nasib manusia yang mengenaskan.
Tokoh Lain yang dipandang tokoh pemula drama Yunani adalah Aeschylus, dengan karya-karyanya: “Agamenon”, “The Choephori”, “The Eumides”. Euripides yang hidup antara 485-306 SM, merupakan tokoh tragedi, seperti halnya Aeschylus. Karya-karya Euripides adalah: Electra, Medea, Hippolytus, The Troyan Woman dan Iphigenia in Aulis.
Jika Aeschylus, Sophocles, dan Euripides merupakan tokoh strategi, maka dalam hal komedi ini mengenal tokoh Aristophanes. Karya-karyanya adalah : The Frogs, The Waps, dan The Clouds.
Bentuk Stragedi Klasik, dengan ciri-ciri tragedi Yunani adalah sebagai berikut :
1. Lakon tidak selalu diakhiri dengan kematian tokoh utama atau tokoh protagonis.
2. Lamanya Lakon kurang dari satu jam.
3. Koor sebagai selingan dan pengiring sangat berperan (berupa nyanyian rakyat atau
pujian).
4. Tujuan pementasan sebagai Katarsis atau penyuci jiwa melalui kasih dan rasa takut.
5. Lakon biasanya terdiri atas 3-5 bagian, yang diselingi Koor (stasima). Kelompok Koor
biasanya keluar paling akhir (exodus).
6. Menggunakan Prolog yang cukup panjang.
Bentuk pentas pada zaman Yunani berupa pentas terbuka yang berada di ketinggian. Dikelilingi tempat duduk penonton yang melingkari bukit, tempat pentas berada di tengah-tengah. Drama Yunani merupakan ekspresi religius dalam upacara yang bersifat religius pula.
Bentuk Komedi, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Komedi tidak mengikuti satire individu maupun satire politis.
2. Peranan aktor dalam komedi tidak begitu menonjol;
3. Kisah lakon dititikberatkan pada kisah cinta, yaitu pengejaran gadis oleh pria yang
cintanya ditolak orang tua/famili sang gadis.
4. Tidak digunakan Stock character, yang biasanya memberikan kejutan.
5. Lakon menunjukan ciri kebijaksanaan, karena pengarangnya melarat dan menderita, tetapi kadang-kadang juga berisi sindiran dan sikap yang pasrah.
Zaman Romawi
Terdapat tiga tokoh drama Romawi Kuno, Yaitu: Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Senece. Teater Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius, lama-kelamaan bersifat mencari uang (show biz). Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.
2.2. Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Khatolik atas drama sangat besar pada zaman Pertengahan ini. Dalam pementasan ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan Koor. Kemudian ada pelanggan “Pasio” seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini.’
Ciri-ciri khas theater abad Pertengahan, adalah sebagai berikut :
1. Pentas Kereta.
2. Dekor bersifat sederhana dan simbolik.
3. Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.
Zaman Italia
Istilah yang populer dalam zaman Italia adalah Comedia Del’artie yang bersumber dari komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain: Date, dengan karya-karyanya: The Divina Comedy Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan pastoral dan Niccolo Machiavelli dengan karya-karyanya Mandrake.
Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut :
a. Improvitoris atau tanpa naskah.
b. Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru
kemudian pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia).
c. Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
d. Gejala akting pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.
Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu. Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada zaman Elizabeth.
Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth, adalah:
a. Naskah Puitis.
b. Menggunakan dialog puitik dan panjang
c. Naskah bersifat bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
d. Lakon lebih simultan, berganda.
e. Campuran antara drama dengan humor.
Perancis : Molere dan Neoklasikisme
Tokoh-tokoh drama di Prancis antara lain Pierre Corneile (1606-1684, dengan karya-karya: Melite, Le Cid), Jean Racine (1639-1699, dengan karya: Phedra).
Jerman: Zaman Romantik
Tokoh-tokoh antara lain: Gotthold Ephrairn Lessing (1729-1781, dengan karya Emilla Galott, Miss Sara Sampson, dan Nathan der Weise), Wolfg Von Goethe (1749-1832, dengan karya: Faust, yang difilmkan menjadi Faust and the Devil), Christhoper Frederich von Schiller (1759-1805, dengan karya: The Robbers, Love and Intrigue, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dan Shakespeare).
Drama Modern
Norwegia : Ibsen
Tokoh paling terkemuka dalam perkembangan drama di Norwegia adalah Henrik Ibsen (1828-1906). Karya Ibsen yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di Indonesia adalah “Nova”, saduran dari terjemahan Armyn Pane “Ratna”. Karya-karya Ibsen adalah Love’s Comedy, The Pretenders, Brand dan Peer Gynt (drama puitis), A Doll House, An Emeyn of the people, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmersholm.
Swedia : August Strinberg
Tokoh drama paling terkenal di swedia adalah Strindberg (1849-1912). Karya-karya drama yang bersifat historis dari Strindberg di antaranya adalah Saga of the Folkum dan The Pretenders, Miss Julia dan The Father adalah drama naturalis. Drama penting yang bersifat ekspresionitis adalah A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
Inggris : Bernard Shaw dan Drama Modern.
Tokoh drama modern Inggris yang terpenting (setelah Shakespeare) adalah George Bernard Shaw (1856-1950). Ia dipandang sebagai penulis lakon terbesar dan penulis terbesar pada abad Modern.
Irlandia : Yeats sampai O’Casey
Tokoh penting drama Irlandia Modern adalah William Butler Yeats yang merupakan pemimpin kelompok sandiwara terkemuka di Irlandia dan Sean O’Casey (1884) dengan karyanya: The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Start, The Silver Tassie, Withim the Gates, dan The Start Turns Red. Tokoh lainya adalah John Millington Synge (1871-1909) dengan karya-karya: Riders to the Sea, dan The Playboy of the Western World. Synge merupakan pelopor teater Irlandia yang mengangkat dunia teater menjadi penting disana.
Perancis : dari Zola sampai Sartre
Dua tokoh drama terkemuka di Prancis adalah Emile Zola (1840-1902) dan Jean Paul Sartre (1905).
Jerman dan Eropa Tengah : dari Hauptman sampai Brecht
Banyak sekali sumbangan Jerman terhadap drama modern Tokoh seperti Hebble dan temannya telah mempelopori a1iran Realisme. Pengarang Naturalis yang terkenal adalah Gerhart Huptman (1862-1945) dan Aflhur Schnitzler (1862-19310).
Italia : dari Goldoni sampai Pirandillo
Setalah zaman resenaissance, karya-karya drama banyak berupa opera disamping comedia dell’arte. Tokoh drama Italia antara lain Goldoni (1707-1793) dengan karya Mistress of the Inn. Gabrille D’Annunzio (1863-1938) dan Luigi Pirandello (1867-1936).
h. Spanyol : dari Benavente ke Lorca
Bagi Spanyol, abad XX dipandang sebagai abad kebangkitan dromatic spirit. Tokohnya antara lain: Jacinto Benavente (1866-1954) yang pernah mendapat hadiah Nobel 1922. Sezaman dengan Benavente adalah Gregorio Martinez Sierra (1881-1947) dengan karyanya The Cradle Song. Pengarang paling penting pada zaman modern di Spanyol adalah penyair dan penulis drama Federico Garcia Lorco (1889-1936).
i. Rusia : dari Pushkin ke Andreyev
Tzarina Katerin Agung dipandang sebagai pengembangan drama di Rusia. Pengarang pertama yang dipandang serius adalah Alexander Pushkin (1799-1837) dengan karyanya Boris Godunov, sebuah tragedi historis.
j. Amerika : Golfrey sampai Miller
Pengarang drama yang penting di Amerika adalah Thomas Godfrey, dengan karyanya The Princes of Parthic (1767).
Sejak adanya Broadway sebagai pusat teater, perkembangan teater di Amerika sangat pesat. Tokoh-tokohnya antara lain Eugne Gladstone O’Neill (1888-1953).
Tokoh drama lainya Maxwell Anderson (188-1959). Dengan karyanya: Elizabeth the Queen, Mary of Scotland, dan Anne of Thousand Days. Juga Winterset, What Price Glory, Both Your houses dan High Tor. Thornton Wulder (1897- .....) dengan karyanya Our Town, The Skin of Our Theeth, dan The Matchmake,: Elmer Rice (1892-....), karyanya: Street Scene (mendapat hadiah Pulitzer), The Adding Machine, dan Dream Girl.
Beberapa pengarang lain diantaranya Clifford Odets (yang dikenal dengan protes sosialnya, (Tennesse Williams dan Arthur Miller, Odets (1906-…..). antara lain mengarang: Waiting-for Lefty, Golden Boy, Awake and Sing, The country Girl, dan The Flowering Peach. Pengikut Odets sebagai pengarang protes social adalah: Lilian Heilman Saroyan ( 1905-….).
Yang dikenal sebagai pengarang masa kini di antaranya adalah Tennesse Williams (1914-.….) Arthur Miller (1915-….) dan William Inge.
Pengarang lainnya adalah: Robert Anderson (karyanya: Tea and Shympathy, All Summer Long, an Silent Night, Lonely Night). William Gibson (Karyanya: Two for the Seesaw dan The Miracle Worker). Brooks Atkinson (karyanya: The New York Times).
Drama Komedi musikal juga berkembang di Amerika, misalnya: A Trip to Chinatown (oleh Charles Hoyt), Forty Five Minutes from Broadway (oleh George M. Cohan), Of There I Song karya George S.
PERTARUNGAN KONSEPSI BARAT-TIMUR
Drama yang datang dari Barat menajadi partisi bagi lembaga perguruan Tinggi. Baik drama sebagai karya sastera maupun sebagai sebuah cabang ilmu tetap terjadi pengkultusan terhadap hal-hal berbau barat. Banyak di atara drama asing yang dianggap sebagai ”kitab” di berbagai perguruan tinggi seni. Banyak pula sutradara yang bangga memntaskan sebuah karya drama saduran atau terjemahan. Dalam dunia keilmuan hampir seluruh konsep analisis dan dramaturgi berkiblat pada barat hal ini menyebabkan konsepsi drama tradisional kita terpinggirkan dan menjadi ”fosil” di negeri sendiri.
Pergulatan yang demikian memaksa kita untuk berfikir kembali. Sudah saatnya bangsa kita menatap kenyataan bahwa sastera pentas sudah ada di negeri kita jauh sebelum ilmu pengetahuan barat masuk ke khazanah budaya bangsa ini. Bangsa Indonesia kaya dengan berbagai etika bahasa dan retorika, sebagai contoh adalah protokoler dalam pasambahan dan perego adat.
Saat kita dengan tekun mempelajari ilmu retorika yang berasal dari yang berasal dari yunani dengan berbagai strukturnya, kita melupakan ilmu silek duduak yang diajarkan nenek moyang kita, padahal bangsa Melayu punya banyak sekali pola-pola retorika yang kini terpinggirkan dengan masuknya model-model protokoler dan pola bicara bangsa asing.
Sejalan dengan kenyataan di atas dapat pula kita lihat terpuruknya sastera asli bangsa ini karena derasnya arus budaya barat. Saat kita asyik menganalisis Hamlet, Odipus, Raja mangkat dan sebagainya kita melupakan kisah-kisah yang tak kalah heroik milik bangsa kita seperti Hang Tuah, Cindua Mato, Sigindo Elok Misai, Hikayat Prang Saby dan sebagainya. Kiranya perlu kita semua menyadari bahwa bangsa kita bukanlah bangsa kulit putih yang imperialis dan licik. Bangsa kita adalah bangsa polos dengan kulit sawo matang. Ini adalah indetitas kita, bangsa sawo matang yang berfikir lurus-lurus dan kurang faham politik internasional. Bangsa yang hanya mengandalkan kekuatan perasaan dan basa-basi tanpa menyadari kelicikan di balik bujuk kata bangsa asing dan boleh dikatakan masih ”belajar” demokrasi ditengah kecamuk primordialisme dan feodalisme ekstrim.
Berdasarkan kenyataan di atas maka karya sastera yang menjadi begron budaya kita juga tak jauh dari prinsip-pronsip di atas. Dengan karya yang berlatar belakang kenyataan ini pula para sasterawan pendahulu kita melakukan perenungan filsafat dan kenyataan. Dengan begron ini pula karya sastera mendapat tempat dan dengan begron tersebut pula tekstur drama menjumpai para penonton.
Bila kenyataan yang terjadi demikian, maka saatnya kita menyadari bahwa cara fikir karya drama asing tidaklah sesuai dengan budaya kita, demikian pula ilmu dramaturgi yang datang dari barat tiada sesuai pula untuk mengetahui seluk-beluk teks drama yang berkembang dari zaman nenek moyang kita hingga sekarang. Sudah saatnya kita menyadari sebagai manusia kita bukanlah sebuah disk drive komputer yang terprogram untuk mengcopy semua file yang masuk, kita manusia mestilah cerdas dan kreatif serta bangga dengan karya dan indetitas bangsa kita sendiri.
Memang bangsa barat telah maju dalam segala hal, dalam hal ini tiadalah larangan bagi kita untuk belajar kepada yang lebih pandai, yang amat disayangkan adalah apriori kepada apa yang dwariskan leluhur kita sebagai karya dan indetitas berharga karena sudah demikian asyik menggeluti konsepsi seni budaya barat. Bangsa kita mesti mampu mengedepankan karya-karya berlatar budaya sendiri dan bersaing menampakkan eksistensi di pentas dunia.
KATEGORI DRAMA
A. Aliran Klassik
Drama aliran klassik adala sebuah genre drama yang berkembang di Yunani dimana keyakinan pada Dewa-Dewi masih kental di tengah masyarakat. Dram aliran klasik dalam teksnya masih banyak bercerita mengenai konsep kuasa Dewa dalam kehidupan manusia. Drama klassik yang masih lestari hingga saat ini adalah trilogi Sophocles yakni, Odipus Sang Raja, Odipus de Kolonus dan Antigone. Drama klassik dominan mengungkit sisi lemah manusia yang tiada dapat menolak intervensi Dewa dalam kehidupan manusia. Drama klassik selalu mengangkat sisi lemah manusia dalam kadar yag dangat tak berdaya supaya mendapatkan semangat empasis dan Chatarsis dengan menghadirkan komplikasi kepiluan yang mendalam yang diistilahkan aristoteles sebagai hamertia.
C. Aliran Realisme
Drama realisme adalah sebuah genre yang mengacu kepada reduksi kenyataan sosial dengan tema-tema ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Drama realisme sendiri beragam jenisnya mulai dari realisme sosial, naturalisme, Realisme sugestif dan realisme epik. Realisme sosial terobsesi oleh fikiran positivisme Agusto Comte, wujudnya adalah drama-drama Ibsen dan Chekov. Drama yang demikian dengan terang-terangan menolak konsep berjuasi yang jelas-jelas menimbulkan banyak masalah dalam masyarakat. Drama naturalisme cenderung menghadirkan konsep kenyataan dengan sejujurnya tanpa melapisi dengan konsep imaji. Prasarat demikian membuat drama demikian tidak menarik disajikan dan disaksikan sehingga kurang populer.
Realisme Epik yan digagas oleh Brech adalah sebuah model drama yang alurnya tidak konvesional. Drama demikian lebih mengacu kepada konsepsi revitalisasi kenyataan sosial dengan penggambaran yang demikian pelik. Drama realisme epik menggunakan konsep allienasi dengan visi ”teater tanpa penonton”. Maksudnya adalah peleburan penonton kedalam konteks persoalan yang disajikan dalam drama tersebut.
Drama dengan aliran realisme sugestif lebih mengacu kepada konsep pemaparan kenyataan dengan sugesti pemikiran. Drama jenis ini memang memiliki demensi surrealisme namun dalam hal pemaparan imaji tokoh yang ada didalamnya tidaklah berupa eksplorasi khayalan melainkan sebuah visualisasi kenyataan yang dalamiya secara nyata. Drama ini menitik beratkan pada penjelasan perihal kenyataan yang pernah dialami tokoh lakon bukan harapan atau impiannya.
D. Aliran Surrealis
Surrealisme adalah konsepsi dimana kenyataan dibenturkan dengan alam mimpi. Dalam konsep drama surrealisme tidak penting logika nyata dalam konflikasi sebuah cerita. Drama surrealime mengacu kepada pemahaman bahwa manusia selain hidup di alam nyata juga hidup di alam imajinasi yang dipicu keinginan-keinginan, harapan, impian dan khayalan.
Drama surrealisme mencoba mengakomodasi alam fi-kiran terlesubungan yang tersembunyi dibalik kenyataan. Logika yang disajikan adalah logika alam fikiran bukan logika kenyataa real. ”kapai-kapai” karya Arifin C. Noer adalah konsep drama jenis ini dimana digambarkan tokoh ”Abu” larut dalam impiannya hingga ke akhir hayat.
E. Eksperimental
Drama Eksperimental adalah sebuah gendre drama yang disiapkan untuk pertunjukan yang sifatnya eksploratif tanpa mengedepankan sisi struktur. Drama dengan model demikian tidak dapat dikaji dengan pola struktur lakon biasa yang membagi dua unsur karya sastera yaitu struktur dan tekstur. Drama dengan genre ini tidak hanya memiliki sisi struktur yang tidak jelas juga kadan-kadang minim dialog, atau dengan dialog yang tiada saling hubung antara satu dengan lainnya. Konsep drama ini dalam pertunjukannya kerap dikaitkan dengan teater eksperimental. Di Sumatera Barat Yusril (katil) adalah salah seorang penulis drama jenis ini. Drama ”Plasenta” yang di tulis tahun 1999 tampak jelas tiada memiliki struktur yang jelas baik dalam komplikasi maupun dialog-dialognya.
D. Bentuk Komedi, Tragedi, Satir
Selain aliran drama juga memiliki dimensi bentuk. Dalam dunia kepenulisan drama terdapat tiga dikotomi utama berkaitan dengan bentuk drama yaitu, komedi, Tragedi dan satir. Komedi adalah drama yang kaya dengan dialog dan peristiwa menggelitik baik dalam dialog maupun konflikasi peristiwa yang ditampilkan pengarangnya sedangkan tragedi adalah drama yang penuh dengan eksplorasi kesedihan dengan tujuan membuat haru. Drama Satir adalah drama yang menghadirkan konflikasi peristiwa sedih dengan cara-cara yang menggelikan. Drama jenis ini seolah menertawakan kesakitan dan kepahitan hidup dengan tujuan menyadarkan bahwa hidup tak seindah yang dibayangkan atau sebaliknya yakni memberi spirit kepada orang-orang menderita agar tetap tabah menghadapi setiap persoalan yang sedang terjadi.
E. Jenis Tradisi, Moderen, Kontemporer
Sebagai pelengkap dalam paparan di atas maka disini akan dibahas pula dikotomi drama dari jenis-jenisnya. Jenis drama dapat dibagi menjadi tradisi, moderen dan kontemporer. Jenis drama tradisional adalah drama yang berangkat dari isu-isu sosial dengan persiapan penampilan dengan pola tradisi pula. Drama jenis ini contohnya adalah naskah wayang kulit, naskah wayang wong, naskah randai, scrip teater tradisional dul muluk dan sebagainya. Drama jenis ini tidak diketahui siapa pengarangnya apabila ada paling-paling disusun oleh seseorang yang merasa perlu mendokumentasikannya. Contoh drama Jenis ini adalah drama ”Cindua Mato” yang disusn ulang Dt. Marajo St. Panghulu yang berangkat dari kaba masyarakat Minangkabau.
Drama moderen adalah drama yang sudah tersusun rapi dengan tujuan pertunjukan teater konvesional. Drama moderen bisa merupakan karya original dari pengarangnya bisa pula terinspirasi dari cerita rakyat atau sebuah kebudayaan namun tetap disiapkan untuk kepentingan pertunjukan sebuah sandiwara yang baku sebagaimana seharusnya pertunjukan drama moderen. Contoh drama jenis ini adalah ”Sumur Tanpa Dasar” karya Arifin C. Noer, ” ”Hikayat Cantoi” karya Sulaiman Juned dan sebagainya
Drama kontemporer adalah skrip drama yang ditujukan untuk kepentingan teater elsploratif. Drama jenis ini meninggalkan semua konvensi penulisan karya sastera. Dalam penulisan drama jenis ini yang terpenting adalah kesesuaian dengan konsep tekstur yang dirancang sutradara dalam pertunjukan yang akan dibuatnya. Contoh drama jenis ini adalah ”Plasenta” yang ditulis Yusril, tahun 2000 ”Watugunung” karya Tim penulis teater Garasi tahun 1999.
F. Style atau Gaya
Style atau gaya adalah kemasan khusus yang menjadi ciri dramawan dalam mengaplikasikan karya. Gaya ini akan membedakan model-model penerapan ide dalam drama. Gaya terkait dengan pola bahasa, tematik, struktur lakon dan model konflikasi. Style menjadi ciri yang membedakan karya seorang dramawan dengan dramawan lain. Dalam hal ini dapatlah dibandingkan antara karya-karya Wisran Hadi dengan karya-karya Arifin C. Noer misalnya, karya Wisran Hadi cenderung menggungakan kekayaan bahasa sebagai media kritik situasi. Dengan mengolah struktur bahasa Minangkabau yang di bahasa Indonesia, dialog-dialog dalam drama Wisran menjadi sindiran tajam terhadap kenyataan walaupun sepintas terdengar lucu. Arifin C. Noer lebih menitikberatkan pola kritik dalam struktur keseluruhan lakon sehingga hampir dalam seluruh teks yang dibangun dalam naskah ada perkaitannya dengan tema kritis yang sedang diungkap. Drama Arifin C. Noer benar-benar menagajak penonton merenungi hidup dari awal hingga akhir kisahnya tanpa sedikitpun memberi kesempatan bagi pembacanya (penonton bila sudah dipentaskan) untuk tertawa tanpa beban, walaupun ada sisi-sisi komedi umumnya juga satir yang ”kejam” dan menyentuh rasa kemanusiaan.
ANATOMI DRAMA
A. Analisis Struktur
Analisis struktur drama adalah organ pembangun drama yang paling mendasar, dalam hal ini terdapat bebera bagian penting unsur pembangun drama yaitu, tema, penokohan, alur dan latar. Tema adalah amanat pokok sebuah drama, bisa juga disebut muatan pokok dalam sebuah drama. Tema dapat dibagi dua yakni tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema utama yang yang menjadi fokus pembahasan dalam drama sedangkan tema minor adalah tema sampingan yang ikut menjadi amanat tambahan dalam sebuah drama. Dalam drama-drama yang memiliki kekayaan pesan selalu terselip tema-tema kecil yang menjadi pesan tambahan dari pengarang. Tema-tema ini bisa berupa dialog atau peristiwa yang diprsiapkan dalam pementasan. Tema atau amanat ini biasanya bersifat filosofis atau edukatif.
Penokohan drama dapat disepadankan dengan lakon. Penokohan ini terhubung antara satu individu dengan individu lainnya dalam cerita secara relasional atau dikenal dengan relasi antar tokoh, hubungan inilah yang akhirnya melahirkan posisi mereka masing-masing dalam lakon. Penokohon dapat dibagi menjadi (1) Kedudukan Tokoh, (2) Bentuk Tipe Perwatakan (3) karakteristik Tokoh. Kedudukan tokoh atau posisi tokoh dalam lakon adalah antagonis (penentang) deutragonis (penderita) tetragonis (mendukung penentang, dan Utility (pendukung yang muncul sesekali namun penting). Bentuk tipe perwatakan tokoh dibagi menjadi (1) sisi fisik, (2) Sisi Sosial, (3) Sisi Moral. Sisi fisik adalah bentuk tubuh secara harfiah, apakah gemuk, kurus, putih hitam, sawo matang, cantik, tampan dan sebagainya. Sisi sosial adalah penggambaran keadaan sosial. Miskin, kaya, berpangkat, bawahan, atasan dan sebagainya sedangkan sisi moral adalah perangai tokoh tokoh yang ingin digambarkan misalnya baik hati, jahat, jujur, licik dan sebagainya. Terakhir adalah karakteristik tokoh, dalam drama karakteristik tokoh dibagi dua yaitu (1) Flat karakter, (2) Ruound karakter. Flat karakter adalah karakter tokoh dengan satu sifat saja misalnya baik saja atau jahat saja. Round karakter maksudnya adalah tokoh yang digambarkan dengan dua atau lebih karater sekaligus misalnya selain jahat ia masih punya nurani untuk kebaikan, atau selain licik ia juga pintar menipu.
Berikutnya adalah alur, dalam drama konvensional biasanya alur yang digunakan adalah alur maju, namun ada kalanya mundur atau melingkar, pada drama yang non konvensional (suryalis atau absurd) terdapat alur periodik atau linier. Alur maju biasanya menggunakan piramida aristoteles dengan klimak berada ditengah, diawali dengan introduksi, ressing aksi, komplikasi, klimaks, resolusi terakhir ending. Alur mundur dan melingkar juga kerap menggunakan tangga dramatik yang demikian. Untuk alur linier dan periodik hal ini tidak berlaku lagi. Alur linier tangga dramatiknya meletup-letup dengan suspen yang hadir terus menerus dari awal hingga akhir pertunjukan. Pada alur periodik persoalan demi persoalan mengalami konflikasi berkala tanpa penyelesaian sehingga alur jenis ini kadang tak menentu arah bahkan tema mayornya juga sulit ditentukan karena demikian banyak persoalan yang disajikan dengan konflikasi tanpa penyelesaian karya-kaya Brech cenderung seperti ini.
Elemen lain dari struktur drama adalah latar atau seting, latar atau setting dalam sebuah drama dibagi menjadi tigs jenis yaitu setting tempat, latar waktu dan latar zaman. Setting tempat adalah latar peristiwa terjadi misalanya di rumah, di kebun, di sekolah, di pasar dan sebagainya. Latar waktu adalah waktu peristiwa digambarkan apakah malam, siang atau pagi sedangkan latar zaman terkait kurun tahun dan masa kejadian misalnya zaman Belanda, Zaman Jepang, tahun 1966, tahun 2000 atau bisa saja masa yang akan datang.
B. Analisis Tekstur
Analisis tekstur sebenarnya berkaitan dengan persiapan pentas jadi bukan lagi dalam cakupan analisis teks sastera walapun demikian pengetahuan ini mutlak diperlukan bagi orang yang ingin mendalami analisa drama. Analisis tekstur terkait beberapa hal yaitu (1) Dialog, (2) Space, (3) Mood, (4) Ritym, (5) Spektakel (6) Suspen. Dialog adalah rangkaian kalimat-kalimat yang akan diucapkan aktor diatas pentas selama pertunjukan sesuai apa yang telah tertera dalam scrip drama. Space bisa juga disebut jeda, dalam sebuah karya drama jeda ini berguna untuk penguatan peristiwa semisal pada sebuah dialog panjang tiba-tiba tokohnya sama-sama diam dikeheningan untuk meresapi sesuatu, atau tokohnya berhenti beraktifitas karena sama-sama menahan puncak emosi mereka. Bagian lain yaitu mood, mood adalah suasana yang ingin digambarka dalam drama biasanya tertulis dicatatan samping sebagai penjelas, suasana ini mungkin sedih, gembira, haru dan sebagainya. Aspek berikutnya adalah Rytim, Rytim adalah irama permaian, dalam teks drama biasa pada catatan samping tertulis kalimat penegas yang menjelaskan emosi pemain dengan beberap instruksi misalnya dengan kata-kata ”bergegas” atau ”cepat” bisa juga ”lemah”. Bagian yang lain adalah spektakel, spektakel adalah semua benda yang digambarkan penulis untuk disajikan ke atas pentas, didalamnya termasuk para aktor itu sendiri. Aktor adalah spektakel hidup di atas pentas, selain aktor kostum pemain, properti, tata cahaya, musik dan rancangan setting adalah spektakel. Ada beberapa drama yang menegaskan hal ini misalanya pada catatan samping tertulis ”musik sedih, lampu terang, ruang tamu itu berisi kursi reot, lemari lapuk. Didinding bambu tergantung lukisan lusuh ukuran 2X1 meter, gambar pemandangan.” Walaupun demikian banyak pula drama yang sama sekali tidak menerangkan ini, maka kejelian seorang penelaah dibutuhkan untuk mengetahui hal ini dengan menganalisa dialog perdialog naskah. Terakhir adalah suspen atau kejutan dalam cerita. Suspen ini bisa dilihat dengan menganalisa konflikasi yang diciptakan pengarang dalam perjalanan alur drama yang dibangun. Biasanya suspen ini terselip diantara komplikasi yang digambarkan dalam cerita sebuah drama.
C. Aspek Drama
Selain struktur dan tekstur yang tak kalah penting dalam analisa drama adalah pengetahuan tentang aspek drma. Aspek drama ini terbagi dua yakni aspek instrinsik dan aspek ekstrinsik. Aspek instrinsik adalah aspek dalam drama ini adalah struktur drama itu sendiri seperti yang dijelaskan di atas berupa tema, penokohan, alur dan latar. Aspek ekstrinsik terkait kepada beberapa hal yakni pengarang, lingkungan masyarakat, dan zaman karangan di buat.
Pengarang mempengaruhi karangannya dari sisi cara berfikir dan visi. Bagaimanapun pengarang selalu menyampaikan pikiran-pikiran dan konsep kebenaran dalam visinya sendiri melalui karangan yang dibuatnya, ini menyebabkan pengarang termasuk unsur paling berpengaruh dalam sebuah karya drama. Masyarakat mempengaruhi karya drama dari sisi imbal balik, seorang pengarang adalah cermin yang memantulkan keadaan masyarakatnya dalam bentuk karya yang diciptakannya dengan demikian keadaan masayarakat menjadi penting pengaruhnya dalam sebuah karya drama. Aspek lain dari luar karya drama adalah zaman, bagaimanapun sebuah karya sastera selalu mewakili fikiran-fikiran orang pada masanya diciptakan, karena itulah aspek zaman tidak bisa diabaikan begitu saja.
MENULIS DRAMA
A. Menulis Drama Realis
Menulis drama realis adalah proses transformasi realita kedalam karya sastera berbentuk drama. Dalam menulis drama realis yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian paparan yang akan disajikan dalam karya drama dengan realita sehari-hari. Bila dikaitkan dengan ungkapan Sri Sultan Hamengkubuwoni X bahwa pertunjukan drama disepadankan dengan sandiwara maka drama realis adalah indikasi paling sesuai sebagai latar entrinya. Drama realis disiapkan sebagai sandi (penanda) wara (peristiwa) yang sangat dekat dengan apa yang dilihat dan disaksikan sehari-hari.
Saat drama realis disajikan dalam sebuah pementasan maka mulai dari cerita hingga sett profertinya dirancang sebagai penanda kenyataan sehari-hari. Peristiwa yang dibangun juga tak jauh dari fenomena sehari-hari sehingga drama realis menyentuh semua kalangan apresiator dan mampu berkomunikasi dengan siapa saja bahkan orang yang tak faham seni sekalipun.
Sifat drama realis yang demikian membuat drama realis paling banyak dipentaskan. Drama ini menjadi familiar, anak-anak yang belajar drama biasanya diperkenalkan dengan drama jenis ini. Drama realisme sendiri kadang-kadang bersifat suryalis dalam dialognya, namun dalam implemntasi drama ini tetap mengacu kepada pemahaman bersama tentang realita. Drama Adipus di Kolonus dianggap realisme walaupun bicara tentang dewa yang jelas-jelas suryalis. Kenyataan demikian disebabkan drama tersebut bicara soal kenyataan manusia di masanya yang meyakini Dewa-Dewi, pada arahan penampilannya drama ini sama sekali tidak memuat sesuatu yang mustahil dari pandangan penonton, semuanya disajikan secara natural dan sesuai kenyataan pada masanya. Walaupun bicara Dewa, tokoh Dewa hanya wacana tanpa pernah ada muncul dalam satu babakpun pertunjukan.
Karena drama realis merupakan kejujuran dari realita, maka seorang penulis drama realis dituntut punya banyak wawasan tentang persoalan hidup sehingga pengalaman nyata tersebut dapat menginspirasinya dalam menyajikan kenyataan kedalam bentuk karya drama. Biasanya drama realis sangat jelas dan tajam kritiknya terhadap kenyataan misalnya ”Rumah Boneka” karya Ibsen yang nyata-nyata mempertanyakan eksistensi perkawinan yang rapuh pada masanya.
B. Menulis Drama Suryalis
Drama suryalis adalah karya drama yang menuntun sutradara menghadirkan hal-hal ganjil dalam pertunjukannya. Dalam karya drama jenis ini banyak sisi yang tak masuk akal tersaji, kenyataan dibolak-balik semau penulis untuk kepentingan penguatan pesan yang ingin disampaikan. Ada kalanya terlihat sangat realis sekali karena semua tokoh hadir dalam keadaan yang wajar, namun dibalik kewajaran tersebut sebenarnya terselip tokoh yang sebenarnya hanya mimpi dari tokoh utama. Drama ”Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer adalah contoh drama jenis ini. Kehadiran tokoh ”emak” tokoh ”Putri” dan tokoh-tokoh yang diinisialkan dengan nomor adalah sebuah tragedi kenyataan yang disajikan secara suryalis.
Bila ingin menulis drama suryalis perlu kiranya dipertimbangkan bahwa unsur suryalisme dimunculkan dalam karya drama yang akan di buat bukanlah sebuah konsep yang hadir secara mengada-ada. Perlu diingat suryalisme yang dihadirkan sebenarnya berfungsi sebagai media untuk memperkuat penyampaian gagasan, bukan untuk sekedar membuat yang aneh-aneh supaya menarik.
C. Menulis Drama Remaja
Drama remaja bisa saja berwujud realis atau suryalis, dalam penulisan drama remaja yang perlu dipertimbangkan hanyalah logika fikir yang akan disajikan. Remaja adalah manusia yang baru menjelang dewasa dengan gelora masa muda yang berkobar. Bila diajak untuk mementaskan drama dengan muatan filoshofis yang berat mereka akan kesulitan, bosan bahkan mungkin menolak. Untuk mengatasi hal ini dalam menulis drama dengan tujuan remaja perlu kiranya diselami alam fikiran mereka dan dipersiapkan komplikasi yang akan menarik perhatian mereka dalam penceritaan dan struktur lakon yang akan disusun.
Drama remaja memang harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka tentang hidup namun bukan berarti melemahkan muatan dan isu filosofi yang mendidik. Dengan kemasan yang sesuai dengan selera mereka ada baiknya diselipkan nilai-nilai pendidikan, pembelajaran, sejarah bahkan kebudayaan. Dengan demikian mereka akan memiliki ketertarikan menggeluti dunia seni dan dapat diarahkan menuju kematangan konsep berkesenian secara pelahan-lahan.
Biasanya yang paling menarik bagi para remaja adalah konflikasi cinta. Beranjak dari kenyataan tersebut ada baiknya drama remaja dibangun dari koflikasi yang demikian kemudian diberi muatan didaktis yang mudah dicerna dan tidak membosankan untuk dianalisis, strategi ini akan membawa mereka perlahan-lahan kepada rasionalitas berfikir dan kematangan mengapresiasi seni.
D. Contoh Drama Suryalis Berlatar Budaya
LILIPUT
“Manakah Minang dan Kabau?”
Where Minang and Buffalo?
Karya : Wiko Antoni
Dianjurkan membuat Teks terjemah kedalam bahasa Inggris pada dialog bahasa Indonesia dan Minangkabau. Dianjurkan pula membuat teks bahasa indonesia dan Inggris untuk dialog berbahasa Minangkau dengan menempatkan teks tersebut di Layar Shiluet dalam ukuran terbaca oleh penonton.
PENTAS GELAP. ORANG MEMBAWA SENTER. TERDENGAR MEREKA RIBUT.
ORANG 1:
Mana temuanmu, semuanya gelap tidak jelas.
ORANG 2:
(MENYENTER SESUATU) ini, wah batu ini jelas sekali menerangkan, Malinkundang itu mendurhaka pada ibunya.
ORANG 3:
Batu saja dipercaya. Dasar bodoh!
ORANG 4:
Jaga mulutmu, kalau tidak karena batu tidak akan ada anak yang takut melawan pada ibunya.
ORANG 2:
Sudahlah catat saja yang penting penelitian ini tuntas, dan dananya segera turun.
ORANG 1:
Isi otakmu Cuma soal dana saja, ingat, kita harus hati-hati dalam meneliti sejarah kalau kita salah anak cucu akan salah memahami nenek moyang mereka.
ORANG 3:
Sudahlah jangan ribut lagi, mari kita lanjutkan mencari.
ORANG 2:
Ini dia, batu batikam. Nah lihat ini bekas pertengkaran antara katumangguangan dengan Parapatiah,
Orang 3:
Lagi-lagi percaya pada batu. Tolol kalian semua. Percaya pada manusia, bukan pada batu.
Orang 4:
Batu tidak pernah bohong, tapi kalau manusia sering memutar balikkan kenyataan.
ORANG 1:
Sudahlah, ayo kita cari ditempat yang lain.
PENTAS KOSONG SEORANG SEJARAWAN ASYIK DIDEKAT TUMPUKAN BUKU, MENGHADAP LAPTOP SESEKALI MENYERUPUT KOPI, DIBAGIAN LAIN LAYAR BESAR TERPAMPANG. PRASASTI ‘MALINKUNDANG’ DENGAN ANGKUH TERLIHAT DARI TEMBAKAN LCD. TIBA-TIBA MALINKUNDANG MUNCUL.
MALINKUNDANG:
(MEMPERHATIKAN PATUNG DIRINYA DARI LCD) Ya, sebagai pahlawan aku memang pantas dibuatkan biorama. (KEPADA PENONTON) Wahai anak cucu, masih ingat dengan aku? Nah aku datang lagi. Begini, kali ini aku akan jelaskan kembali mengenai tuduhan-tuduhan buruk mereka padaku. Sebenarnya aku ingin menyewa pengacara untuk ini. Tapi setelah kupikir lebih baik aku sendiri yang menjelaskannya pada kalian. Oh ya. Terima kasih atas patung-patung yang indah yang kalian bangun untuk mengenang kepahlawananku ini.
Lebih lengkapnya baca buku "pengetahuan drama untuk pendidik"
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar