DRAMA SEBAGAI GENRE SASTERA
Disusun oleh : Wiko Antoni S.Sn
(Pendiri Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Pendiri Sanggar Sastera dan Seni diksi@rt Merangin, Pengajar di STKIP YPM Bangko)
Kata Pengantar Penulis
Buku ini membahas Seluk Beluk Drama mulai dari pengertian hingga analisis dengan metode dan teori yang berkaitan dengannya. Sebagai sebuah buku yang ditujukan untuk mempermudah mendalami wawasan dalam dunia drama buku ini sengaja disusun dengan bagian-bagian yang menuntaskan beberapa persoalan penting perihal seluk beluk drama.
Publikasi Buku ini adalah kerjasama penulis dengan diksi@rt Tabir dan Komunitas Seni Kuflet , Padangpanjang. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kesulitan pengadaan biaya penerbitan yang mahal padahal kebutuhan akan buku yang membahas seluk beluk drama secara sederhada dan lugas sangat mendesak. Penulis berharap dengan diedarkannya buku ini secara terbatas dapat membantu perkembangan dunia keilmuan terutama sastera dan seni.
Bagi pembaca, terimalah persembahan sederhana ini sebagai bagian perjuangan penulis dalam dunia keilmuan. Tiada kata putus asa dalam mengembangkan kreatifitas dan tiada aral untuk menyebarkan pengetahuan walau ”satu ayat” karena kesulitan itu adalah ujian bagi manusia yang ”dititipi” sedikit ilmu dan akan ditanya pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Pada kesempatan ini penulis meminta pembaca mengkritisi buku ini dan bersedia memberi masukan positif untuk perbaikan di masa mendatang, tiada manusia yang sempurna apalagi buku ini ditulis oleh seorang yang masih harus banyak berusaha memperdalam ilmu, namun sebagai usaha mengembangkan apa yang telah penulis miliki terimalah persembahan sederhana ini.
Rantaupanjang 23 9 2010
Penulis
Editor:
Sulaiman Juned Mpd
Pengantar Editor
Naluri Manusia Bersandiwara
Ketika Mengarungi kehidupan seringkali kita harus mendustai hati. Saat berjumpa dengan orang lain wajah yang kita tampakkan adalah ”yang terbaik” menurut kita. Lazimnya manusia memendam ”naluri binatang” dalam dirinya sehingga dalam hidup ini yang paling sering terjadi adalah manusia ”membohongi” dirinya sendiri agar dapat diterima oleh lingkungannya.
Beraabad-abad lamanya persoalan kejujuran pada diri sendiri ini menjadi perbincangan banyak filosof. Memang konflikasi hidup terbesar diunia ini hanya tiga, persoalan dengan orang lain, persoalan dengan diri sendiri dan persoalan dengan Tuhan.
Pada dasarnya semua manusia itu egois dan ingin menang sendiri. Kenyataan yang terjadi dalam hidup ini, manusia dengan terpaksa mengalahkan egonya demi kepentingan bersama. Melalaikan kepentingan bersama berakibat kepada keruntuhan moral individu yang pada gilirannya akan merugikan orang lain dan berimbas pada ”pengucilan” lingkuangan atau malah bisa saja menjadi ancaman.
Kenyataan ini membuat manusia adalah makhluk yang tak henti bersandiwara. Manusia selalu menekan egonya untuk dapat diterima di lingkungan memenangkan kepentingan bersama dan ”membunuh” keinginan pribadinya. Inilah dunia, sebuah panggung sandiwara yang maha luas, kolektifitas yang dibangun dengan dasar yang kuat terlah meruntuhkan kepribadian dan menewaskan indetitas keakuan yang dimiliki semua manusia.
Dalam ilmu psikologi dibicarakan perihal ego-super ego dan ich. Ini adalah penafsiran seorang Freud mengenai piramida kepribadian manusia. Dalam hal ini tiga elemen tersebut membentuk perilaku tak sadar manusia dalam mengejawantahkan kepribadiannya sebenarnya dibalik ”sandiwara” yang setiap saat terpaksa dilakukan. Di sisi lain Jung menganggap visualisasi simptomp neurotik dalam diri manusia diwarnai arkhetipe yang muncul dalam perilaku tak sadar dan mimpi. Ini semua adalah implementasi dari dorongan naluriah manusia yang selalu terkalahkan oleh kenyataan.
Manusia adalah makhluk sosial yang butuh pertolongan orang lain. Hal ini membuat manusia selalu ingin diterima oleh orang-orang disekitar tempat hidupnya. Ini pula yang melahirkan tata aturan yang disepakati sebagai norma, pranata, adat dan Hukum bahkan agama. Dibalik semua itu manusia ”terpaksa” bersandiwara dan menyembunyikan sifat bar-bar yang tersembunyi dalam dirinya.
Freud menggambarkan manusia sebagai ”mahkluk berfikir” yang setara dengan hewan. Yang membedakan manusia dengan hewan hanya akalnya saja. Selebihnya hampir sama, karena manusia memiliki naluri-naluri instingstif yang kadang muncul dalam keadaan tiada sadarnya.
Sandiwara manusia inilah yang kemudian menjadi menarik dalam segala peradaban. Kedok buruk yang terungkap atau perangai jelek yang disembunyikan, rasa cinta yang basi dan segala polemik kehidupan yang timpang menjadi telaga imaji para seniman untuk dilahirkan ke bentuk karya sastera. Sandiwara berawal dari kenyataan dan kenyataan ini sesungguhnya sandiwara yang sebenarnya, dalam keadaan ini karya drama tercipta sebagai ”paket” sindiran yang estetik terhadap berbagai fenomena sandiwara manusia.
PERIHAL KARYA SASTERA
Karya sastera adalah karya manusia dalam dalam bentuk cerita atau karya lain dalam media bahasa. Menurut Mursal berpendapat,
penciptaan karya sastera adalah wilayah sasterawan para sasterawan dalam wilayah ini berusaha menciptakan karya yang bagus dan bermutu dengan kreatifitas imajinasi yang dimiliki ia berusaha menciptakan dunia baru, dunia lain sebuah realita imajinatif atau realitas artistik (Mursal Esten, 225 :1999).
Berdasarkan pendapat diatas, dapat dikatakan karya sastera adalah sebuah usaha seorang seniman menciptakan realitasnya sendiri dengan mengandalkan kekuatan imajinatif yang dimilikinya dalam wujud karya sastera. Sastera merupakan karya yang didasarkan imajinasi kreatif, maka ia tak terlepas dari unsur perasaan, karena itulah dalam pendekatan sastera digunakan metode-metode analisis yang sangat relatif, dengan kata lain lebih mengandalkan kepekaan emotif. Aminudin berpendapat,
Pendekatan emotif dapat mengapresiasi sastera sebagai penafsiran bahwa sastera adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca (Aminudin, 42: 2004)
Setelah mengetahui proses terciptanya sebuah karya sastera maka dianalisis pula bagaimana karya sastera dapat dianalisis. Sesuai dengan ungkapan di atas dijelaskan bahwa sastera tercipta berdasarkan kedalaman perasaan pengarangnya. Dengan demikian analisa sastera juga terkait pada hal-hal yang menyangkut perasaan. Sesuai dengan fakta ini maka analisis yan paling tepat digunakan adalah emosi akan keindahan, kesedihan, kasih sayang dengan pernyataan simbolis yang diteliti dengan unsur kejiwaan sesuai konteks cerita yang sedang dibicarakan. Bahasa sastera yang menyentuh perasaan ini terkait pada nilai-nilai estetika yang membawa pembaca pada emosi tertentu saat membaca karya sastera.
Sejauh ini sastera sebagai ungkapan perasaan tak terlepas dari pengaruh tempat pengaragnya berada dan suasana hati pengarang saat karya tersebut diciptakan. Dengan demikian karya sastera hanya dapat dianalisa dengan mengetahui bagaimana karya itu tercipta dan suasana apa yang membuat pengarang membuat karangannya. Dalam hal ini akan terkait pada simbol-simbol yang ingin disampaikan pengarang yang menjadi perwakilan perasaannya terhadap suasana hati yang sedang dirasakan.
Karya sastera Indonsia merupakan kumpulan dari berbagai jenis karya sastera etnis yang berkembang dari seluruh kepulauan Nusantara. Sastera modern Indonesia muncul ketika pengaruh asing (penjajah) mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia (Maman S. Mahayana, 2007 ; 312) mengatakan bahwa kesusasteraan Indonesia secara kultural adalah kesusasteraan etnik yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional yang diangkat dari bahasa Melayu. Sebagai sastera etnik ia tak terlepas dari berbagai hal yang melingkarinya.
Periode sastera Indonesia menurut P. Suparman adalah sebagai berikut:
1. Zaman Klasik ....- 1831
2. Zaman Peralihan 1831-1854
3. Zaman Balai Pustaka 1920-1933
4. Zaman Pujangga Baru 1933-1942
5. Zaman Angkatan 45 1942-1966
6. Zaman Pujangga 66 1966-.....
(P. Suparman dalam Maman S. Mahayana, 2007 ; 312)
Berdasarkan periode kesusasteraan di atas maka karya sastera berupa cerita rakyat dan dongeng dapat dikatakan sebagai sastera klasik hingga zaman peralihan walaupun maih berkembang hingga sekarang ia termasuk kedalam kategori sebagai sastera klasik.
IMAJINASI YANG DITONTON
Saat menonton sebuah pertunjukan sandiwara kerap kita terbawa kedalam suasana yang dihadirkan para aktor tanpa disadari. Kemampuan akting anak wayang yang bermain sandiwara di atasa pentas menyajikan pertunjukan dengan baik memang kadang membuat kita ”terbang” ke alam mimpi dan terbuai dalam sebuah suasana ”asing” yang lepas dari kenyataan kita sebenarnya. Hal ini membuat sebuah drama menjadi sebuah suguhan yang menarik, selain sebuah media hiburan kerap pula menjadi media hiburan bagi para pecinta seni.
Dibalik semua yang tersaji di atas pentas tersebut ternyata ada rahasia lain yang tersembunyi, ada sebuah proses panjang sebelum karya tersebut menjadi tontonan bagi penikmatnya. Setidaknya ada lima proses yang dilalui oleh seorang pencipta karya drama sebelum tersaji ke atas pentas yaitu proses stimulasi, proses sublimasi, proses kontemplasi, aksi kreatif dan menikmati.
1. Proses stimulasi
Proses stimulasi adalah sebuah kejadian saat seorang pengarang tersentuh kepekaan setetiknya oleh kenyataan. Pada peoses ini muncul ide dan keinginan bagi sang homocreator untuk berkarya. Dalam proses ini bayangan-bayangan kenyataan menjadi kristalisasi imaji yang kemudian mendorongnya terus berkontemplasi.
2. Proses sublimasi
Proses sublimasi adalah sebuah kejadian saat seorang homokreator terus mengendapkan ide dengan pengembangan imajinasinya. Pada proses ini pengarang terus berprogressi alam imajinya sehingga ia mulai menyusun rangka ide dalam fikirannya dengan susunan terindah menurut fikirannya.
3. Proses kontemplasi
Proses sublimasi biasanya sudah menghasilkan kerangka yang belum teratur, pada proses kontemplasi kerangka itu diperbaiki lagi, direnungkan kembali sampai akhirnya ledakan emosi yang datang dari keglisahan estetik sang penulis tidak tertahan lagi, akhirnya homocreator tak sanggup lagi menahan desakan emosi kreatif dalam dirinya dan mulai merancang karyanya dalam bentuk kerangka tertulis.
4. Aksi kreatif
Aksi kreatif adalah sebuah prose nyata saat homocreator sibuk dengan segala atifitas membuat karangan dan terus membenahi karnyanya sampai ia anggap cukup baik.
5. Menikmati.
Tahap ini adalah ketika seorang pengarang berkesempatan menyaksikan karyanya dipentaskan dan dengan segala kegelisahan seninya menikmati karya yang telah ia susun dengan segala sentuhan estetis dalam batinnya.
Lima tahap di atas menjadi proses panjang sebelum karya drama tersaji ke dalam bentuk sandiwara. Sebelum tersusun rapi menjadi sebuah pertunjukan yang menarik perhatian karya drama itu telah pula melibatkan fihak lain. Fihak itu adalah sutradara yang menafsir kembali hasil perenungan sang dramawan dengan imajinasinya sendiri pula dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebuah sandiwara adalah karya yang melalui dua proses kontemplasi imaji yang dijadikan nyata yakni sang homocreator dan sang director.
DRAMA DAN PANGGUNG SANDIWARA
Lebih lengap baca "Seluk Beluk Drama untuk Sekolah" terbitan "Kuflet" kerjasama "diksi@rt" 2010
-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar