Jumat, 23 September 2011

Teori Budaya

Budaya selalu berkembang dengan demikian budaya bersifat dinamis...bukan statis:
Charles Darwin sebagai penggagas teori evolusi telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai cabang ilmu. Melalui konsep perubahan yang menjadi Inti teori evolusi bukan hanya ilmu biologi yang mendapat sumbangan konsep tapi ilmu social juga mendapatkan banyak perkembangan. Menurut kamus antropologi yang ditulis Winich pada tahun 1977,evolusi berarti suatu perkembangan yang berkesinambungan ( Winich dalam Pelly danMenanti MS, 1994:47). Pengertian ini akhirnya membuat teori evolusi mampu menyorot berbagai cabang ilmu soaial termasuk antropologi dan sosiologi.
Vegger dalam menanti menjelaskan bahwa teori evolusi dalam perkembangan ilmu social berkaitan dengan the struggler for life. Dalam bahasa Indonesia dapat disepadankan dengan perjuangan untuk hidup. Spencer merumuskan sumbangan teori evolusi kepada dunia ilmu berkaitan dengan pemahaman adanya Perubahan organic alamiah yang mencakup aspek biologis maupun antropologis.
Konsep fosil yang digagas Darwin sebenarnya beranjak dari pemikiran Maltus dalam buku “Essay of Population”. Malthus mengemukakan bahwa populasi meningkat berdasarkan deret ukur, sedangkan penyediaan makanan berdasarkan deret hitung sehingga tidak dapat dihindari persaingan hidup untuk “survive” meningkat.
Pola tingkah laku penyesuaian yang dilakukan secara belurang-ulang dalam waktu cukup lama dari satu generasi ke generasi lain dapat memisahkan organism secara relative dari tipe aslinya. Mengenai hal in I Wallace menyampaikan gagasannya kepada Darwin melalui tulisan “On the Tendency Of Varietas to Depart Indefienitely from the original type”. Dalam bahasa Indonesia berarti “Kecenderungan Varietas untuk memisahkan diri secara tidak tetap dari tipe aslinya.”
Gould menyatakan bahwa evolusi bagian dari seleksi alam, menurut Gould “evolution is evolusi purposeless, non progressif and non naturalistic.” Dalam bahasa Indonesia bermakna “evolusi tidak bertujuan, tidak proggressif dan tidak bersifat materialistic.” Pemikiran ini dalam sejarah disebut dengan teoligical explanation. Atau penjelasan teologis. Dalam hal ini penjelasan tentang kucing tidak dapat dihindarkan dari substansi yang mirip kucing.
Pandangan Darwin tentang evolusi mengarah pada persetujuan pada pendapat Malthus yang mangatakan jumlah manusia akan jauh melebihi dari jumlah makanan yang tersedia. Darwin berpendapat hidup manusia akan mengarah kepada persaingan yang tak terelakkan demi pemenuhan kebutuhan primer.
Sebagai ilmu yang merambah bagian organic dan non organic maka evolusi memilki percabangan konteks yang berkaitan dengan bio antropologi hingga social. Pada akhirnya evolusi menjadi kajian pula dalam ilmu kebudayaaan.
Sebagai ilmu evolusionalisme memberikan tempat khusus pada evolusi manusia . Kuntjaraningrat berpendapat evolusi manusia mengarah kepada proses perkembangan mahkluk primat menuju perkembangan berfikir. Sementara Kessing berpendapat “manusia adalah bagian dari jaringan alam, hasil evolusi yang bermula dari nenek moyang primat, urutan dalam skala waktu proses evolusi hanya dapat diperkirakan dari beberapa tulang fosil gigi, yang tersebar luas dalam ruang waktu 25 tahun belakangan. Kebudayaan manusia akan berkembang dari tingkat-tingkat kebudayaan yang rendah ketingkat kebudayaan yang tinggi , terdorong oleh suatu kekuatan untuk berevolusi.”
Morgan menjelaskan bahwa ada tujuh tingkat evolusi kebudayaan manusia, mulai dari zaman liar tua yakni zaman awal ditemukannya api, sampai pada tingkat ketujuh yang disebut zaman peradaban. Yakni periode manusia mengenali tulisan seperti sekarang. Sedangkan evolusi religi berkembang dari manusia mengenal kekuatan roh hingga sampai pada ketuhanan yang maha esa.
Kelemahan teori evolusi
Teori evolusi sebagai grand teori tentu saja memiliki kelemahan. Teoei evolusi tidak mampu menjawab persolan-persoalan yang bersifat religious dalam kehidupan manusia. Teori evolusi juga tak mampu memberikan penjelasan secara rinci tentang perilaku menyimpang yang terjadi dalam lingkungan masyarakat tertentu. Tidak mampu membedah persoalan class civilization dan pertentangan kelas karena itu akhirnya pada banyak kasus yang digunakan adalah teori structural dan teori konflik fungsionalisme.

Sumber bacaan:
Prof. Dr. Usman Pelly
Dra. Asih Menanti, MS

Teori-Teori Sosial Budaya
Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenagan Kependidikan
Direktorat JendraL Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar